Jumat, 09 Desember 2011

Cerpen: Enggak Nyangka..


            Begitu memarkirkan motor di parkiran dan tak lupa mengunci dengan kunci ganda, aku berlari-lari kecil masuk ke dalam kampus. Sambil menyeka keringat yang bercucuran di mukaku, aku dapati rupanya teman-temanku masih duduk-duduk di lobi kampus. Hari ini begitu panas, apalagi barusan aku makan makanan yang pedas sekali, jadi keringat ini terus saja bercucuran. Aku sedikit lega, belum masuk rupanya.. Padahal tadi jantungku udah deg degan, jangan-jangan dosen killer satu itu sudah berceramah di depan kelas. Masih ingat hari itu saat aku datang terlambat lima menit, tidak segan-segannya dosen satu itu mengusirku.
            “Belum masuk ya?” tanyaku pada Kurniati yang lagi asik membuka Facebook. Aku duduk di sampingnya.
            “Belum lagi”, jawabnya santai tanpa menoleh ke arahku.
            “Tumben bapak tu belum datang, udah mau jam satu nech..” gumamku.
          “Ya...mudah-mudahan saja bapak itu gk datang! Males kali belajar sama bapak tu..” kali ini Kurniati menatapku. “Keringatmu tu dilap-lap ngapa Dy?” lanjutnya. Aku berusaha mengelapnya dengan tangan, saat kemudian Kurniati mengambil tissue dari tasnya dan dia mengelapkannya ke wajahku. Aku sedikit kaget. Tapi Kurniati begitu santai tanpa ada suatu masalah apapun. Aku segan saja sama anak-anak lainnya. Sesaat mataku dan mata dia beradu pandang. Dia tersenyum. Aku deg degan menatap mata Kurniati yang jernih itu. Mengetahui kalau aku merasa gk nyaman, dia berhenti dan melanjutkan bermain Facebook.
            Aku tersenyum sendiri. Aku menatap ke depan dengan bayangan kosong. Bertahun-tahun menjadi teman Kurniati, baru kali ini aku sadari kalau Kurniati itu memiliki mata yang indah. Ah..kemana saja aku selama ini? Aku terlalu terbuai dan berhayal mendapatkan wanita dengan berbagai kesempurnaanya. Hayalanku terlalu tinggi hingga tak satupun aku dapatkan. Aku ibarat seorang pemuda yang berjalan di suatu taman dengan berbagai macam bunga-bunga indahnya, semakin aku mencari yang terindah, semakin aku tidak bisa mendapatkannya..
            Kenapa aku tidak segera bangkit dan sadar bahwa ternyata ada wanita yang begitu indah di sampingku selama ini? Bukankah Kurniati itu wanita yang baik? Ah...kini pikiranku melayang entah kemana. Disisi lain, hatiku berkata,”Jangan..laki-laki macam apa kamu yang hendak menjadikan seorang teman menjadi kekasih?” Sementara hati yang lain bergumam,”Sampai kapan kamu begini, Cinta datang kepada siapa saja yang dikehendakinya..sudahlah, Kurniati itu sangatlah cocok buat kamu..”
            “Kita gak masuk!!!” suara keras Raka mengagetkan lamunanku. “Barusan Bapak tu sms ke aku..”
            “Ah..yang bener kamu Raka?” tanyaku.
            “Serius, tengok ne sms nya, katanya beliau ada pelatihan di Hotel Premiere..”
            “Wah...mantaplah tu..” Doni ikut menimpali.

            Teman-temanku yang lainnya hanya berkata “Yas-Yes”.. Kurniati senyum-senyum saja. Dia masih melanjutkan bermain Facebook. Aku menatapnya.
            “Ti, gk pulang?” tanyaku.
            “Nantilah Dy..di rumah juga gk ngapa-ngapain..”
            “Jalan yuk...” ucapku lirih. Aku tidak mau teman-teman yang lainnya mendengar. Dia tersenyum.
            “Kemana?” kali ini dia kembali menoleh ke arahku. “Tumben-tumbenan kamu ngajak jalan aku?” lanjutnya. Dia juga sengaja melirihkan suaranya.
            “Ya...kemana aja...Kenapa.. gk boleh ya?” kujawab dengan sebuah pertanyaan.
            “Boleh aja.. Gimana kalau ke Gramed, aku mau beli sesuatu..?”
            “Ya udah, kita ke Gramed aja..” jawabku.
            “Tunggulah teman-teman kita ini pulang ya..” ucapnya.
            “Baiklah..” jawabku.  Dan benar, tidak lama setelah itu, teman-temanku itupun satu persatu pulang. Kini tinggallah aku dan Kurniati sendiri di lobi. Kalaupun ada orang lain, hanyalah adek tingkat yang tidak aku kenal.                                          

Aku dan Kurniati sudah berada di Gramed. Entah buku apa yang dia cari, dari tadi belum didapatnya. Aku sendiri pura-pura juga mencari-cari buku Komputer. Tak ada satupun buku yang menarik menurutku, mungkin karena pikiranku sedang tidak tertuju ke buku. Aku lagi dilanda kebimbangan dan kebingungan. Hati ini benar-benar saling berdebat. Satu pihak setuju kalau aku menjadikan Kurniati sebagai kekasih, sementara satu lagu masih bersikukuh dengan pendapatnya kalau tidak baik menjadikan seorang teman menjadi pacar. Katanya akan hancur suatu persahabatan kalau sudah ada cinta di dalamnya. Hati yang mendukung kalau aku harus berpacaran dengan Kurniati, juga tidak mau kalah dengan argumennya, katanya, jangan sampai engkau menyesal hanya karena engkau terlambat mengatakan cinta kepada orang yang engkau cintai. Jangan sampai engkau menangis di nisannya saat dia sudah tiada. Penyesalan tiada guna. Ayo segera ungkapkan apa yang engkau rasakan itu.
Semakin dalam aku berpikir, semakin sakit aku rasakan kepalaku ini. Hingga saat aku melihat-lihat buku, ada satu judul buku yang menarik. “Maukah engkau menjadi pacarku?” Itu judul yang tertulis di buku tersebut. Tanpa berpikir panjang, aku ambil buku itu dan aku dekati Kurniati.
“Kurniati, maukah engkau menjadi pacarku” ucapku saat berada di depannya. Dia kaget. Dia menatapku dengan penuh tanda tanya.
“Dy, aku gak salah dengar kan?”
“Enggak kurniati, maukah engkau menjadi pacarku?”
“Dy....”
“Maukah engkau menjadi pacarku?” aku ulangi lagi perkataanku.
Kurniati hanya tersenyum.
“Hahahhahaa...” aku tertawa. Kusodorkan buku yang aku pegang tadi. Dibacanya sampulnya. Dia tersenyum. “Kurang ajar kamu!” ucapnya. Dicupitnya lenganku.
“Aduuuh...sakit...”
“Mampus, itulah buat orang yang suka ngerjai aku..” ucapnya enteng. Hening sesaat.
“Jadi, beneran mau gk?!” kini aku sudah tidak ragu lagi untuk lebih serius menanyakan hal tersebut ke Kurniati.
“Boleh..tapi ada syaratnya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Apa???”
“Jadikan aku yang terakhir untuk cintamu..”jawabnya lirih. Meski kedengarannya agak lebay, tapi aku takut mendengar ucapan Kurniati yang satu ini. Aku khawatir suatu saat bakal mengecewakan dia.
“Hmmm...aku akan berusaha,”jawabku kemudian..

Karena begitu senangnya aku dan Kurniati baru jadian di Gramed, maka aku dan dia bahagia sekali. Pulang dari Gramed kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi menyusuri kota Pekanbaru. Aku dan dia bernyanyi-nyanyi bahagia.

“Kurniati, mengapa kamu menangis?” tanyaku. Aku heran, baru saja kami jalan-jalan bersama, kini aku dapati Kurniati sedang menangis di pinggir jalan. Di sekelilingnya banyak orang. Sementara di tengah jalan itu, juga  ramai sekali banyak orang. Kurniati diam saja saat aku tanya.  Aku bertanya pada orang yang ada di situ, tapi mereka juga diam. Sepertinya mereka begitu sibuk hingga tidak sempat menjawab pertanyaanku.
Penasaran akan keramaian di tengah jalan itu, aku mendekat. Mobil-mobil mulai macet saja. Antrian juga semakin panjang. Aku mendekat lagi. Kusibak orang-orang yang menghalangi jalanku. Aku dengan mudah kini sudah berada di tengah-tengah keramain itu.
“Astagfirullah..ada kecelakaan rupanya,” gumamku. Tapi tunggu..siapa yang sebenarnya kecelakaan. Oh kebetulan ada temanku juga disitu.
“Raka, siapa yang kecelakaan?” tanyaku. Raka diam saja. Aku lihat, Raka meneteskan air mata. Aku tidak bisa melihat siapa sebenarnya orang yang kecelakaan itu, soalnya mukanya ditutupi. “Raka, siapa yang sebenarnya kecelakaan?” aku bertanya lagi lebih keras. Tapi Raka tetap diam.
“Jadi dia temanmu nak?” tanya salah seorang yang ada disitu kepada Raka.
“Iya pak, dia Ady Tiarmon teman satu kuliahku,” jawab Raka sambil terisak.
“Heiii...  Apa maksudmu Raka?! Jangan salah sebut donk. Aku disini gini kok, kau bilang pula yang kecelakaan itu aku!” ..teriakku. Tapi Raka dan orang-orang disitu sama sekali tidak mendengar ucapanku.  Aku semakin bingung.
Aku keluar dari kerumunan orang-orang itu. Aku hampiri Kurniati yang masih menangis seperti tadi.
“Ya udahlah, ayo kita pulang,” ucapku. Kurniati diam saja. Aku makin curiga, jangan-jangan yang kecelakaan itu benar aku? Jadi aku sekarang ini apa? Kenapa mereka tidak menganggap aku sama sekali. Aku bingung. Kembali aku hampiri kerumunan orang-orang itu. Ambulance datang. Huh..suara mobil Ambulance adalah suara yang paling tidak aku suka. Aku trauma ingat kejadian saat temanku kecelakaan dulu. Aku kembali melihat lebih dekat. Aku perhatikan saat petugas itu hendak mengangkat jenazah orang yang kecelakaan itu ke dalam Ambulance.
Astagfirullah...itu benar-benar aku. Jadi aku memang benar-benar kecelakaan. Hah...aku sudah meninggal dunia. Ini tidak mungkin. Rasanya baru tadi aku jalan-jalan dan berbahagia sesaat dengan Kurniati. Kenapa secepat itu aku meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Aku belum sempat membahagiakan Kurniati. Aku juga belum sempat membahagiakan  orang tuaku. Kini aku harus pergi. Ah..ini tidak mungkin.. Pasti aku sekarang lagi bermimpi.. Nanti saat aku bangun, baru aku sadar kalau ini semua memang mimpi.
Begitu Ambulance pergi membawa jenazahku, orang-orang yang tadinya ramai..akhirnya mulai pergi juga. Aku lihat dari kejauhan, Kurniati masih terisak-isak menahan tangisnya. Aku jadi ikut sedih. Semua ini gara-gara kepergianku. Hadoow..terus siapa nanti yang akan mengantar Kurniati pulang? Aku jadi mengkhawatirkan Kurniati. Hah, aku lihat Raka mendekati Kurniati. Tampaknya Raka berusaha menghibur Kurniati. Aku segera berlari mendekat. Benar saja, Raka memang menghibur Kurniati.
“Sudah Ti, kita harus bisa menerima semua ini. Itu sudah jalan takdirnya. Biarkan dia tenang disana,” ucap Raka.
“Ini seperti mimpi Ka, aku belum bisa menerima smua kenyataan ini? Baru saja tadi aku dan Ady pergi jalan. Baru saja tadi kami jadian, kenapa secepat itu pula Tuhan mengambilnya..???”
“Kalian jadian?” tanya Raka kaget. Kurniati hanya mengangguk. Air matanya makin deras.
“Sudahlah Ti, ikhlaskan kepergian Ady..” kali ini Raka memeluk Kurniati. Dasar Raka kurang ajar, batinku. Baru ditinggal pergi sebentar saja sudah berani peluk-peluk cewek orang dia ne. Ah..tapi aku akhirnya sadar, aku sudah meninggal. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. “Ayo kita pulang Ti, biar aku antar kamu. Nanti di rumah..aku bantu bersihkan luka-luka kamu itu.” Kurniati hanya mengangguk. Mereka akhirnya pulang.
Sekarang aku yang bingung. Hendak kemana aku sekarang. Hari sudah mulai malam. Ah, aku pulang saja. Karena motorku juga rusak parah dan sudah dibawa pergi sama polisi, terpaksa aku jalan kaki pulangnya.
Di rumahku, banyak sekali orang yang datang. Aku tidak menyangka kepergianku membuat tetangga-tentanggaku berdatangan ke rumahku. Wah...rumahku penuh dengan orang, sehingga susah aku masuknya..oh iya untungnya mereka tidak bisa melihat aku dan aku juga sadar kalau aku bisa melewati mereka dengan mudah. Jenazahku terbujur kaku disitu, aku sempat melihatnya sekilas. Biar ajalah..
Ya Allah ibu dan bapakku..belum pernah aku melihat kalian menangis sedih seperti ini. Aku ikut menangis. Maafkan anakmu ini oh ibu oh bapak.. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat kalian sesedih ini.. Aku juga tidak tau kenapa semua ini bisa terjadi.. aku juga tidak ingat kenapa bisa seperti ini.. Seingatku, tadi aku pergi jalan-jalan sama Kurniati, dan ini semua terjadi.. Aku aja gak ingat gimana kejadian kecelakaan tadi..
Hmmm...aku tidak mungkin terus-terusan menyesali diri. Aku tinggalkan orang-orang yang sedang berkabung itu. Aku masuk ke dalam kamar. Aku ingin istirahat. Aku capek. Siapa tau nanti setelah aku tidur, aku terbangun dan semua kejadian ini hanya mimpi..  Ah tapi sia-sia saja usahaku. Aku memang sudah meninggal dunia. Tidak mungkin ini mimpi. Dan besok..oh besok adalah hari yang sangat menakutkan. Aku akan dikebumikan. Entahlah, aku tidak tau lagi apa yang akan aku perbuat. Aku ikuti saja aturan permainan dari sang Pencipta. Amal ibadahku yang selama ini aku kumpulkan itulah yang bakal jadi bekal yang akan aku bawa besok. Masih untunglah aku jarang berbuat maksiat..oh aku ingat sekarang, jangan-jangan Tuhan mengambil nyawaku dengan segera, justru khawatir kalau akau bakal berbuat maksiat lebih banyak? Mungkinkah Tuhan berpikiran seperti itu? Mungkin dia tau kalau aku akan begitu setelah punya pacar, makanya segera aku diambil? Ah..itu semua hanya pemikiranku saja..bisa saja pemikiranku ini salah..
Ya udah ya gitu aja dulu, capek ne..aku mau istirahat. Ini malam terakhir buatku. Besok di dalam kuburan, entahlah..biar aku saja sendiri yang menghadapi..aku belum bisa bercerita..intinya, yah..banyak-banyaklah mengerjakan amal kebaikan, siapa sangka kalau kematian begitu mendadak datangnya, aku saja yang udah mati seperti tadi..masih tidak sadar, masih tidak percaya kalau aku sudah mati..oke aku harap kita bisa berjumpa di Surga.. See u next time.. Hehehehe..

CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT







           


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar