Begitu
memarkirkan motor di parkiran dan tak lupa mengunci dengan kunci ganda, aku
berlari-lari kecil masuk ke dalam kampus. Sambil menyeka keringat yang
bercucuran di mukaku, aku dapati rupanya teman-temanku masih duduk-duduk di
lobi kampus. Hari ini begitu panas, apalagi barusan aku makan makanan yang
pedas sekali, jadi keringat ini terus saja bercucuran. Aku sedikit lega, belum
masuk rupanya.. Padahal tadi jantungku udah deg degan, jangan-jangan dosen
killer satu itu sudah berceramah di depan kelas. Masih ingat hari itu saat aku
datang terlambat lima menit, tidak segan-segannya dosen satu itu mengusirku.
“Belum masuk ya?” tanyaku pada
Kurniati yang lagi asik membuka Facebook. Aku duduk di sampingnya.
“Belum lagi”, jawabnya santai tanpa
menoleh ke arahku.
“Tumben bapak tu belum datang, udah
mau jam satu nech..” gumamku.
“Ya...mudah-mudahan saja bapak itu gk datang!
Males kali belajar sama bapak tu..” kali ini Kurniati menatapku. “Keringatmu tu
dilap-lap ngapa Dy?” lanjutnya. Aku berusaha mengelapnya dengan tangan, saat
kemudian Kurniati mengambil tissue dari tasnya dan dia mengelapkannya ke
wajahku. Aku sedikit kaget. Tapi Kurniati begitu santai tanpa ada suatu masalah
apapun. Aku segan saja sama anak-anak lainnya. Sesaat mataku dan mata dia
beradu pandang. Dia tersenyum. Aku deg degan menatap mata Kurniati yang jernih
itu. Mengetahui kalau aku merasa gk nyaman, dia berhenti dan melanjutkan
bermain Facebook.
Aku
tersenyum sendiri. Aku menatap ke depan dengan bayangan kosong. Bertahun-tahun menjadi
teman Kurniati, baru kali ini aku sadari kalau Kurniati itu memiliki mata yang
indah. Ah..kemana saja aku selama ini? Aku terlalu terbuai dan berhayal
mendapatkan wanita dengan berbagai kesempurnaanya. Hayalanku terlalu tinggi
hingga tak satupun aku dapatkan. Aku ibarat seorang pemuda yang berjalan di
suatu taman dengan berbagai macam bunga-bunga indahnya, semakin aku mencari
yang terindah, semakin aku tidak bisa mendapatkannya..
Kenapa
aku tidak segera bangkit dan sadar bahwa ternyata ada wanita yang begitu indah
di sampingku selama ini? Bukankah Kurniati itu wanita yang baik? Ah...kini
pikiranku melayang entah kemana. Disisi lain, hatiku berkata,”Jangan..laki-laki
macam apa kamu yang hendak menjadikan seorang teman menjadi kekasih?” Sementara
hati yang lain bergumam,”Sampai kapan kamu begini, Cinta datang kepada siapa
saja yang dikehendakinya..sudahlah, Kurniati itu sangatlah cocok buat kamu..”
“Kita gak masuk!!!” suara keras Raka
mengagetkan lamunanku. “Barusan Bapak tu sms ke aku..”
“Ah..yang bener kamu Raka?” tanyaku.
“Serius, tengok ne sms nya, katanya
beliau ada pelatihan di Hotel Premiere..”
“Wah...mantaplah tu..” Doni ikut
menimpali.
Teman-temanku yang lainnya hanya
berkata “Yas-Yes”.. Kurniati senyum-senyum saja. Dia masih melanjutkan bermain
Facebook. Aku menatapnya.
“Ti, gk pulang?” tanyaku.
“Nantilah Dy..di rumah juga gk
ngapa-ngapain..”
“Jalan yuk...” ucapku lirih. Aku
tidak mau teman-teman yang lainnya mendengar. Dia tersenyum.
“Kemana?” kali ini dia kembali
menoleh ke arahku. “Tumben-tumbenan kamu ngajak jalan aku?” lanjutnya. Dia juga
sengaja melirihkan suaranya.
“Ya...kemana aja...Kenapa.. gk boleh
ya?” kujawab dengan sebuah pertanyaan.
“Boleh aja.. Gimana kalau ke Gramed,
aku mau beli sesuatu..?”
“Ya udah, kita ke Gramed aja..”
jawabku.
“Tunggulah teman-teman kita ini
pulang ya..” ucapnya.
“Baiklah..” jawabku. Dan benar, tidak lama setelah itu,
teman-temanku itupun satu persatu pulang. Kini tinggallah aku dan Kurniati
sendiri di lobi. Kalaupun ada orang lain, hanyalah adek tingkat yang tidak aku
kenal.
Aku dan Kurniati sudah berada
di Gramed. Entah buku apa yang dia cari, dari tadi belum didapatnya. Aku
sendiri pura-pura juga mencari-cari buku Komputer. Tak ada satupun buku yang
menarik menurutku, mungkin karena pikiranku sedang tidak tertuju ke buku. Aku
lagi dilanda kebimbangan dan kebingungan. Hati ini benar-benar saling berdebat.
Satu pihak setuju kalau aku menjadikan Kurniati sebagai kekasih, sementara satu
lagu masih bersikukuh dengan pendapatnya kalau tidak baik menjadikan seorang
teman menjadi pacar. Katanya akan hancur suatu persahabatan kalau sudah ada
cinta di dalamnya. Hati yang mendukung kalau aku harus berpacaran dengan
Kurniati, juga tidak mau kalah dengan argumennya, katanya, jangan sampai engkau
menyesal hanya karena engkau terlambat mengatakan cinta kepada orang yang
engkau cintai. Jangan sampai engkau menangis di nisannya saat dia sudah tiada.
Penyesalan tiada guna. Ayo segera ungkapkan apa yang engkau rasakan itu.
Semakin dalam aku berpikir,
semakin sakit aku rasakan kepalaku ini. Hingga saat aku melihat-lihat buku, ada
satu judul buku yang menarik. “Maukah engkau menjadi pacarku?” Itu judul yang
tertulis di buku tersebut. Tanpa berpikir panjang, aku ambil buku itu dan aku
dekati Kurniati.
“Kurniati, maukah engkau
menjadi pacarku” ucapku saat berada di depannya. Dia kaget. Dia menatapku
dengan penuh tanda tanya.
“Dy, aku gak salah dengar
kan?”
“Enggak kurniati, maukah
engkau menjadi pacarku?”
“Dy....”
“Maukah engkau menjadi
pacarku?” aku ulangi lagi perkataanku.
Kurniati hanya tersenyum.
“Hahahhahaa...” aku tertawa.
Kusodorkan buku yang aku pegang tadi. Dibacanya sampulnya. Dia tersenyum.
“Kurang ajar kamu!” ucapnya. Dicupitnya lenganku.
“Aduuuh...sakit...”
“Mampus, itulah buat orang
yang suka ngerjai aku..” ucapnya enteng. Hening sesaat.
“Jadi, beneran mau gk?!” kini
aku sudah tidak ragu lagi untuk lebih serius menanyakan hal tersebut ke
Kurniati.
“Boleh..tapi ada syaratnya,”
jawabnya sambil tersenyum.
“Apa???”
“Jadikan aku yang terakhir
untuk cintamu..”jawabnya lirih. Meski kedengarannya agak lebay, tapi aku takut
mendengar ucapan Kurniati yang satu ini. Aku khawatir suatu saat bakal
mengecewakan dia.
“Hmmm...aku akan
berusaha,”jawabku kemudian..
Karena begitu senangnya aku
dan Kurniati baru jadian di Gramed, maka aku dan dia bahagia sekali. Pulang
dari Gramed kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi menyusuri kota Pekanbaru.
Aku dan dia bernyanyi-nyanyi bahagia.
“Kurniati, mengapa kamu
menangis?” tanyaku. Aku heran, baru saja kami jalan-jalan bersama, kini aku
dapati Kurniati sedang menangis di pinggir jalan. Di sekelilingnya banyak
orang. Sementara di tengah jalan itu, juga ramai sekali banyak orang. Kurniati diam saja
saat aku tanya. Aku bertanya pada orang
yang ada di situ, tapi mereka juga diam. Sepertinya mereka begitu sibuk hingga
tidak sempat menjawab pertanyaanku.
Penasaran akan keramaian di
tengah jalan itu, aku mendekat. Mobil-mobil mulai macet saja. Antrian juga
semakin panjang. Aku mendekat lagi. Kusibak orang-orang yang menghalangi
jalanku. Aku dengan mudah kini sudah berada di tengah-tengah keramain itu.
“Astagfirullah..ada
kecelakaan rupanya,” gumamku. Tapi tunggu..siapa yang sebenarnya kecelakaan. Oh
kebetulan ada temanku juga disitu.
“Raka, siapa yang
kecelakaan?” tanyaku. Raka diam saja. Aku lihat, Raka meneteskan air mata. Aku
tidak bisa melihat siapa sebenarnya orang yang kecelakaan itu, soalnya mukanya
ditutupi. “Raka, siapa yang sebenarnya kecelakaan?” aku bertanya lagi lebih
keras. Tapi Raka tetap diam.
“Jadi dia temanmu nak?” tanya
salah seorang yang ada disitu kepada Raka.
“Iya pak, dia Ady Tiarmon
teman satu kuliahku,” jawab Raka sambil terisak.
“Heiii... Apa maksudmu Raka?! Jangan salah sebut donk.
Aku disini gini kok, kau bilang pula yang kecelakaan itu aku!” ..teriakku. Tapi
Raka dan orang-orang disitu sama sekali tidak mendengar ucapanku. Aku semakin bingung.
Aku keluar dari kerumunan
orang-orang itu. Aku hampiri Kurniati yang masih menangis seperti tadi.
“Ya udahlah, ayo kita
pulang,” ucapku. Kurniati diam saja. Aku makin curiga, jangan-jangan yang
kecelakaan itu benar aku? Jadi aku sekarang ini apa? Kenapa mereka tidak
menganggap aku sama sekali. Aku bingung. Kembali aku hampiri kerumunan
orang-orang itu. Ambulance datang. Huh..suara mobil Ambulance adalah suara yang
paling tidak aku suka. Aku trauma ingat kejadian saat temanku kecelakaan dulu.
Aku kembali melihat lebih dekat. Aku perhatikan saat petugas itu hendak
mengangkat jenazah orang yang kecelakaan itu ke dalam Ambulance.
Astagfirullah...itu
benar-benar aku. Jadi aku memang benar-benar kecelakaan. Hah...aku sudah
meninggal dunia. Ini tidak mungkin. Rasanya baru tadi aku jalan-jalan dan
berbahagia sesaat dengan Kurniati. Kenapa secepat itu aku meninggalkan
orang-orang yang aku sayangi. Aku belum sempat membahagiakan Kurniati. Aku juga
belum sempat membahagiakan orang tuaku.
Kini aku harus pergi. Ah..ini tidak mungkin.. Pasti aku sekarang lagi
bermimpi.. Nanti saat aku bangun, baru aku sadar kalau ini semua memang mimpi.
Begitu Ambulance pergi
membawa jenazahku, orang-orang yang tadinya ramai..akhirnya mulai pergi juga.
Aku lihat dari kejauhan, Kurniati masih terisak-isak menahan tangisnya. Aku
jadi ikut sedih. Semua ini gara-gara kepergianku. Hadoow..terus siapa nanti
yang akan mengantar Kurniati pulang? Aku jadi mengkhawatirkan Kurniati. Hah,
aku lihat Raka mendekati Kurniati. Tampaknya Raka berusaha menghibur Kurniati.
Aku segera berlari mendekat. Benar saja, Raka memang menghibur Kurniati.
“Sudah Ti, kita harus bisa
menerima semua ini. Itu sudah jalan takdirnya. Biarkan dia tenang disana,” ucap
Raka.
“Ini seperti mimpi Ka, aku
belum bisa menerima smua kenyataan ini? Baru saja tadi aku dan Ady pergi jalan.
Baru saja tadi kami jadian, kenapa secepat itu pula Tuhan mengambilnya..???”
“Kalian jadian?” tanya Raka
kaget. Kurniati hanya mengangguk. Air matanya makin deras.
“Sudahlah Ti, ikhlaskan
kepergian Ady..” kali ini Raka memeluk Kurniati. Dasar Raka kurang ajar,
batinku. Baru ditinggal pergi sebentar saja sudah berani peluk-peluk cewek
orang dia ne. Ah..tapi aku akhirnya sadar, aku sudah meninggal. Aku tidak bisa
berbuat apa-apa lagi. “Ayo kita pulang Ti, biar aku antar kamu. Nanti di
rumah..aku bantu bersihkan luka-luka kamu itu.” Kurniati hanya mengangguk.
Mereka akhirnya pulang.
Sekarang aku yang bingung.
Hendak kemana aku sekarang. Hari sudah mulai malam. Ah, aku pulang saja. Karena
motorku juga rusak parah dan sudah dibawa pergi sama polisi, terpaksa aku jalan
kaki pulangnya.
Di rumahku, banyak sekali
orang yang datang. Aku tidak menyangka kepergianku membuat tetangga-tentanggaku
berdatangan ke rumahku. Wah...rumahku penuh dengan orang, sehingga susah aku
masuknya..oh iya untungnya mereka tidak bisa melihat aku dan aku juga sadar
kalau aku bisa melewati mereka dengan mudah. Jenazahku terbujur kaku disitu,
aku sempat melihatnya sekilas. Biar ajalah..
Ya Allah ibu dan
bapakku..belum pernah aku melihat kalian menangis sedih seperti ini. Aku ikut
menangis. Maafkan anakmu ini oh ibu oh bapak.. Aku sama sekali tidak bermaksud
membuat kalian sesedih ini.. Aku juga tidak tau kenapa semua ini bisa terjadi..
aku juga tidak ingat kenapa bisa seperti ini.. Seingatku, tadi aku pergi
jalan-jalan sama Kurniati, dan ini semua terjadi.. Aku aja gak ingat gimana
kejadian kecelakaan tadi..
Hmmm...aku tidak mungkin
terus-terusan menyesali diri. Aku tinggalkan orang-orang yang sedang berkabung
itu. Aku masuk ke dalam kamar. Aku ingin istirahat. Aku capek. Siapa tau nanti
setelah aku tidur, aku terbangun dan semua kejadian ini hanya mimpi.. Ah tapi sia-sia saja usahaku. Aku memang
sudah meninggal dunia. Tidak mungkin ini mimpi. Dan besok..oh besok adalah hari
yang sangat menakutkan. Aku akan dikebumikan. Entahlah, aku tidak tau lagi apa
yang akan aku perbuat. Aku ikuti saja aturan permainan dari sang Pencipta. Amal
ibadahku yang selama ini aku kumpulkan itulah yang bakal jadi bekal yang akan
aku bawa besok. Masih untunglah aku jarang berbuat maksiat..oh aku ingat
sekarang, jangan-jangan Tuhan mengambil nyawaku dengan segera, justru khawatir
kalau akau bakal berbuat maksiat lebih banyak? Mungkinkah Tuhan berpikiran
seperti itu? Mungkin dia tau kalau aku akan begitu setelah punya pacar, makanya
segera aku diambil? Ah..itu semua hanya pemikiranku saja..bisa saja pemikiranku
ini salah..
Ya udah ya gitu aja dulu,
capek ne..aku mau istirahat. Ini malam terakhir buatku. Besok di dalam kuburan,
entahlah..biar aku saja sendiri yang menghadapi..aku belum bisa
bercerita..intinya, yah..banyak-banyaklah mengerjakan amal kebaikan, siapa sangka
kalau kematian begitu mendadak datangnya, aku saja yang udah mati seperti
tadi..masih tidak sadar, masih tidak percaya kalau aku sudah mati..oke aku
harap kita bisa berjumpa di Surga.. See u next time.. Hehehehe..
CERITA
INI HANYA FIKTIF BELAKA, MOHON MAAF JIKA ADA KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar