Jumat, 16 Desember 2011

PERASAAN TAKUT YANG ANEH


Sudah sejak lama aku mengalami hal ini. Aku tidak tahu perasaan takut apa yang selama ini aku rasakan. Tapi sebelumnya, perasaan ini entah pantas disebut takut entah enggak. Aku juga tidak begitu tahu sejak kapan perasaan seperti ini bermula. Lebih jelasnya akan aku gambarkan perasaan yang aku rasakan ini.
          Saat aku melihat sumur atau sesuatu yang dalam seperti sungai, parit dengan air yang mengalir deras, danau, bahkan laut, pikiranku akan bekerja untuk menyuruh diriku sendiri melakukan hal yang konyol dan bodoh. Hal yang bodoh dan konyol ini adalah ingin memasukkan sesuatu benda yang aku punya seperti Arloji, HP, kontak motor, atau apapun yang sedang aku pegang saat itu, ke tempat-tempat tersebut. Pikiranku bekerja, masukkan saja..atau lempar saja ke situ..tapi pikiran yang lain masih sadar dan melarangku, hingga aku tidak jadi memasukkan benda-benda tersebut. Saat berpikir seperti itu, aku akan merasa ketakutan akan akibat yang akan terjadi apabila aku benar-benar melakukan hal itu. Misalnya saja aku sedang berada di pinggir sungai dan memegang kontak motor, maka secara otomatis pikiranku menyuruh melemparkan kontak motorku itu ke dalam sungai, kemudian aku membayangkan, kontak  motorku sudah benar-benar aku lemparkan, kini aku benar-benar kehilangan kontak motor, aku tidak bisa pulang membawa motorku, aku terpaksa harus mencari ahli kunci..oh..sungguh benar-benar bodoh perbuatanku itu. Contoh lainnya adalah saat aku sedang mandi di kamar mandi dan membawa HP, secara otomatis pikiranku menyuruhku memasukkan HP tersebut ke dalam bak mandi. Aku ingin melihat hal itu, dan memastikan Hpku kini sudah rusak. Sungguh bodoh. Contoh lain yang lebih berbahaya adalah, saat aku sedang berjalan-jalan di suatu mall dan berada di lantai yang tinggi, saat aku melihat ke lantai bawah, bukan hanya benda yang sedang aku pegang yang ingin aku buang ke bawah, tetapi justru aku yang membayangkan apa yang akan terjadi jika aku yang terjun ke bawah. Bukan sekali dua kali aku berpikir seperti itu, tapi setiap saat, saat sedang berada di bangunan yang tinggi. Ini benar-benar gila. Saat memegang kertas jawaban tugas kuliah yang aku kerjakan dengan tulisan tangan, aku ingin saja merobek kertas itu dan menyaksikan apa yang akan terjadi. Aku membayangkan, aku harus menulisnya lagi dari awal. Sungguh konyol.
          Sebenarnya masih banyak hal-hal konyol yang selama ini selalu hinggap dipikiranku saat aku sedang melakukan sesuatu dan sedang berada di tempat-tempat tertentu. Aku sebenarnya takut. Karena kadang-kadang aku juga memegang suatu benda yang berbahaya, dan pikiran konyol itu muncul. Yang lebih menakutkan, saat aku memegang benda tajam seperti pisau, pikiran anehku terkadang menyuruhku menusukkan pisau tersebut ke diriku sendiri, atau mencoba menusukkan ke orang yang sedang berada di dekatku. Semua itu hanya bayangan saja sih, tapi tetap saja itu menakutkan. Aku hanya membayangkan, apa nanti yang terjadi ya seandainya itu aku lakukan? Pasti nanti orang tersebut terluka atau bahkan mati dan aku dipenjara. Setelah berpikir begitu, aku sadar dan tidak melakukannya. Sungguh gila.
          Saat menggendarai sepeda motor, aku juga berpikir gila. Aku ingin sekali menabrakkan motorku yang sedang aku kendarai ke mobil yang lewat. Tapi saat sadar, itu hanya pikiran bodoh, dan aku tidak akan melakukannya. Aku masih takut akibat yang akan menimpaku jika itu kulakukan. Bagaimana kalau aku mati? Bagaimana kalau kakiku patah? Setelah berpikir begitu, baru aku tidak melakukannya.
          Untungnya, Alhamdulillah semua itu tidak pernah atau belum aku lakukan. Rasa takutku masih jauh lebih besar. Semua itu hanyalah bayangan-bayangan konyol belaka yang tidak ingin aku lakukan pada kenyataanya. Tetapi terkadang, pikiran seperti itu sangatlah menyiksaku. Aku tidak bisa berlama-lama di pinggir sungai dengan memegang suatu benda. Atau untuk mencegahnya, aku akan menyembunyikan benda-benda tersebut agar tidak aku pegang dan aku lemparkan. Misalnya aku masukkan ke dalam saku celana.
          Yang menjadi pikiranku, andai semua itu aku lakukan tentulah aku bukan menjadi Luthfimawahib yang selama ini. Aku bisa menjadi orang yang sadis dan mengerikan, atau orang yang selalu depressi. Sungguh aneh. Untungnya aku masih bisa mencegah itu semua. Entahlah ini jenis penyakit jiwa yang bagaimana, aku juga tidak tau..hehehe.. Mungkin orang psikologi yang tau. Yang bisa aku lakukan selama ini hanyalah mencegahnya dan mencegahnya. Aku juga sama sekali tidak mau memberi kesempatan pikiran aneh tersebut dalam kenyataan. Andai suatu saat ia (pikiran konyol) tersebut benar-benar terrealisasi, entahlah..aku berarti sudah tidak bisa mencegahnya. Dan jika pikiran-pikiran aneh lainnya yang selama ini bersarang di pikiranku, satu persatu sudah terrealisai, tidak taulah..berarti akibat yang akan terjadi, juga akan terjadi. Bisa saja kematianku terjadi diantara yang sudah aku jelaskan sebelumnya. Kematian yang konyol.
Yang bisa aku lakukan selain mencegahnya adalah aku harus selalu berpikir jernih dan positif. Selalu mengingat Allah kapanpun dan dimanapun. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan diri ini.
Based of true story of Luthfimawahib
         

Rabu, 14 Desember 2011

Nano-Aku Bukan Malaikat

setiap bicara kepadamu tak pernah kau dengar
jawab seadanya dan penuh makna
kau melewatkanku, katakan salahku


aku bukan malaikat selalu di sampingmu
mendengar semua hasrat di hatimu
dan tak perlu bicara dan aku harus tahu

ku hanya manusia yang takkan bisa trus mengertimu
dan bila engkau mengira
ku tak mencoba, hentikanlah nafasku
dan kau pun menghilang tanpa tunjukkan salahku

* aku bukan malaikat selalu di sampingmu
mendengar semua hasrat di hatimu
dan tak perlu bicara dan aku harus tahu
apa yang kau mau

** bila aku bisa selalu di sampingku
kan ku lakukan semua apa yang kau minta
kan ku genggam dunia hanya untukmu
takkan ku lepas selamanya
kan ku genggam dunia hanya untukmu
takkan ku lepas selamanya

Ibu Tiri

Jakarta - Selama ini ibu tiri kerap divisualisasikan sebagai sosok yang kejam dan jahat. Namun kenyataannya, cukup banyak dari mereka yang memiliki kisah sedih, mulai dari ditolak anak tiri sampai tidak dibela suaminya. Inilah kisah sedih mereka.

Kisah sedih para ibu tiri ini dirangkum oleh Joanna Collie dalam bukunya 'From Mother To Stepmother'. Seperti dikutip dari Mail Online, dalam menulis bukunya itu, ia mewawancarai setidaknya 24 orang lebih wanita yang kini menjadi ibu tiri.

Salah satu wanita tersebut adalah Alison Shelton. Alison menikah dengan Bruce. Dari pernikahan sebelumnya, ia memiliki dua anak, sedangkan Bruce, satu anak.

Sejak anak Bruce, Matt (12 tahun), menyatakan ingin tinggal bersama mereka, Alison bertekad menghapus stereotipe ibu tiri yang terkesan jahat. "Aku tahu tentang kisah Cinderella dan ibu tirinya yang kejam. Tapi aku ingin keluarga yang menyatu dan bahagia, di mana Matt dan anak-anakku bisa akrab," ujarnya.

Saat Alison berusaha mewujudkan keinginannya itu, Matt justru membuat situasi menjadi sulit. Anak itu hanya mau bersama sang ayah.

"Anak-anakku jadi melihat Matt dan ayahnya (suami Alison) sebagai pesaing mereka untuk mendapatkan perhatianku," tuturnya.

Liburan pun dilakukan dengan harapan bisa menyatukan anak-anak pasangan itu. Namun ternyata Matt tetap menunjukkan sikap yang sama.

"Matt dengan jelas mengatakan dia mau pergi mancing dengan ayahanya, sementara aku menghabiskan waktu seharian bersama anak-anakku di pantai," keluhnya.

Saat itu, Alison ingin sekali mengeluarkan sisi jahatnya. Ia merasa Matt ingin merusak kehidupannya dengan Bruce. Apalagi suaminya sama sekali tidak memberi dukungan dan justru memihak Matt.

"Aku memasak seperti biasanya untuk anak-anak dan dia dengan gampang bilang 'aku tidak suka'. Bruce kemudian menyuruhku membuatkan makanan yang lain untuk Matt dan aku menolak. Saat itu aku merasa akulah orang yang jahat," urai Alison.

Joanna dalam bukunya menjelaskan, apa yang dialami Alison itu juga dirasakan banyak ibu tiri lainnya. Menjadi ibu tiri memang perlu perjuangan yang tidak mudah.

Joanna sendiri mengalami hal itu. Ia menjadi ibu tiri dari seorang anak perempuan saat menikah dengan Paul. Ia sendiri juga seorang ibu dari satu orang putri.

Kehidupan keluarga itu mulai berjalan tidak baik saat mereka semua tinggal serumah. Dua anak perempuan yang diharapkan Joanna bisa akur, justru tidak saling bicara dan menghindar. Kondisi semakin memburuk, saat ia harus membedakan tempat menaruh kebutuhan sehari-hari.

"Menaruh susu di lemari es nya seolah-olah membuatku merasa melakukan pelanggaran," ujar Joanna. "Aku merasa aku harus permisi dulu untuk menggunakan microwave mereka, meskipun aku menggunakannya untuk membuatkan mereka makanan," tambahnya.

Enam bulan pertama setelah tinggal bersama keluarga barunya, Joanna merasa shock. Ia tidak menyangka anaknya dan anak suaminya ingin menjadikan keluarga baru mereka tercerai-berai.

Kesulitan dalam membangun keluarga bahagia di pernikahan keduanya itu tidak datang dari anak tirinya saja. Menurutnya, seorang ibu tiri juga kerap merasa mereka mengkhianati anak kandungnya sendiri.

Joanna mengatakan, putrinya merasa ibunya tidak lagi mau menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, demi menyatukan keluarga barunya. "Dia memutuskan tidak bicara denganku, berkomunikasi melalui notes yang ditulisnya di Post-it," tuturnya lagi.

Selama tiga tahun pertama pernikahannya dengan Paul, Joanna harus menjalani masa sulit itu. Dia harus berada di antara putrinya dan suami barunya.

"Menyatukan dua pihak memang tidak akan terjadi dalam semalam. Butuh waktu lama. Dalam kasusku, anak-anak kami mulai akhirnya mau menyatu saat mereka remaja. Mereka akhirnya bisa akrab saat mulai menjadi orang dewasa muda," ucapnya panjang lebar.

Sayangnya tidak semua keluarga bisa bertahan lama seperti Joanna dan Paul. Menurut Joanna, ketegangan antara pasangan orangtua baru itu dengan anak-anaknya cukup bisa menghancurkan pernikahan. Dari pengamatannya, penolakan anak yang konstan dan keberpihakan, bisa mempengaruhi kehidupan pasangan tersebut.

Dari lusinan ibu tiri yang diwawancarainya, ia melihat di dua tahun pertama aktivitas seks jauh menurun menjadi 1-3 kali saja dalam sebulan. Semua tekanan itu pada akhirnya bisa membuat wanita yang tadinya tidak mau jadi ibu tiri jahat, mengeluarkan sisi buruknya.

"Cinderella bertanggungjawab akan hal ini. Ribuan anak-anak tumbuh dengan kepercayaan ibu tiri itu kejam. Sehingga dalam kehidupan nyata, kami ibu tiri jadi sulit, meskipun sebenarnya ingin menghapus stereotipe itu," tandas Joanna.


(eny/kik)

Minggu, 11 Desember 2011

Tentang Hantu

Bicara masalah Hantu, ah..sama sekali tidak membuatku takut. Bukan sombong atau apa, sejak dari  kecil di lingkungan keluargaku, sudah ditanamkan suatu pengertian bahwa Hantu itu tidak ada. Akan tetapi sebagai manusia biasa, tentu aku tetap memiliki rasa takut, namun rasa takutku ini tentu tidak berlebihan, aku hanya akan takut saat malam hari melewati Kuburan, karena menurutku, walau bagaimanapun Kuburan itu tempat orang-orang yang sudah meninggal, kita juga percaya ada siksa kubur, mungkin itu yang membuatku takut. Aku bukan takut karena di kuburan itu ada Hantu, bukan, sama sekali bukan itu yang aku takutkan.

Aku prihatin mengetahui bahwa banyak orang percaya Hantu. Aku juga sedih banyak orang yang percaya hal-hal mistis. Padahal kita juga tau, hal-hal seperti itu adalah syirik, dan Allah tidak mengampuni dosa syirik. Entahlah aku juga bingung. Aku sama sekali tidak menyalahkan orang yang pernah mengalami kejadian mistis di luar jangkauan akal sehat, katanya. Bisa saja yang dia alami itu adalah benar, maksudnya memang dia merasa mengalami hal itu. Tapi aku tidak percaya kalau yang dialaminya itu terus kita simpulkan hal mistis, pasti ada pemecahan yang rasional di dalamnya. Misalnya saja ada seorang teman bercerita dia pernah dijumpai Hantu, dan dia benar-benar ketakutan. Tentu aku mempercayai apa yang dia alami tersebut, belum tentu dia bohong, karena dia merasa benar telah mengalami hal itu. Yang tidak aku percaya adalah, belum tentu yang menjumpai dia itu adalah Hantu. Bisa saja saat itu, si teman saya dalam keadaan kesehatannya kurang baik, atau sebenarnya dia sedang berhalusinasi, atau mungkin bisa saja sebenarnya dia bermimpi, tapi menurutnya dia tidak bermimpi. Pernah terpikir tidak, kenapa biasanya yang bisa melihat Hantu adalah hanya satu orang, padahal sebenarnya saat itu dia sedang bersama teman-temannya? Kenapa saat bersamaan, teman-temannya tidak melihat? Jelas karena memang hal tersebut bukan Hantu. Artinya apa? Yang merasakan hal tersebut hanyalah satu orang, dan orang ini, bisa jadi adalah orang yang sangat takut, pikiran dia sudah kacau, jadi apapun yang dilihatnya bisa saja berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan, dan dia menyimpulkan itu adalah Hantu.

Aku  menjadi ingat, ada seorang anak kecil tetanggaku sedang mengantarkan sesuatu ke tetangganya. Waktu itu malam hari. Suasana juga gelap. Dia ditemani keponakannya yang juga masih kecil. Waktu jalan pulang, di pinggir jalan, mereka melihat sesuatu yang menyeramkan, 'makhluk' tersebut memiliki mata yang bernyala, tentu saja mereka ketakutan dan berlari terbirit-birit.. Keesokan harinya, mereka memastikan apa benar ada Hantu di tempat tersebut. Dan alangkah terkejutnya mereka, rupanya yang mereka lihat adalah batang kayu mati dan ada jamur yang hidup disitu. Jamur tersebut memang bernyala saat malam hari. Mereka sadar, bukan Hantu yang mereka lihat malam itu.

Kelihantannya cerita di atas sedikit konyol, tapi itu adalah salah satu contoh, bahwa bukan Hantu yang menakuti kita, tetapi perasaan kita sendiri yang menciptakan Hantu. Bisa kita banyangkan, sebenarnya kejadian tersebut banyak sekali dialami oleh orang, cuma saja tentu berbeda bentuk dan proses kejadiannya. Masih mending tetangga saya itu mencari tahu kebenarannya dan mendapatkan jawabannya. Coba yang dialami oleh orang lain, jika mereka tidak mendapatkan jawaban, tentu secara otomatis mereka akan menganggap hal itu adalah Hantu. Ah..lagi-lagi Hantu dijadikan kambing hitam.

Lalu, Hantu itu apa? Menurutku, Hantu tidak lebih dari kreasi manusia. Hantu itu buatan manusia. Kenapa aku mengatakan begitu, coba kita pikir, kalau Hantu bukan buatan manusia, lalu kenapa setiap daerah memiliki jenis dan nama Hantu yang berbeda-beda. Jelas disini, Hantu sama halnya hasil budaya manusia. Kita tahu, setiap daerah memiliki budaya masing-masing, dan tepat sekali, Hantu juga mirip dengan budaya. Enggak percaya, di Cina ada Vampir, di Amerika Zombie, trus di Indonesia ada Kuntilanak. Bahkan di satu negara saja ada bermacam-macam jenis dan bentuk Hantu. Enggak usah jauh-jauh, di Indonesia ada banyak jenis, bentuk, dan nama Hantu.. Siapa yang tidak tahu kalau Indonesia memiliki berbagai macam budaya, oleh karena itu, Hantunya juga macam-macam. Mungkin ada yang membantah, ya jelas donk, kan masing-masing daerah memiliki bahasa masing-masing, tentulah berbeda. Saya jawab, memang nama Allah itu sendiri berbeda ya disetiap daerah? Siapapun dan dimanapun orang yang beragama Islam, akan mengatakan kalau Tuhan mereka adalah Allah, karena memang Allah bukan buatan manusia. Lagipula, bukan hanya beda nama Hantu loh yang saya maksudkan, tapi ini masing-masing daerah juga berbeda bentuk dan sifat Hantunya.

Satu hal lagi, aku sangat prihatin akan siaran televisi yang menayangkan kisah-kisah tentang Hantu. Sungguh, hal ini yang benar-benar merusak cara pandang orang. Orang menjadi percaya kalau Hantu itu ada. Aku juga sangat benci oleh orang-orang yang sok pintar dan mengaku bisa melihat hal gaib dan masa depan, seperti Dukun, Paranormal dan sejenisnya. Sungguh, aku sangat benci oleh mereka. Mereka tidak lebih dari seorang penipu dan pembohong. Jelas, itu semua karena mereka memang butuh uang, makanya begitu, atau mereka ingin dianggap orang hebat dan ingin terkenal. 

Bukankah kita sudah tau kalau Al-Qur'an menjelaskan kalau tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mengetahui perkara gaib??? Jadi kalau pembaca sekalian mempercayai orang-orang yang banyak bercerita kalau mereka bisa melihat sesuatu yang gaib, masa depan..pembaca sekalian sedang ditipu oleh orang-orang tersebut. Emang enak ditipu dan kehilangan uang? Kalaupun toh terkadang apa yang mereka ucapkan itu terkadang benar-benar terjadi, kita harus yakin itu hanyalah kebetulan, juga apa pembaca sadari, jangan-jangan  'kebetulan' disitu justru adalah cobaan dari Allah swt? Allah menguji kita, bagaimana tingkat kepercayaan kita kepada orang-orang tersebut, jangan-jangan kita benar-benar semakin percaya saja, dan kalau hal ini terjadi, nauzubillah..kita benar-benar jatuh ke lembah kesyirikan. Sebagai contoh, pawang hujan. Langit yang tadinya benar-benar mendung mau hujan, setelah dimantrai oleh pawang hujan, ternyata tidak jadi hujan. Langit kembali cerah. Hmm..siapa sangka itu adalah ujian Allah? Allah menguji kita, gimana kepercayaan kita kepada pawang hujan itu? Kita tahu, yang menjadikan mendung, kemudian tidak  hujan hanyalah Allah semata, bukan pawang hujan.. Jadi disinilah sebenarnya keimanan kita diuji. Pawang hujan sama sekali tiada daya upaya melakukan itu semua. 

Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang-orang yang begitu, yang selalu mengkambing hitamkan Hantu yang sebenarnya tidak ada, dan orang-orang yang percaya pada orang-orang yang mengaku bisa melihat perkara gaib. Amien.. Oke lain kali aku sambung lagi ya...





Film: Pembunuh Terakhir


Bikin Film Itu Susah Tapi Menyenangkan

Tadi ada seorang teman mengirimkan link videonya yang diunggah di Youtube. Aku kemudian ingat saat dulu sekitar Juli tahun lalu(2010) sempat membuat film amatiran. Judulnya juga agak aneh, "Pembunuh Terakhir" untuk melihat videonya bisa klik disini. Waktu itu proses pembuatan filmnya juga sama sekali tidak dipersiapan dengan baik. Dan yang lebih lucunya, pengambilan videonya menggunakan Laptop. Bisa dibayangkan, kami menyediakan beberapa Laptop untuk membuat film tersebut. Akan tetapi, rupanya menggunakan beberapa Laptop kurang efektif. Salah satunya harus mengcopy file videonya terlebih dahulu ke satu Laptop yang memiliki aplikasi pengedit video. Akhirnya dengan ketekunanku, aku memakai satu Laptop saja yang waktu itu memiliki kualitas gambar yang bagus untuk merekam video.
 
Mungkin kita yang selama ini hanya sebagai penonton, tidak pernah membayangkan proses pembuatan film itu seperti apa. Saat kita membuat suatu film, meski amatiran, mau tidak mau kita harus mempelajari bagaimana pembuatan film itu sendiri. Tidak perlu muluk-muluk, yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana agar film yang kita buat itu benar-benar hidup, tidak monoton dan pantas untuk dilihat dalam artian tidak aneh, nah salah satunya adalah proses pengambilan gambar dari berbagai sudut/angle. Bisa pembaca bayangkan, yang waktu itu proses perekamamnya menggunakan Laptop, tapi harus dituntut merekam dari berbagai angle. Itulah yang paling susah dan harus membutuhkan ketelatenan, belum lagi adegan-adegan salah dari pemain film yang harus dicut. 

Akan tetapi, sebenarnya tidak ada sesuatu yang susah kalau kita mau terus berusaha dan terus belajar. Dalam pembuatan suatu film, kerjasama antar kru film itulah yang terpenting, apalagi jika kita membuat suatu film hanya sekedar untuk menuangkan kesenangan dan hobi semata. Seperti halnya aku dan teman-temanku waktu itu, membuat film hanya untuk hiburan belaka, sehingga juga tidak ada yang menggaji. Tapi dari situlah bisa kita dapatkan suatu kepuasan tersendiri, apalagi setelah filmnya sudah jadi dan bisa kita tonton. Yang lebih serunya, saat adegan-adegan yang salah kita putar ulang, hmmm..itu yang paling lucu..kadang bisa tertawa ngakak saat melihatnya..







Jumat, 09 Desember 2011

Cerpen: Dream


Seperti hari-hari sebelumnya,aku selalu terlambat bangun pagi ini. Entah mengapa aku sulit sekali bangun pagi akhir-akhir ini. Sehingga,aku juga sering meninggalkan shalat Subuh,yang semestinya tidak boleh aku tinggalkan. Sebab,walau bagaimanapun kita telah berjanji pada Tuhan untuk mengemban amanat shalat. Jadi setelah kita menyanggupi amanat shalat tadi, apakah pantas kalau akhirnya kita mengingkarinya? Sungguh suatu perbuatan yang semestinya tidak patut untuk dilakukan.
             
              Aku terkejut saat aku keluar dari kamar,ada seseorang yang tidak aku kenal berdiri di depan pintu rumah dimana aku tinggal. Seperti tahu kalau aku kaget,orang itu tersenyum dan menyapa dengan sebuah pertanyaan,” Boleh saya masuk?”
              ”Ada apa pak,siapa bapak?” tanyaku pada orang tersebut yang menurutku sudah pantas dipanggil bapak.
              ”Nanti saya jelaskan...”jawabnya singkat.
              ”Baiklah,mari masuk pak.” Aku segera mempersilahkan bapak itu untuk masuk ke dalam rumah. ”Silakan duduk pak.”lanjutku. Bapak itu menuruti saja perintahku. Dia duduk di atas kursi sambil melihat ke sekeliling ruangan tamu,seperti baru pertama kali masuk ke rumahku dan menurutku memang inilah pertama kalinya dia masuk. Sebab selama aku tinggal di rumah kost-kostan ini memang inilah pertama kalinya aku menerima kedatangan tamu yang tidak aku kenal sebelumya.

              ”Maklum pak,rumah anak kost jadi ya beginilah keadaannya.”
              ”Saya sudah tahu. Tapi meskipun anak kost,kalau penghuniunya rajin,tentu tidak seperti ini keadaannya. Saya lihat kamu baru bangun,dan pintu depan terbuka,apa teman-temanmu sudah pergi kuliah saat kamu masih tidur?”
              ”Iya teman-temanku sudah pergi saat aku masih tidur dengan nyenyak”jawabku jengkel. Sebab pagi-pagi kayak gini,bapak ini sudah menceramahi aku.
              ”Kamu sendiri tidak masuk kuliah?”tanyanya lagi.
              ”Aku masuk siang,pak!”
              ”Owh...gitu.”gumamnya.
              ”Terus bapak kesini ini ada perlu apa?” tanyaku langsung ke pokok permasalahan. Entah mengapa aku ingin segera tahu apa tujuan bapak asing ini,di samping aku sudah terlanjur tidak suka dengan perangainya. Meski mungkin baik, tujuannya menasehati aku tapi memang aku tidak suka.
              ”Apa tidak bisa lebih sopan kamu bertanya pada saya? Tidak pernahkah kamu diajari sopan santun di lingkungan keluargamu,atau setidak-tidaknya bagaimana cara memperlakukan tamu dengan baik?”
              ”Ya..aku kan cuma mau tahu apa maksud kedatangan bapak ke tempat aku ini..”jawabku pelan. Aku semakin geram saja dengan kata-kata bapak itu.
              ”Sekarang, apa pantas juga saya berbincang-bincang dengan kamu sementara kamu dalam keadaan kusut dan belum mandi seperti itu?”
              ”Pak..aku itu baru mandi kalau mau berangkat kuliah. Aku tidak terbiasa mandi pagi-pagi seperti ini.”
              ”Bagus... Memang seperti itulah kebiasaan anak zaman sekarang. Selalu bisa saja berkilah saat dinasehati. Lagipula jam berapa sekarang? Jam sepuluh kamu bilang masih pagi untuk mandi?”
              ”Baik pak...saya mandi sekarang!” jawabku semakin jengkel. Aku berlalu begitu saja masuk kamar mengambil handuk dan segera ke kamar mandi.

              Di kamar mandi, aku bernyanyi-nyanyi seperti biasanya saat aku mandi. Sengaja juga aku berlama-lama di kamar mandi,dengan tujuan agar bapak itu bosan menunggu aku. Tapi aku segera sadar, jangan-jangan bapak itu orang jahat yang akan mencuri sesuatu saat aku sedang di kamar mandi. Aku segera bergegas dan lari-lari kecil menuju kamarku yang tentu melewati ruang tamu. Aku sedikit lega, bapak itu masih tetap duduk di tempat duduknya seperti tadi.

              ”Maaf pak sedikit lama.”sapaku saat aku sudah ganti pakaian dan duduk di depannya. Aku berusaha bertingkah lebih baik sekarang.
              ”Apa kamu selalu bernyanyi saat berada di kamar mandi?” tiba-tiba saja bapak asing itu bertanya seperti itu. Aku tahu jika aku jawab iya, pasti sudah ada sederet nasihat lagi yang akan dilontarkan bapak itu kepadaku. Tetapi jika aku jawab tidak, sudah pasti bapak itu juga tahu kalau aku berbohong.
              ”Ya...sebab aku akan merasa senang sekali kalau aku sudah berteriak-teriak di kamar mandi untuk bernyanyi.”
              ”Senang?! Meski orang lain belum tentu senang mendengar nyanyian kamu itu? Meski sebenarnya tidak dibenarkan oleh nabi, kamu akan tetap senang?”
              ”Ya...aku tidak peduli entah orang senang atau malah terganggu, aku tetap akan bernyanyi kalau aku mau. Satu hal, aku bukan nabi yang bisa sempurna!”
              ”Egois ya kamu... tapi kamu juga perlu tahu nak, nabi semata-mata bukanlah manusia yang sempurna, yang dengan alasan kesempurnaan nabi, kita berpendapat tidak bisa mencontohnya.”
              ”Entahlah pak..bapak ini ngomong apa, bapak kan tahu sendiri kalau aku ini memang manusia biasa. Yah...sudah barang tentu banyak sekali kesalahan yang aku lakukan. Tetapi satu hal, aku percaya kalau Tuhan itu maha penyayang.”
              ”Memang benar apa yang kamu katakan. Tetapi sebagai manusia kita tidak sepantasnya hanya mengharap kasih sayang dari Tuhan tanpa ada usaha untuk berbuat baik. Coba, apa pantas kalau kita selalu berbuat salah, tetapi di akhir cerita kita mengharap kasih sayang Tuhan. Ini sama artinya dengan bohong. Iya kalau Tuhan mengampuni kita,kalau tidak!”
              ”Iya-iya..semua yang bapak katakan benar adanya, pak...sekarang kasih saya kesempatan bertanya, tujuan bapak kemari ini ada perlu apa ya?”
              ”Saya akan selalu datang untuk menasehati kamu...”
              ”Apakah bapak seorang penasehat atau semacam pendakwah?”
              ”Lebih dari itu...”jawabnya singkat.
              ”Maksudnya pak...?”
              ”Suatu saat kamu akan tahu...”
              ”Kenapa aku yang bapak nasehati,apakah bapak tidak punya anak sendiri?”

              ”Indranov...bangun, aku mau pergi rumah tidak ada yang jaga.Teman-teman sudah pergi ke kampus semuanya...”tiba-tiba saja suara Rudi membangunkan tidurku. Aku binggung. Kulihat jam, pukul setengah delapan.
              ”Pergilah...aku dah bangun.” jawabku.

              Aku ke kamar mandi untuk cuci muka,saat pintu rumah tiba-tiba ada yang mengetuknya. ”Tunggu bentar...”teriakku. Aku heran, pagi-pagi gini kok ada yang bertamu, siapa ya pikirku?  Aku masih ingat dengan jelas mimpiku barusan. Tapi sayang, mimpiku tadi belum selesai, Rudi sudah membangunkan aku. Aku jadi ragu, jangan-jangan orang yang mengetuk pintu barusan adalah orang yang datang dalam mimpiku?

              Kubuka pintu pelan-pelan. Aku keluar, tapi tidak ada siapa-siapa di luar. Aku takut, namun tidak tahu apa penyebab  rasa takutku itu. Aku yakin ini semua pasti ada kaitannya dengan mimpiku barusan. Aku kembali masuk ke dalam rumah. Aku merasa lapar sekali pagi ini. Aku ingin masak saja. Segera aku ke dapur, tapi tidak ada sesuatu yang bisa di masak. Aku memutuskan untuk ke pasar.

              Setelah semua pintu rumah aku kunci, aku mencari angkutan umum yang menuju ke pasar. Tidak sulit mencarinya karena rumahku di dekat jalan dan angkot selalu lewat di depan rumahku.

              Aku benar-benar terkejut saat naik ke angkot. Salah satu penumpang angkot itu adalah bapak yang tadi hadir dalam mimpiku. Aku ingin saja langsung bertanya siapa sebenarnya bapak ini, tetapi aku malu pada penumpang yang lain. Diam-diam aku berencana untuk mengikuti saja kemana perginya bapak itu.

              Di jalan Setia Budi bapak itu turun. Akupun ikut turun. Bapak itu menghadang angkot lain jurusan Hang Tuah. Aku juga naik ke angkot itu. Beberapa menit kemudian sampailah kami di suatu tempat yang aku belum tahu tempat itu sebelumnya. Tetapi yang jelas adalah pemakaman umum. Aku belum tahu apa yang akan dilakukan oleh bapak itu di pemakaman. Bapak itu mencari-cari salah satu kuburan di antara ribuan kuburan yang berjejer rapi di pemakaman itu. Setelah mendapatkan apa yang dicari, bapak itu duduk terfekur di samping kuburan itu. Aku mendekat.

              ”Kenapa secepat ini kau pergi nak...Belum sempat ayah membahagiakan engkau...belum sempat ayah memberikan apa yang kau minta...belum sempat engkau menyelesaikan pendidikanmu...belum sempat engkau mengapai cita-citamu engkau sudah pergi...kenapa nak...kenapa secepat ini? Ini semua seperti mimpi bagi ayah nak... Ayah masih ingat saat ayah membentak engkau karena engkau tidak mau kuliah...ayah menyesal karena tidak bisa membelikan motor buat kuliah engkau..ayah menyesal nak..”suara lirih bapak itu meratapi nasibnya membuat aku ikut larut dalam kesedihan yang mendalam. Aku tahu bapak itu baru saja kehilangan anak yang sanggat dicintainya.

              ”Sabar pak...relakan kepergianya pak...biarkan ia tenang di sana...” aku berusaha menghibur bapak itu.
              ”Eh...si..si..siapa kamu?” Bapak itu kaget akan kehadiranku disampingnya. Dia tidak menyadari kalau aku mengikuti dia dari tadi.
              ”Bapak kan yang hadir dalam mimpiku?”aku balik bertanya.
              ”Hadir dalam mimpi kamu? Apa maksudnya, saya tidak mengerti.”
              ”Oh...enggak kok pak. Pak, dia anak bapak?” aku mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk nama yang tertulis di batu nisan tersebut.
              “Ya...Putra satu-satunya anak saya yang meninggal karena sakit. Aku menyesali semua ini. Kenapa saat sakit tidak saya obatkan. Saya sanggat menyesal sekali.”
              ”Tidak ada yang perlu disesalkan pak, semua itu sudah kehendak Tuhan. Putra milik Allah, kapan Allah memanggil dia, saat itu pula kita harus merelakannya. Pak..memang Putra sakit apa pak?”
              ”Dia sakit demam berdarah. Iya...bapak tahu, kapan Allah memanggil dia memang kita harus rela, tapi yang bapak sesalkan, kenapa saat dia sakit tidak bapak bawa ke dokter? Itu yang bapak sesalkan. Semua ini memang salah bapak. Semua ini karena kebodohan bapak.”
              ”Sudah pak...jangan menyalahkan diri sendiri.”
              ”Bagaimana saya tidak menyalahkan diri saya sendiri. Saya yang waktu itu bersikeras untuk tidak membawanya ke dokter. Sebab saya rasa semua penyakit itu dari Allah,dan hanya Allah yang bisa menyembuhkannya.”
              ”Benar yang bapak katakan, tapi pak bukan berarti saat kita sakit kita tidak berusaha menyembuhkannya dengan berobat, kita tidak boleh begitu pak. Allah akan menyembuhkan penyakit kita, kalau kita ada usaha untuk itu. Mungkin bapak juga sependapat dengan, lebih baik makan menggunakan tangan daripada sendok, sebab kita sudah diberi tangan oleh Tuhan. Lebih baik berjalan kalau kemana-mana, tidak usah naik kendaraan sebab kita sudah diberi kaki. Kalau memang begitu tidak usah lagi kita menggunakan pikiran kita untuk berpikir, sebab nanti hasil pemikiran manusia dikatakan menyeleweng dari agama.” Entah mengapa aku tiba-tiba saja aku ngomong seperti itu pada bapak tersebut. Aku seperti merasa, kembali berdebat dengan bapak ini seperti dalam mimpi tadi.
              ”Itulah...nak, kemarin-kemarin seperti itu pemikiran bapak. Tapi kini bapak sadar. Tetapi semakin bapak sadar, semakin besar rasa penyesalan bapak. Kalau sudah begini, lebih baik bapak menyusul Putra saja.”
              ”Jangan ngomong gitu pak.”
              ”Putra satu-satunya anak yang saya miliki, tapi kini sudah pergi, itu berat sekali bagi saya. Saya merasa belum banyak berbuat untuk membahagiakan dia. Dia sebenarnya anak yang penurut dan sayang pada orang tua. Cita-citanya adalah menghajikan kami kalau dia sudah menjadi orang yang sukses.”
              ”Cita-cita yang mulia ya pak...”aku ikut menabur-naburkan bunga di atas pusara kuburan Putra. ”Pak...kalau boleh tahu nama bapak siapa, tinggal dimana? Siapa tahu kalau ada waktu saya bisa singgah ke rumah bapak.”
              “Tidak perlu nak…kamu tidak perlu tahu siapa saya, sebab saya setelah ini akan pindah jauh...”
              ”Tapi pak...”
              ”Tidak nak...saya tidak akan menjawabnya. Saya akan semakin sedih kalau melihat kamu, sebab seumuran kamulah anak saya...”
              ”Baiklah pak...saya mengerti, tapi pak kalau bapak pindah jauh dari sini, siapa yang akan menziarahi kuburan anak bapak ini?”

              ”He.......Bangun....bangun... bangun...jam berapa ini, tiduuuur aja kamu nech!!!” suara lantang Suratno membangunkan aku. Aku mengusap-usap mataku yang terasa gelap. Aku heran. Masih mimpikah aku barusan? Aku cubit tanganku. Sakit. Oh sekarang aku dah bangun, dan di kuburan tadi...? Oh Tuhan,aku mengalami mimpi sampai dua kali. Aku berusaha kembali mengingat-ingat kronologis mimpiku itu. Tapi...
              ”Bangun...bangun...bangun...bikin-bikin masakan sana ngapa kamu...”kembali Suratno mengkagetkan lamunanku. Buyar lagi dech...segalanya.
              ”No..yang laen dah ke kampus yach?”
              ”Yoi... kamu sih tidur gak pake bangun-bangun, kok kamu pules kali tidurnya Nov,mimpi apa sich?”
              ”Aku mimpi aneh No, mimpiku itu sampai dua sesi pula. Nantilah aku certain, sekarang aku mau mandi dulu, baru masak…aku lapar nech…”
              “Terserah kamu…”

              Selesai mandi dan bikin masakan, aku lihat Suratno malah tidur, padahal aku mau mengajaknya makan. EGP, aku makan duluan. Kemudian aku menghidupkan computer dan mulai mengetikkan apa yang barusan aku alami di dunia mimpi tadi. Kini aku tahu, saat Rudi membangunkan aku tadi, aku bukannya langsung bangun, tetapi aku kembali tidur…oh..




THE END

Cerpen: Enggak Nyangka..


            Begitu memarkirkan motor di parkiran dan tak lupa mengunci dengan kunci ganda, aku berlari-lari kecil masuk ke dalam kampus. Sambil menyeka keringat yang bercucuran di mukaku, aku dapati rupanya teman-temanku masih duduk-duduk di lobi kampus. Hari ini begitu panas, apalagi barusan aku makan makanan yang pedas sekali, jadi keringat ini terus saja bercucuran. Aku sedikit lega, belum masuk rupanya.. Padahal tadi jantungku udah deg degan, jangan-jangan dosen killer satu itu sudah berceramah di depan kelas. Masih ingat hari itu saat aku datang terlambat lima menit, tidak segan-segannya dosen satu itu mengusirku.
            “Belum masuk ya?” tanyaku pada Kurniati yang lagi asik membuka Facebook. Aku duduk di sampingnya.
            “Belum lagi”, jawabnya santai tanpa menoleh ke arahku.
            “Tumben bapak tu belum datang, udah mau jam satu nech..” gumamku.
          “Ya...mudah-mudahan saja bapak itu gk datang! Males kali belajar sama bapak tu..” kali ini Kurniati menatapku. “Keringatmu tu dilap-lap ngapa Dy?” lanjutnya. Aku berusaha mengelapnya dengan tangan, saat kemudian Kurniati mengambil tissue dari tasnya dan dia mengelapkannya ke wajahku. Aku sedikit kaget. Tapi Kurniati begitu santai tanpa ada suatu masalah apapun. Aku segan saja sama anak-anak lainnya. Sesaat mataku dan mata dia beradu pandang. Dia tersenyum. Aku deg degan menatap mata Kurniati yang jernih itu. Mengetahui kalau aku merasa gk nyaman, dia berhenti dan melanjutkan bermain Facebook.
            Aku tersenyum sendiri. Aku menatap ke depan dengan bayangan kosong. Bertahun-tahun menjadi teman Kurniati, baru kali ini aku sadari kalau Kurniati itu memiliki mata yang indah. Ah..kemana saja aku selama ini? Aku terlalu terbuai dan berhayal mendapatkan wanita dengan berbagai kesempurnaanya. Hayalanku terlalu tinggi hingga tak satupun aku dapatkan. Aku ibarat seorang pemuda yang berjalan di suatu taman dengan berbagai macam bunga-bunga indahnya, semakin aku mencari yang terindah, semakin aku tidak bisa mendapatkannya..
            Kenapa aku tidak segera bangkit dan sadar bahwa ternyata ada wanita yang begitu indah di sampingku selama ini? Bukankah Kurniati itu wanita yang baik? Ah...kini pikiranku melayang entah kemana. Disisi lain, hatiku berkata,”Jangan..laki-laki macam apa kamu yang hendak menjadikan seorang teman menjadi kekasih?” Sementara hati yang lain bergumam,”Sampai kapan kamu begini, Cinta datang kepada siapa saja yang dikehendakinya..sudahlah, Kurniati itu sangatlah cocok buat kamu..”
            “Kita gak masuk!!!” suara keras Raka mengagetkan lamunanku. “Barusan Bapak tu sms ke aku..”
            “Ah..yang bener kamu Raka?” tanyaku.
            “Serius, tengok ne sms nya, katanya beliau ada pelatihan di Hotel Premiere..”
            “Wah...mantaplah tu..” Doni ikut menimpali.

            Teman-temanku yang lainnya hanya berkata “Yas-Yes”.. Kurniati senyum-senyum saja. Dia masih melanjutkan bermain Facebook. Aku menatapnya.
            “Ti, gk pulang?” tanyaku.
            “Nantilah Dy..di rumah juga gk ngapa-ngapain..”
            “Jalan yuk...” ucapku lirih. Aku tidak mau teman-teman yang lainnya mendengar. Dia tersenyum.
            “Kemana?” kali ini dia kembali menoleh ke arahku. “Tumben-tumbenan kamu ngajak jalan aku?” lanjutnya. Dia juga sengaja melirihkan suaranya.
            “Ya...kemana aja...Kenapa.. gk boleh ya?” kujawab dengan sebuah pertanyaan.
            “Boleh aja.. Gimana kalau ke Gramed, aku mau beli sesuatu..?”
            “Ya udah, kita ke Gramed aja..” jawabku.
            “Tunggulah teman-teman kita ini pulang ya..” ucapnya.
            “Baiklah..” jawabku.  Dan benar, tidak lama setelah itu, teman-temanku itupun satu persatu pulang. Kini tinggallah aku dan Kurniati sendiri di lobi. Kalaupun ada orang lain, hanyalah adek tingkat yang tidak aku kenal.                                          

Aku dan Kurniati sudah berada di Gramed. Entah buku apa yang dia cari, dari tadi belum didapatnya. Aku sendiri pura-pura juga mencari-cari buku Komputer. Tak ada satupun buku yang menarik menurutku, mungkin karena pikiranku sedang tidak tertuju ke buku. Aku lagi dilanda kebimbangan dan kebingungan. Hati ini benar-benar saling berdebat. Satu pihak setuju kalau aku menjadikan Kurniati sebagai kekasih, sementara satu lagu masih bersikukuh dengan pendapatnya kalau tidak baik menjadikan seorang teman menjadi pacar. Katanya akan hancur suatu persahabatan kalau sudah ada cinta di dalamnya. Hati yang mendukung kalau aku harus berpacaran dengan Kurniati, juga tidak mau kalah dengan argumennya, katanya, jangan sampai engkau menyesal hanya karena engkau terlambat mengatakan cinta kepada orang yang engkau cintai. Jangan sampai engkau menangis di nisannya saat dia sudah tiada. Penyesalan tiada guna. Ayo segera ungkapkan apa yang engkau rasakan itu.
Semakin dalam aku berpikir, semakin sakit aku rasakan kepalaku ini. Hingga saat aku melihat-lihat buku, ada satu judul buku yang menarik. “Maukah engkau menjadi pacarku?” Itu judul yang tertulis di buku tersebut. Tanpa berpikir panjang, aku ambil buku itu dan aku dekati Kurniati.
“Kurniati, maukah engkau menjadi pacarku” ucapku saat berada di depannya. Dia kaget. Dia menatapku dengan penuh tanda tanya.
“Dy, aku gak salah dengar kan?”
“Enggak kurniati, maukah engkau menjadi pacarku?”
“Dy....”
“Maukah engkau menjadi pacarku?” aku ulangi lagi perkataanku.
Kurniati hanya tersenyum.
“Hahahhahaa...” aku tertawa. Kusodorkan buku yang aku pegang tadi. Dibacanya sampulnya. Dia tersenyum. “Kurang ajar kamu!” ucapnya. Dicupitnya lenganku.
“Aduuuh...sakit...”
“Mampus, itulah buat orang yang suka ngerjai aku..” ucapnya enteng. Hening sesaat.
“Jadi, beneran mau gk?!” kini aku sudah tidak ragu lagi untuk lebih serius menanyakan hal tersebut ke Kurniati.
“Boleh..tapi ada syaratnya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Apa???”
“Jadikan aku yang terakhir untuk cintamu..”jawabnya lirih. Meski kedengarannya agak lebay, tapi aku takut mendengar ucapan Kurniati yang satu ini. Aku khawatir suatu saat bakal mengecewakan dia.
“Hmmm...aku akan berusaha,”jawabku kemudian..

Karena begitu senangnya aku dan Kurniati baru jadian di Gramed, maka aku dan dia bahagia sekali. Pulang dari Gramed kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi menyusuri kota Pekanbaru. Aku dan dia bernyanyi-nyanyi bahagia.

“Kurniati, mengapa kamu menangis?” tanyaku. Aku heran, baru saja kami jalan-jalan bersama, kini aku dapati Kurniati sedang menangis di pinggir jalan. Di sekelilingnya banyak orang. Sementara di tengah jalan itu, juga  ramai sekali banyak orang. Kurniati diam saja saat aku tanya.  Aku bertanya pada orang yang ada di situ, tapi mereka juga diam. Sepertinya mereka begitu sibuk hingga tidak sempat menjawab pertanyaanku.
Penasaran akan keramaian di tengah jalan itu, aku mendekat. Mobil-mobil mulai macet saja. Antrian juga semakin panjang. Aku mendekat lagi. Kusibak orang-orang yang menghalangi jalanku. Aku dengan mudah kini sudah berada di tengah-tengah keramain itu.
“Astagfirullah..ada kecelakaan rupanya,” gumamku. Tapi tunggu..siapa yang sebenarnya kecelakaan. Oh kebetulan ada temanku juga disitu.
“Raka, siapa yang kecelakaan?” tanyaku. Raka diam saja. Aku lihat, Raka meneteskan air mata. Aku tidak bisa melihat siapa sebenarnya orang yang kecelakaan itu, soalnya mukanya ditutupi. “Raka, siapa yang sebenarnya kecelakaan?” aku bertanya lagi lebih keras. Tapi Raka tetap diam.
“Jadi dia temanmu nak?” tanya salah seorang yang ada disitu kepada Raka.
“Iya pak, dia Ady Tiarmon teman satu kuliahku,” jawab Raka sambil terisak.
“Heiii...  Apa maksudmu Raka?! Jangan salah sebut donk. Aku disini gini kok, kau bilang pula yang kecelakaan itu aku!” ..teriakku. Tapi Raka dan orang-orang disitu sama sekali tidak mendengar ucapanku.  Aku semakin bingung.
Aku keluar dari kerumunan orang-orang itu. Aku hampiri Kurniati yang masih menangis seperti tadi.
“Ya udahlah, ayo kita pulang,” ucapku. Kurniati diam saja. Aku makin curiga, jangan-jangan yang kecelakaan itu benar aku? Jadi aku sekarang ini apa? Kenapa mereka tidak menganggap aku sama sekali. Aku bingung. Kembali aku hampiri kerumunan orang-orang itu. Ambulance datang. Huh..suara mobil Ambulance adalah suara yang paling tidak aku suka. Aku trauma ingat kejadian saat temanku kecelakaan dulu. Aku kembali melihat lebih dekat. Aku perhatikan saat petugas itu hendak mengangkat jenazah orang yang kecelakaan itu ke dalam Ambulance.
Astagfirullah...itu benar-benar aku. Jadi aku memang benar-benar kecelakaan. Hah...aku sudah meninggal dunia. Ini tidak mungkin. Rasanya baru tadi aku jalan-jalan dan berbahagia sesaat dengan Kurniati. Kenapa secepat itu aku meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Aku belum sempat membahagiakan Kurniati. Aku juga belum sempat membahagiakan  orang tuaku. Kini aku harus pergi. Ah..ini tidak mungkin.. Pasti aku sekarang lagi bermimpi.. Nanti saat aku bangun, baru aku sadar kalau ini semua memang mimpi.
Begitu Ambulance pergi membawa jenazahku, orang-orang yang tadinya ramai..akhirnya mulai pergi juga. Aku lihat dari kejauhan, Kurniati masih terisak-isak menahan tangisnya. Aku jadi ikut sedih. Semua ini gara-gara kepergianku. Hadoow..terus siapa nanti yang akan mengantar Kurniati pulang? Aku jadi mengkhawatirkan Kurniati. Hah, aku lihat Raka mendekati Kurniati. Tampaknya Raka berusaha menghibur Kurniati. Aku segera berlari mendekat. Benar saja, Raka memang menghibur Kurniati.
“Sudah Ti, kita harus bisa menerima semua ini. Itu sudah jalan takdirnya. Biarkan dia tenang disana,” ucap Raka.
“Ini seperti mimpi Ka, aku belum bisa menerima smua kenyataan ini? Baru saja tadi aku dan Ady pergi jalan. Baru saja tadi kami jadian, kenapa secepat itu pula Tuhan mengambilnya..???”
“Kalian jadian?” tanya Raka kaget. Kurniati hanya mengangguk. Air matanya makin deras.
“Sudahlah Ti, ikhlaskan kepergian Ady..” kali ini Raka memeluk Kurniati. Dasar Raka kurang ajar, batinku. Baru ditinggal pergi sebentar saja sudah berani peluk-peluk cewek orang dia ne. Ah..tapi aku akhirnya sadar, aku sudah meninggal. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. “Ayo kita pulang Ti, biar aku antar kamu. Nanti di rumah..aku bantu bersihkan luka-luka kamu itu.” Kurniati hanya mengangguk. Mereka akhirnya pulang.
Sekarang aku yang bingung. Hendak kemana aku sekarang. Hari sudah mulai malam. Ah, aku pulang saja. Karena motorku juga rusak parah dan sudah dibawa pergi sama polisi, terpaksa aku jalan kaki pulangnya.
Di rumahku, banyak sekali orang yang datang. Aku tidak menyangka kepergianku membuat tetangga-tentanggaku berdatangan ke rumahku. Wah...rumahku penuh dengan orang, sehingga susah aku masuknya..oh iya untungnya mereka tidak bisa melihat aku dan aku juga sadar kalau aku bisa melewati mereka dengan mudah. Jenazahku terbujur kaku disitu, aku sempat melihatnya sekilas. Biar ajalah..
Ya Allah ibu dan bapakku..belum pernah aku melihat kalian menangis sedih seperti ini. Aku ikut menangis. Maafkan anakmu ini oh ibu oh bapak.. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat kalian sesedih ini.. Aku juga tidak tau kenapa semua ini bisa terjadi.. aku juga tidak ingat kenapa bisa seperti ini.. Seingatku, tadi aku pergi jalan-jalan sama Kurniati, dan ini semua terjadi.. Aku aja gak ingat gimana kejadian kecelakaan tadi..
Hmmm...aku tidak mungkin terus-terusan menyesali diri. Aku tinggalkan orang-orang yang sedang berkabung itu. Aku masuk ke dalam kamar. Aku ingin istirahat. Aku capek. Siapa tau nanti setelah aku tidur, aku terbangun dan semua kejadian ini hanya mimpi..  Ah tapi sia-sia saja usahaku. Aku memang sudah meninggal dunia. Tidak mungkin ini mimpi. Dan besok..oh besok adalah hari yang sangat menakutkan. Aku akan dikebumikan. Entahlah, aku tidak tau lagi apa yang akan aku perbuat. Aku ikuti saja aturan permainan dari sang Pencipta. Amal ibadahku yang selama ini aku kumpulkan itulah yang bakal jadi bekal yang akan aku bawa besok. Masih untunglah aku jarang berbuat maksiat..oh aku ingat sekarang, jangan-jangan Tuhan mengambil nyawaku dengan segera, justru khawatir kalau akau bakal berbuat maksiat lebih banyak? Mungkinkah Tuhan berpikiran seperti itu? Mungkin dia tau kalau aku akan begitu setelah punya pacar, makanya segera aku diambil? Ah..itu semua hanya pemikiranku saja..bisa saja pemikiranku ini salah..
Ya udah ya gitu aja dulu, capek ne..aku mau istirahat. Ini malam terakhir buatku. Besok di dalam kuburan, entahlah..biar aku saja sendiri yang menghadapi..aku belum bisa bercerita..intinya, yah..banyak-banyaklah mengerjakan amal kebaikan, siapa sangka kalau kematian begitu mendadak datangnya, aku saja yang udah mati seperti tadi..masih tidak sadar, masih tidak percaya kalau aku sudah mati..oke aku harap kita bisa berjumpa di Surga.. See u next time.. Hehehehe..

CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT