Seperti
hari-hari sebelumnya,aku selalu terlambat bangun pagi ini. Entah mengapa aku
sulit sekali bangun pagi akhir-akhir ini. Sehingga,aku juga sering meninggalkan
shalat Subuh,yang semestinya tidak boleh aku tinggalkan. Sebab,walau
bagaimanapun kita telah berjanji pada Tuhan untuk mengemban amanat shalat. Jadi
setelah kita menyanggupi amanat shalat tadi, apakah pantas kalau akhirnya kita
mengingkarinya? Sungguh suatu perbuatan yang semestinya tidak patut untuk
dilakukan.
Aku terkejut saat aku keluar dari
kamar,ada seseorang yang tidak aku kenal berdiri di depan pintu rumah dimana
aku tinggal. Seperti tahu kalau aku kaget,orang itu tersenyum dan menyapa
dengan sebuah pertanyaan,” Boleh saya masuk?”
”Ada apa pak,siapa bapak?” tanyaku
pada orang tersebut yang menurutku sudah pantas dipanggil bapak.
”Nanti saya jelaskan...”jawabnya
singkat.
”Baiklah,mari masuk pak.” Aku
segera mempersilahkan bapak itu untuk masuk ke dalam rumah. ”Silakan duduk
pak.”lanjutku. Bapak itu menuruti saja perintahku. Dia duduk di atas kursi
sambil melihat ke sekeliling ruangan tamu,seperti baru pertama kali masuk ke
rumahku dan menurutku memang inilah pertama kalinya dia masuk. Sebab selama aku
tinggal di rumah kost-kostan ini memang inilah pertama kalinya aku menerima kedatangan
tamu yang tidak aku kenal sebelumya.
”Maklum pak,rumah anak kost jadi
ya beginilah keadaannya.”
”Saya sudah tahu. Tapi meskipun
anak kost,kalau penghuniunya rajin,tentu tidak seperti ini keadaannya. Saya
lihat kamu baru bangun,dan pintu depan terbuka,apa teman-temanmu sudah pergi
kuliah saat kamu masih tidur?”
”Iya teman-temanku sudah pergi
saat aku masih tidur dengan nyenyak”jawabku jengkel. Sebab pagi-pagi kayak
gini,bapak ini sudah menceramahi aku.
”Kamu sendiri tidak masuk
kuliah?”tanyanya lagi.
”Aku masuk siang,pak!”
”Owh...gitu.”gumamnya.
”Terus bapak kesini ini ada perlu
apa?” tanyaku langsung ke pokok permasalahan. Entah mengapa aku ingin segera
tahu apa tujuan bapak asing ini,di samping aku sudah terlanjur tidak suka
dengan perangainya. Meski mungkin baik, tujuannya menasehati aku tapi memang
aku tidak suka.
”Apa tidak bisa lebih sopan kamu
bertanya pada saya? Tidak pernahkah kamu diajari sopan santun di lingkungan
keluargamu,atau setidak-tidaknya bagaimana cara memperlakukan tamu dengan
baik?”
”Ya..aku kan cuma mau tahu apa
maksud kedatangan bapak ke tempat aku ini..”jawabku pelan. Aku semakin geram
saja dengan kata-kata bapak itu.
”Sekarang, apa pantas juga saya
berbincang-bincang dengan kamu sementara kamu dalam keadaan kusut dan belum
mandi seperti itu?”
”Pak..aku itu baru mandi kalau mau
berangkat kuliah. Aku tidak terbiasa mandi pagi-pagi seperti ini.”
”Bagus... Memang seperti itulah
kebiasaan anak zaman sekarang. Selalu bisa saja berkilah saat dinasehati.
Lagipula jam berapa sekarang? Jam sepuluh kamu bilang masih pagi untuk mandi?”
”Baik pak...saya mandi sekarang!”
jawabku semakin jengkel. Aku berlalu begitu saja masuk kamar mengambil handuk
dan segera ke kamar mandi.
Di kamar mandi, aku
bernyanyi-nyanyi seperti biasanya saat aku mandi. Sengaja juga aku berlama-lama
di kamar mandi,dengan tujuan agar bapak itu bosan menunggu aku. Tapi aku segera
sadar, jangan-jangan bapak itu orang jahat yang akan mencuri sesuatu saat aku
sedang di kamar mandi. Aku segera bergegas dan lari-lari kecil menuju kamarku
yang tentu melewati ruang tamu. Aku sedikit lega, bapak itu masih tetap duduk
di tempat duduknya seperti tadi.
”Maaf pak sedikit lama.”sapaku
saat aku sudah ganti pakaian dan duduk di depannya. Aku berusaha bertingkah
lebih baik sekarang.
”Apa kamu selalu bernyanyi saat
berada di kamar mandi?” tiba-tiba saja bapak asing itu bertanya seperti itu.
Aku tahu jika aku jawab iya, pasti sudah ada sederet nasihat lagi yang akan
dilontarkan bapak itu kepadaku. Tetapi jika aku jawab tidak, sudah pasti bapak
itu juga tahu kalau aku berbohong.
”Ya...sebab aku akan merasa senang
sekali kalau aku sudah berteriak-teriak di kamar mandi untuk bernyanyi.”
”Senang?! Meski orang lain belum
tentu senang mendengar nyanyian kamu itu? Meski sebenarnya tidak dibenarkan
oleh nabi, kamu akan tetap senang?”
”Ya...aku tidak peduli entah orang
senang atau malah terganggu, aku tetap akan bernyanyi kalau aku mau. Satu hal, aku
bukan nabi yang bisa sempurna!”
”Egois ya kamu... tapi kamu juga
perlu tahu nak, nabi semata-mata bukanlah manusia yang sempurna, yang dengan
alasan kesempurnaan nabi, kita berpendapat tidak bisa mencontohnya.”
”Entahlah pak..bapak ini ngomong
apa, bapak kan tahu sendiri kalau aku ini memang manusia biasa. Yah...sudah
barang tentu banyak sekali kesalahan yang aku lakukan. Tetapi satu hal, aku
percaya kalau Tuhan itu maha penyayang.”
”Memang benar apa yang kamu
katakan. Tetapi sebagai manusia kita tidak sepantasnya hanya mengharap kasih
sayang dari Tuhan tanpa ada usaha untuk berbuat baik. Coba, apa pantas kalau
kita selalu berbuat salah, tetapi di akhir cerita kita mengharap kasih sayang
Tuhan. Ini sama artinya dengan bohong. Iya kalau Tuhan mengampuni kita,kalau
tidak!”
”Iya-iya..semua yang bapak katakan
benar adanya, pak...sekarang kasih saya kesempatan bertanya, tujuan bapak
kemari ini ada perlu apa ya?”
”Saya akan selalu datang untuk
menasehati kamu...”
”Apakah bapak seorang penasehat
atau semacam pendakwah?”
”Lebih dari itu...”jawabnya
singkat.
”Maksudnya pak...?”
”Suatu saat kamu akan tahu...”
”Kenapa aku yang bapak
nasehati,apakah bapak tidak punya anak sendiri?”
”Indranov...bangun, aku mau pergi
rumah tidak ada yang jaga.Teman-teman sudah pergi ke kampus
semuanya...”tiba-tiba saja suara Rudi membangunkan tidurku. Aku binggung.
Kulihat jam, pukul setengah delapan.
”Pergilah...aku dah bangun.”
jawabku.
Aku ke kamar mandi untuk cuci muka,saat
pintu rumah tiba-tiba ada yang mengetuknya. ”Tunggu bentar...”teriakku. Aku
heran, pagi-pagi gini kok ada yang bertamu, siapa ya pikirku? Aku masih ingat dengan jelas mimpiku barusan.
Tapi sayang, mimpiku tadi belum selesai, Rudi sudah membangunkan aku. Aku jadi
ragu, jangan-jangan orang yang mengetuk pintu barusan adalah orang yang datang
dalam mimpiku?
Kubuka pintu pelan-pelan. Aku
keluar, tapi tidak ada siapa-siapa di luar. Aku takut, namun tidak tahu apa
penyebab rasa takutku itu. Aku yakin ini
semua pasti ada kaitannya dengan mimpiku barusan. Aku kembali masuk ke dalam
rumah. Aku merasa lapar sekali pagi ini. Aku ingin masak saja. Segera aku ke
dapur, tapi tidak ada sesuatu yang bisa di masak. Aku memutuskan untuk ke
pasar.
Setelah semua pintu rumah aku
kunci, aku mencari angkutan umum yang menuju ke pasar. Tidak sulit mencarinya
karena rumahku di dekat jalan dan angkot selalu lewat di depan rumahku.
Aku benar-benar terkejut saat naik
ke angkot. Salah satu penumpang angkot itu adalah bapak yang tadi hadir dalam
mimpiku. Aku ingin saja langsung bertanya siapa sebenarnya bapak ini, tetapi
aku malu pada penumpang yang lain. Diam-diam aku berencana untuk mengikuti saja
kemana perginya bapak itu.
Di jalan Setia Budi bapak itu
turun. Akupun ikut turun. Bapak itu menghadang angkot lain jurusan Hang Tuah.
Aku juga naik ke angkot itu. Beberapa menit kemudian sampailah kami di suatu tempat
yang aku belum tahu tempat itu sebelumnya. Tetapi yang jelas adalah pemakaman
umum. Aku belum tahu apa yang akan dilakukan oleh bapak itu di pemakaman. Bapak
itu mencari-cari salah satu kuburan di antara ribuan kuburan yang berjejer rapi
di pemakaman itu. Setelah mendapatkan apa yang dicari, bapak itu duduk terfekur
di samping kuburan itu. Aku mendekat.
”Kenapa secepat ini kau pergi
nak...Belum sempat ayah membahagiakan engkau...belum sempat ayah memberikan apa
yang kau minta...belum sempat engkau menyelesaikan pendidikanmu...belum sempat
engkau mengapai cita-citamu engkau sudah pergi...kenapa nak...kenapa secepat
ini? Ini semua seperti mimpi bagi ayah nak... Ayah masih ingat saat ayah
membentak engkau karena engkau tidak mau kuliah...ayah menyesal karena tidak
bisa membelikan motor buat kuliah engkau..ayah menyesal nak..”suara lirih bapak
itu meratapi nasibnya membuat aku ikut larut dalam kesedihan yang mendalam. Aku
tahu bapak itu baru saja kehilangan anak yang sanggat dicintainya.
”Sabar pak...relakan kepergianya
pak...biarkan ia tenang di sana...” aku berusaha menghibur bapak itu.
”Eh...si..si..siapa kamu?” Bapak
itu kaget akan kehadiranku disampingnya. Dia tidak menyadari kalau aku
mengikuti dia dari tadi.
”Bapak kan yang hadir dalam
mimpiku?”aku balik bertanya.
”Hadir dalam mimpi kamu? Apa
maksudnya, saya tidak mengerti.”
”Oh...enggak kok pak.
Pak, dia anak bapak?” aku mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk nama yang
tertulis di batu nisan tersebut.
“Ya...Putra
satu-satunya anak saya yang meninggal karena sakit. Aku menyesali semua ini.
Kenapa saat sakit tidak saya obatkan. Saya sanggat menyesal sekali.”
”Tidak ada yang perlu disesalkan
pak, semua itu sudah kehendak Tuhan. Putra milik Allah, kapan Allah memanggil
dia, saat itu pula kita harus merelakannya. Pak..memang Putra sakit apa pak?”
”Dia sakit demam berdarah.
Iya...bapak tahu, kapan Allah memanggil dia memang kita harus rela, tapi yang
bapak sesalkan, kenapa saat dia sakit tidak bapak bawa ke dokter? Itu yang
bapak sesalkan. Semua ini memang salah bapak. Semua ini karena kebodohan
bapak.”
”Sudah pak...jangan menyalahkan
diri sendiri.”
”Bagaimana saya tidak menyalahkan
diri saya sendiri. Saya yang waktu itu bersikeras untuk tidak membawanya ke
dokter. Sebab saya rasa semua penyakit itu dari Allah,dan hanya Allah yang bisa
menyembuhkannya.”
”Benar yang bapak katakan, tapi
pak bukan berarti saat kita sakit kita tidak berusaha menyembuhkannya dengan
berobat, kita tidak boleh begitu pak. Allah akan menyembuhkan penyakit kita,
kalau kita ada usaha untuk itu. Mungkin bapak juga sependapat dengan, lebih
baik makan menggunakan tangan daripada sendok, sebab kita sudah diberi tangan
oleh Tuhan. Lebih baik berjalan kalau kemana-mana, tidak usah naik kendaraan
sebab kita sudah diberi kaki. Kalau memang begitu tidak usah lagi kita
menggunakan pikiran kita untuk berpikir, sebab nanti hasil pemikiran manusia
dikatakan menyeleweng dari agama.” Entah mengapa aku tiba-tiba saja aku ngomong
seperti itu pada bapak tersebut. Aku seperti merasa, kembali berdebat dengan
bapak ini seperti dalam mimpi tadi.
”Itulah...nak, kemarin-kemarin
seperti itu pemikiran bapak. Tapi kini bapak sadar. Tetapi semakin bapak sadar,
semakin besar rasa penyesalan bapak. Kalau sudah begini, lebih baik bapak
menyusul Putra saja.”
”Jangan ngomong gitu pak.”
”Putra satu-satunya anak yang saya
miliki, tapi kini sudah pergi, itu berat sekali bagi saya. Saya merasa belum
banyak berbuat untuk membahagiakan dia. Dia sebenarnya anak yang penurut dan
sayang pada orang tua. Cita-citanya adalah menghajikan kami kalau dia sudah
menjadi orang yang sukses.”
”Cita-cita yang mulia ya
pak...”aku ikut menabur-naburkan bunga di atas pusara kuburan Putra. ”Pak...kalau
boleh tahu nama bapak siapa, tinggal dimana? Siapa tahu kalau ada waktu saya bisa
singgah ke rumah bapak.”
“Tidak perlu nak…kamu tidak perlu
tahu siapa saya, sebab saya setelah ini akan pindah jauh...”
”Tapi pak...”
”Tidak nak...saya tidak akan
menjawabnya. Saya akan semakin sedih kalau melihat kamu, sebab seumuran kamulah
anak saya...”
”Baiklah pak...saya mengerti, tapi
pak kalau bapak pindah jauh dari sini, siapa yang akan menziarahi kuburan anak
bapak ini?”
”He.......Bangun....bangun...
bangun...jam berapa ini, tiduuuur aja kamu nech!!!” suara lantang Suratno
membangunkan aku. Aku mengusap-usap mataku yang terasa gelap. Aku heran. Masih
mimpikah aku barusan? Aku cubit tanganku. Sakit. Oh sekarang aku dah bangun,
dan di kuburan tadi...? Oh Tuhan,aku mengalami mimpi sampai dua kali. Aku
berusaha kembali mengingat-ingat kronologis mimpiku itu. Tapi...
”Bangun...bangun...bangun...bikin-bikin
masakan sana ngapa kamu...”kembali Suratno mengkagetkan lamunanku. Buyar lagi
dech...segalanya.
”No..yang laen dah ke kampus
yach?”
”Yoi... kamu sih tidur gak pake
bangun-bangun, kok kamu pules kali tidurnya Nov,mimpi apa sich?”
”Aku mimpi aneh No, mimpiku itu sampai dua
sesi pula. Nantilah aku certain, sekarang aku mau mandi dulu, baru masak…aku
lapar nech…”
“Terserah
kamu…”
Selesai
mandi dan bikin masakan, aku lihat Suratno malah tidur, padahal aku mau
mengajaknya makan. EGP, aku makan duluan. Kemudian aku menghidupkan computer
dan mulai mengetikkan apa yang barusan aku alami di dunia mimpi tadi. Kini aku
tahu, saat Rudi membangunkan aku tadi, aku bukannya langsung bangun, tetapi aku
kembali tidur…oh..
THE END