Senin, 09 Juli 2012

Kesurupan dalam tinjauan agama

Psychological Shock and “ Kesurupan” : First Aid and Emergency Care in Psychology Of Islam

Pendahuluan
Konsep kesurupan adalah sebuah fenomena tentang mahluk halus yang menguasai pikiran, perasaan, dan intelek (kesanggupan untuk membuat keputusan) pada diri seseorang dengan menyatu pada kesadarannya . Hasilnya adalah mahluk halus ini bisa menguasai tindakan seseorang. Orang mengalami kesurupan ketika badannya dimasuki oleh mahluk halus yang menguasai jiwanya. Oleh karena itu, tingkah laku seseorang yang kesurupan akan dikuasai oleh mahluk halus. Hampir pada setiap kasus kesurupan, seseorang yang kesurupan tidak tahu atau tidak ingat bahwa dia kesurupan .
Konsep kesurupan telah ada selama beribu-ribu tahun yang lalu, di seluruh penjuru dunia. Kasus kesurupan terjadi pada orang Eskimo di Kutub Utara maupun orang Nguni Bantu di Afrika Selatan. Bentuk dan interpretasi kesurupan merubah-rubah dari kebudayan yang satu ke kebudayaan yang lain. Kesurupan adalah fenomena yang dapat ditemukan dalam banyak agama dan di berbagai masyarakat di seluruh dunia. Dalam tradisi agama dan dongeng, seseorang yang dikuasai oleh mahluk halus kelakuannya akan menjadi tidak normal dan kepribadiannya akan berubah. Meskipun demikian, kesurupan bisa disebabkan oleh bermacam-macam unsur seperti narkotika, stres, dan hipnose . Gejala-gejalanya adalah badan ringan, berteriak histeris, menjerit-jerit dengan kata-kata tidak jelas, kejang-kejang pingsan, muka datar, bibir pucat, sering menutup mata dengan kelopak mata berkedip-kedip secara otomatis, atau perubahan lain. Orang yang kesurupan merasa sepertinya badannya mengecil atau menjadi lebih besar dari badannya dalam keadaan normal.

Di tengah masyarakat fenomena kesurupan semakin menjadi peristiwa hangat. Sebab peristiwa ini sudah mewabah ke tingkat sekolah, seperti kasus ksurupan massal siswa SMA Palupuah Kab. Agam, kesurupan massal siswa di MTsN Gunung Pangilun Padang. Terakhir kita mendengar kesurupan Massal Mahasiswa STAIKIP Ahlus Sunnah Bukittinggi bulan September 2009. Tentunya kita ingin tahu kesurupan itu bagaimana hal ihwal sebenarnya? Apa benar kesurupan tersebut sebagai peristiwa dirasukinya tubuh seseorang oleh jin atau hannya berupa gejolak jiwa bawah sadar seseorang? Lalu bagaimana pula psikologi dalam menjawab permasalahan ini? Dalam makalah ini dibahas tentang itu semua.

A. Pengertian Kesurupan

a. Kesurupan dalam Pandangan Psikolog
1. Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater dari Universitas Indonesia, menjelaskan, kesurupan adalah reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi disosiasi atau reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya, yang disebabkan oleh tekanan fisik maupun mental (berlebihan). Tetapi kalau kesurupannya massal, itu melibatkan sugesti. Reaksi disosiasi dapat terjadi secara perorangan atau bersama-sama, saling memengaruhi, dan tidak jarang menimbulkan histeria massal.
2. Sama juga dengan yang dikatakan oleh Prof. Dr. dr. H. Soewadi, MPH, Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Dia yakin kesurupan bukan disebabkan oleh masuknya makhluk halus, seperti jin, kuntilanak, atau lainnya. Soewadi memandang tekanan sosial sebagai biang kesurupan. Kesurupan, menurut ahli jiwa ini adalah gejala gangguan jiwa pada seseorang yang diikuti orang lain dan mengakibatkan hilangnya kepribadian yang asli.
3. Menurut Sartono Mukadis, pakar Psikologi Universitas Indonesia, munculnya fenomena kesurupan jika dilihat dari sudut pandang psikologi disebabkan oleh faktor labilitas kepribadian. “Yang terkena pada umumnya orang-orang yang labil dan yang mencari pegangan. Anak badung sekali pun biasanya tidak ada yang kena,”.
4. Penjelasan soal kesurupan tidak bisa tunggal. Menurut psikolog Setiyo Purwanto, S. Psi, MSi, dalam psikologi fenomena kesurupan itu bisa dijelaskan dalam tiga hal: pertama, keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya; kedua, histeria, saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya, dan ketiga, split personality, saat diri seseorang tampil dengan beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda.
5. Dunia kedokteran, khususnya psikiatri mengakui fenomena kesurupan sebagai suatu kondisi yang ditandai oleh perubahan identitas pribadi. Banyak orang mengatakan kesurupan disebabkan oleh suatu roh atau kekuatan, namun dalam dunia medis hal-hal seperti itu tidak dikenal.

Beberapa pakar psikiater menyebutkan tekanan sosial dan mental yang masuk ke dalam alam bawah sadar sebagai biang penyebab kesurupan. Banjir, tsunami, gizi buruk, ketidakadilan, upah kecil, kesenjangan yang sangat mencolok dan lainnya adalah beberapa contoh tekanan tersebut.

Seperti dikutip dari Psychnet ada beberapa gejala yang biasanya menyerang orang kesurupan diantaranya:

1. Bertindak lepas kontrol dan berbeda dari biasanya
2. Hilang kesadaran akan sekitarnya dan tidak sadar dirinya sendiri
3. Sulit membedakan kenyataan atau fantasi pada waktu yang sama
4. Perubahan nada suara
5. Kesusahan berkonsentrasi
6. Kadang-kadang hilang ingatan.
Kondisi seperti itu dipengaruhi oleh banyak faktor seperti spiritual, sosial, psikologi dan lainnya. Dengan melakukan screening dan pemeriksaan secara keseluruhan, faktor penyebabnya pun bisa diketahui.

Gejala-gejala beberapa waktu sebelum kesurupan antara lain kepala terasa berat, badan dan kedua kaki lemas, penglihatan kabur, badan terasa ringan, dan ngantuk.
Perubahan ini biasanya masih disadari oleh subjek, tetapi setelah itu ia tiba-tiba tidak mampu mengendalikan dirinya. Melakukan sesuatu di luar kemampuan dan beberapa di antaranya merasakan seperti ada kekuatan di luar yang mengendalikan dirinya.Mereka yang mengalami kesurupan merasakan bahwa dirinya bukanlah dirinya lagi, tetapi ada suatu kekuatan yang mengendalikan dari luar. Keadaan saat kesurupan ada yang menyadari sepenuhnya, ada yang menyadari sebagian, dan ada pula yang tidak menyadari sama sekali. Dalam keadaan kesurupan korban melakukan gerakan-gerakan yang terjadi secara otomatis, tidak ada beban mental, dan tercetus dengan bebas. Saat itu merupakan kesempatan untuk mengekspresikan hal-hal yang terpendam melalui jeritan, teriakan, gerakan menari seperti keadaan hipnotis diri. Setelah itu, fisik mereka dirasa lelah tetapi, mental mereka mendapat kepuasan hebat.

Frigerio menyatakan, ada tiga stadium yang dialami orang kesurupan.
Pertama, irradiation (subjek tetap menyadari dirinya tetapi ada perubahan yang dirasakan pada tubuhnya. Kedua being diside, subjek berada dalam dua keadaan yang berbeda, namun ada sebagian yang dialaminya disadarinya. Stadium ketiga disebut stadium incorporation, subjek sepenuhnya dikuasai oleh yang memasukinya dan semua keadaan yang dialami tidak diingatnya.

b. Kesurupan dan hubungannya dengan kejiwaan

Kesurupan merupakan salah satu gejala kejiwaan. Seseorang mengalami kesurupan apabila mengalami kegoncangan kejiwaan. Yang berarti dia memiliki masalah dengan kesehatan mental. Sehinga dengan demikian dia memiliki jiwa yang tidak sehat. Adapun ciri-ciri individu yang normal atau sehat adalah:
1. Bertingkah laku menurut norma-norma sosial yang diakui.
2. Mampu mengelola emosi.
3. Mampu mengaktualkan potensi-potensi yang dimiliki
4. Dapat mengikuti kebiasaan-kebiasan sosial.
5. Dapat mengenali resiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk menuntun tingkah lakunya.
6. Mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang.
7. Mampu Belajar dari pengalaman
8. Biasanya gembira.

Adapun indikator kesehatan mental menurut WHO
1. Bebas dari ketegangan dan kecemasan
2. Menerima kekecewaan sebagai pelajaran dikemudian hari.
3. Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan meskipun kenyataan itu pahit.
4. Dapat merasakan kepuasan dari perjuangan hidupnya
5. Mempunyai rasa kasih sayang dan butuh disayangi
6. Mempunyai spiritual atau agama.

Menurut zakiah darajat indikator kesehatan mental adalah:
1. Terbebas dari gangguan dan penyakit jiwa.
2. terwujudnya keserasian antara unsure-unsur kejiwaan
3. mempunyai kemampuan dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya serta memanfaatkannya untuk dirinya dan orang lain.

Istilah yang sama untuk kesurupan adalah kerasukan, kerawuhan, keranjingan. Kata surup, rasuk, rawuh, ranjing menggambarkan keadaan sesuatu yang berasal dari luar masuk ke dalam dan mengisi ruang dalam. Pengertian seperti ini sejalan dengan kamus Besar Bahasa Indonesia, yang mengartikan kesurupan sebagai kemasukan setan atau roh sehingga bertindak yang aneh-aneh.
Psikologi memberikan penjelasan mengenai fenomena kesurupan sebagai :
1. Keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya;
2. Hysteria , saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya, atau ketidakmampuan seseorang menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan dan pertentangan batin. Dalam menghadapi kesukaran itu orang tidak mampu menghadapinya dengan cara yang wajar, lalu melepaskan tanggung jawab dan lari secara tidak sadar kepada gejala-gejala hysteria yang tidak wajar.
3. Split personality , saat pada diri seseorang tampil beragam perilaku yang dimunculkan oleh pribadi yang berbeda. Penjelasan ini seringkali mengalami benturan dengan kenyataan-kenyataan budaya.
Kesurupan, harusnya kita tahu bahwa ada dua jenis kesurupan. yaitu ledakan emosi dan pengambilalihan emosi. Ledakan emosi: yang dimaksud dengan ledakan emosi adalah melepasnya sistem kontrol diri karena tekanan psikologis kuat secara internal. faktor eksternal. misalnya karena marah, seseorang langsung mengamuk seperti banteng haus.

Pengambilalihan emosi: Yang dimaksud dengan pengambilalihan disini adalah lepasnya kontrol kita dari akal sehat dan kesadaran kita, lalu ada pihak lain yang mengontrol dan mengendalikan kita.
B. Kesurupan dalam Pandangan Budaya di Indonesia.

Dari beberapa peristiwa kesurupan di Tanah Pasundan yang diamati, ada pola dalam kesurupan . Pelaku sebelum mengalami kesurupan mengalami peristiwa yang penuh tekanan. Penanganan menggunakan cara-cara normal dipandang pelaku malah membawa ke jalan buntu. Di sisi lain dalam budaya Sunda ada ketidaksadaran kolektif menyatakan bahwa tersedia jalan keluar untuk hal-hal yang sudah buntu, yaitu kesurupan. Pilihan yang nyurup pun sedemikian terbatas, yaitu beberapa tokoh yang dikenal dalam mitologi Sunda dan Harimau. Harimau diyakini sebagai alihwujud dari Silihwangi yang ngahiang/moksa. Permintaan sang tokoh saat surup dapat diperkirakan, yaitu meminta sejumlah hal kecil seperti kopi, tembakau, sirih dan permintaan lain yang merupakan simbolisasi dari masalah pelaku.

Di Bali, kesurupan atau kerawuhan dipandang sebagai hal netral. Dalam alam budaya Bali, manusia adalah jagat alit dan semesta adalah jagat agung. Insan-insan suci seringkali dipilih oleh ruh suci untuk mengkomunikasikan hal yang harus dan tidak boleh dilakukan kepada komunitas di suatu wilayah. Peranan pedanda (tetua agama) di Bali adalah mengalihbahasakan apa yang disampaikan ruh yang surup di diri pelaku kepada komunitas.

Di Jawa, kesurupan seringkali diyakini sebagai masuknya ruh-ruh jahat yang diyakini berada di teritori tertentu yang merasakan bahwa dirinya terganggu oleh pelaku. Ada sejumlah cara yang dilakukan agar sang ruh jahat segera keluar dari diri pelaku . Ada sejumlah sesaji dan ritual yang harus disiapkan agar sang pelaku selanjutnya aman.

Kamus Bahasa Inggris-Indonesia yang disusun oleh Hassan Shadily, John M. Echols.(Gramedia:1988) menyatakan Trance = kesurupan. Pengertian ini dapat kita analisis bahwa penyamaan Trance dengan kesurupan tidaklah tepat. Karena Trance kebiasaannya terjadi pada seseorang yang memaikan suatu kesenian. Dalam artian keadaanTrance dikondisikan sedemikian rupa. Berbeda dengan kesurupan yang seseorang yang sebelumnya tidak berusaha menginginkan terjadinya hal tersebut, tetapi karena factor kejiwaany yang lemah dan terganggu.
Trance berbeda dengan kesurupan. Dalam fenomena kesurupan, seseorang mengalami keadaan trance akan tetapi tidak setiap keadaan trance adalah kesurupan. Trance dapat terjadi saat seseorang fokus, relaks, menikmati, larut dan berminat atas sesuatu. Trance bisa terjadi kapan pun mulai anda menikmati membaca tulisan ini, main games, menikmati olahraga atau menari, bermain atau mendengarkan musik.

Fenomena trance mudah dilihat pada saat orang Aceh sedang menarikan Saman atau mendendangkan kisah perang sabil, Saat orang Batak sedang bagondang, saat penari piring dari ranah minang asyik menari hingga nyaman berdiri dan menggerakkan kaki di atas tumpukan beling, saat para Jawara memainkan debus di Banten, saat Aki-aki dari Garsela (Garut Selatan) ngengklak surak ibra, saat penari jaran kepang tegang dan mengunyah beling, saat penari Reog Ponorogo tubuhnya kuat membawa topeng macan dengan bulu merak sambil memanggul warok, saat penari barong di Bali mencabut keris, memejamkan mata dan menusukkan keris ke dadanya, saat penari bugis membakar tubuhnya dengan api, saat penari Maluku memainkan bambu gila, dan saat tarian perang dilakukan para pemuda dari papua.


C. Kesurupan sebagai salah satu gangguan kepribadian dalam Psikologi

Dalam kategori diagnostik utama, psikopatologi secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, yaitu neurosis dan psikosis. Neorosis pada mulanya diartikan sebagai gangguan” ketidakberesan susunan syaraf”, tetapi para psikolog akhirnya mengubah pengertiann ya dengan gangguan-gangguan yang terdapat pada jiwa seseorang.” Perubahan pengertian ini diakibatkan oleh hasil penelitian bahwa penyebab neurosis bukan hannya ketidakberesan syaraf, tetapi juga ketidakberesan sikap, perilaku, atau aspek mental seseorang.
Ciri utama neurosis ditandai dengan; (1) wawasan yang tidak lengkap mengenai sifat-sifat dan kesukarannya, 2) konflik; 3) reaksi kecemasan; 4) kerusakan parsial atau sebagian dari kepribadiannya; 5) seringkali disertai fobia, gangguan pencernaan dan tingkah laku obsesif-kupulsif. Bentuk-bentk neurosis adalah hysteria, reaksi kecemasan, neurasthenia (ditandai dengan kelemahan yang berlebihan, kelelahan, keluhan-keluhan, cacat fungsi pada jeroan dan dalam rongga perut, serta kecemasan.
Kesurupan bisa kita pahami secara ilmiah sebagai tindakan alam bawah sadar seseorang sebagai reaksi terhadap tekanan yang dihadapi. Sehingga dengan demikian kesurupan bukanlah akibat masuknya makhluk halus tetapi dia merupakan sebab dari lemah jiwa seseorang.

D. Kajian Psikologi tentang Kesurupan

Dalam kajian psikologi ada dua perspektif yang dapat digunakan untuk melihat kasus kesurupan yaitu kajian psikoanalisa dan psikologi transpersonal. Salah seorang pakar dalam psikoanalisa adalah Carl Bustav Jung.
a. Ketidaksadaran dalam pandangan Jung
C.G. Jung (Swis, 1875-1961) adalah tokoh yang paling penting untuk psikoanalisis (psikologi dalam) di samping Sigmund Freud dan Alfred Adler. Psikologi dalam (depth psychology) menemukan ketegangan antara hidup sadar dan tidak sadar dan menganalisa “ketidaksadaran” sebagai suatu lapisan psikologi manusia (di samping pikiran yang disadarinya) yang mempengaruhi perasaan, pikiran dan tindakan manusia. Ketidaksadaran itu muncul misalnya dalam mimpi-mimpi atau juga dalam mitos-mitos dan gambar-gambar religius.

Menurut C.G. Jung, ketidaksadaran punya dua lapisan, yaitu ketidaksadaran individual yang isinya dibentuk oleh pengalaman-pengalaman pribadi yang digeserkan ke bawah sadar, dan ketidaksadaran kolektif (collective unconsciousness) yang isinya merupakan warisan yang dimiliki semua manusia sebagai bagian dari kodratnya. Kedikaksadaran adalah “segala endapan pengalaman nenek moyang yang diturunkan sejak berjuta tahun yang tak dapat disebut yang sepenuhnya mengendalikan, gema peristiwa dari dunia prasejarah, yang oleh zaman selanjutnya ditambah sedikit demi sedikit penganekaragaman dan pembedaan-pembedaan”. Adanya ketidaksadaran itu bisa menjelaskan kenyataan bahwa baik dalam mimpi-mimpi individual maupun dalam budaya-budaya dan agama-agama yang berbeda, muncul motif-motif yang sama tanpa adanya hubungan tradisi satu sama lain atau diakibatkan oleh pengalaman konkret.

Ketidaksadaran adalah tempat dimana agama dan simbol-simbol religius berakar. Jadi, ketidaksadaran bukan hanya dasar kemampuan manusia untuk mengembangkan agama dan simbol-simbol religius dan “pintu masuk” yang membuka lubuk jiwa manusia untuk pengalaman religius, tetapi juga menyediakan materi-materi untuk gagasan-gagasan keagamaan.
Materi yang disediakan oleh ketidaksadaran untuk proses itu, oleh C. G. Jung disebut “arketipe”, yaitu “gambaran arkais, kuno dan universal, yang sudah ada sejak zaman yang amat silam. Dalam kata Jung, arketipe ‘merupakan bentuk atau gambaran yang bersifat kolektif yang terjadi praktis di seluruh bumi sebagai unsur kisah suci dan dalam waktu yang sama merupakan hasil asli dan individual yang asal-usulnya tidak disadari’. Arketipe itu secara laten tersembunyi dalam semua orang dan akan diberi ungkapan simbolis menurut situasi historis di mana orang itu tercakup. Konsep arketipe itu mengambil bentuk simbolis dalam berbagai ungkapan religius, dan menggambarkan solidaritas terdalam antara berbagai tradisi keagamaan umat manusia”. Jadi, simbol-simbol dasar dari agama-agama (misalnya: Tuhan, ayah/ibu, simbol-simbol untuk keberadaan transenden dan keseluruhan/keesan dll.) sudah berada di dalam ketidaksadaran setiap individu, mereka merupakan ide-ide yang pra-sadar dan primordial, dan merupakan dasar untuk pengalaman-pengalaman religius yang langsung. Mereka mencermrinkan struktur kepribadian manusia dan menunjuk kepada keberadaan yang transenden.
b. Unsur kepribadian dalam paradigma Psikoanalitik Jung

Doktrin Jung yang dikenal dengan psikologi analitis (analytical psychology), sangat dipengaruhi oleh mitos, mistisisme, metafisika, dan pengalaman religius. Ia percaya bahwa hal ini dapat memberikan keterangan yang memuaskan atas sifat spiritual manusia, sedangkan teori-teori Freud hanya berkecimpung dengan hal-hal yang sifatnya keduniaan semata. Jung mendefinisikan kembali istilah-istilah psikologi yang dipakai pada saat itu, khususnya yang dipakai oleh Freud. Ego, menurut Jung, merupakan suatu kompleks yang terletak di tengah-tengah kesadaran, yakni keakuan. Istilah Freud lainnya yang didefinisikannya kembali adalah libido. Bagi Jung, libido bukan hanya menandakan energi seksual, tetapi semua proses kehidupan yang penuh energi: dari aktivitas seksual sampai penyembuhan.
Id, ego, dan superego, adalah istilah istilah yang tak pernah dipakai oleh Jung. Sebagai gantinya, ia menggunakan istilah conciousness (kesadaran), personal unconciousness (ketidaksadaran pribadi), dan collective unconciousness (ketidaksadaran kolektif) Conciousness dan personal unconciousness sebagian dapat diperbandingkan dengan id dan ego, tetapi terdapat perbedaan yang sangat berarti antara superego-nya Freud dengan collective unconciousness, karena Jung percaya bahwa yang terakhir ini adalah wilayah kekuatan jiwa (psyche) yang paling luas dan dalam, yang mengatur akar dari empat fungsi psikologis, yaitu sensasi, intuisi, pikiran, dan perasaan. Selain itu, juga mengandung warisan memori-rasial, leluhur dan historis.


c. Kajian teori Jung terhadap Kasus Kesurupan

Indonesia merupakan bangsa kaya budaya termasuk budaya kesurupan, bahkan di daerah daerah tertentu malah sengaja untuk kesurupan, dan menjadi tontonan menarik seperti reog, kuda lumping, debus dan tari kecak. Budaya ini lah yang menjadi arketip arketip yang tersimpan dalam ketidaksadaran kolektif dan inilah yang banyak mempengaruhi terjadinya kesurupan di indonesia.

Setiap kita memiliki potensi untuk kesurupan karena memang bawah sadar kita dalam collective unconciousness berisi mitos mitos seperti memedi pocong, wewe gombel, jin penunggu rumah, jin penunggu sungai, dan banyak lagi, bahkan penunggu laut selatan. Mitos inilah yang turun menurun dari jaman dulu terus hingga sekarang. Ditambah lagi pengalaman masa kecil yang sering ditakut takuti dengan berbagai macam hantu dan segala varian nya, yang kemudian tersimpan dalam personal unconciousness sehingga kedua kenyataan itu klop membentuk suatu sistem keyakinan dan kepercayaan yang setiap saat bisa muncul bila ada pemicunya (precipitating event).

Dalam kasus kesurupan masal yang menjadi precipitating event adalah teman yang sudah kesurupan, dalam istilah hipnotisme teman yang sudah kesurupan menginduksi bawah sadar teman lainnya sehingga seperti penyakit menular yang bila tidak diisolasi akan mewabah ke yang lain.

Seringkali orang yang kesurupan memiliki kekuatan yang melebihi kemampuan biasanya, dalam beberapa kasus kesurupan dia bisa berteriak teriak hingga berjam jam, atau bisa melemparkan beberapa orang yang sedang memeganginya. Ada lagi kesurupan mampu berbicara seperti bukan dia yang bicara, dalam keadaan seperti ini seseorang yang kesurupan sedang memasuki alam bawah sadarnya tepatnya di alam ketidaksadaran kolektif dimana menurut freud ketidaksadaran tersebut mengandung kekuatan jiwa (psyche) sehingga dia memiliki kekuatan yang melebihi seperti biasanya
Mengapa orang bisa masuk kedalam alam bawah sadarnya ? sebab utamanya adalah lemahnya kesadaran seperti orang mau masuk tidur, kenapa bisa tidur jawabnya tentunya karena lemahnya kesadaran karena faktor mengantuk.
Beberapa Cara menangani kasus kesurupan;
1. Isolasi sesegera mungkin anak yang terkena kesurupan
2. Tenangkan suasana, karena kesurupan cenderung membuat suasana menjadi gaduh, ketakutan, dan crowded atau ramai.
3. Tenangkan anak yang mengalami kesurupan dengan membiarkannya, jangan dipaksa atau dipegang apalagi diteriaki terlebih di pukul pukul,
4. Kalau membaca Qur’an bacakan dengan penuh kekhusyuan dan dengan nada pelan sehingga akan menenangkan si sakit, kalau dibaca dengan menghentak hentak anak yang terkena akan semakin histeris dan teriakan dari pembacaan quran tadi akan memperkeruh keadaan. Dalam hal ini kita harus bijak dalam mendudukkan al quran jangan melecehkan quran dengan menggunakannya yang bukan pada tempatnya, gunakan quran sebagai petunjuk hidup bukan sebagai alat pengusiran jin.
5. Tempatkan si anak di tempat tertutup namun yang aman dan udara bisa keluar masuk dalam ruangan dengan baik
6. Jika keadaan semakin tidak terkendali, jangan memanggil paranormal, atau memanggil dukun dan sejenisnya. Namun panggilah dokter untuk memberikan obat penenang kepada si anak, dan jika sudah dampingi anak dengan orang tuanya
7. Mistis disekolah. Kesurupan sering terjadi biasanya di tempat yang bekas kuburan, atau dekat kuburan, karena nuansa mistis bisa menjadi condtioning event atau keadaan yang mengkondisikan terjadinya kesurupan.
8. Para guru jangan bersikap tahayul dan khurafat misalnya dengan mendatangkan ahli pengusir jin karena itu bukannya menghilangkan jin malah lingkungan sekolah menjadi tersugesti untuk kembali ke jaman animisme yaitu mempercayai Jin dan sebangsanya yang pada akhirnya akan melemahkan tauhid dan akibatnya adalah munculnya kesurupan.
E. Perawatan Terhadap Korban Kesurupan Dalam Tinjauan Psikologi Islam
Bagaimanapun kesurupan merupakan salah satu fenomena kejiwaan yang bermasalah. Terjadinya peristiwa tersebut tidak lain karena labilnya jiwa seseorang. Untuk terhindar dari hal tersebut kita harus memiliki jiwa yang sehat. Ada tiga langkah yang ditempuh dalam mencapai kesehatan mental yakni pengobatan (kuratif), pencegahan (preventif), dan pembinaan (konstruktif).

Langkah pengobatan ialah usaha yang ditempuh untuk menyembuhkan dan merawat orang yang mengalami gangguan kejiwaan, sehingga ia dapat menjadi sehat dan wajar kembali. Langkah pencegahan adalah metode yang digunakan untuk menghadapi diri sendiri dan orang .lain, guna meniadakan atau mengurangi terjadinya gangguan kejiwaan sehingga ia dapat menjaga dirinya dan orang lain dari kemungkinan jatuh kepada kegoncangan dan ketidaktentraman batin. Usaha ini, di samping usaha pribadi seseorang, juga termasuk usaha pemerintah dan masyarakat dalam memperbaiki dan mempertinggi sistim kebudayaan dan peradaban.
Langkah pembinaan di samping bertujuan untuk menjaga kondisi mental yang sudah baik, juga meliputi cara yang ditempuh orang untuk meningkatkan rasa gembira, bahagia dan kemampuannya dalam mempergunakan segala potensi yang ada seoptimal mungkin, seperti apa yang dilakukan orang dalam memperkuat ingatan, fantasi, kemauan, dan kepribadian.
Kondisi mental seseorang yang sehat berbanding lurus dengan kedalaman cara beragamanya. Dia memiliki keimanan yang kokoh, sehingga dia tidak mudah dirasuki pikiran-pikiran yang tidak wajar. Disinilah diharapkan berfungsinya ketauhidan dalam diri seseorang. Kita meyakini bahwa dalam surat al-Ikhlas ayat 2 Allah sudah menjelaskan pada kita bahwa Dialah sandaran hidup dan tempat kita mengadukan persoalan seluruh masalah kita.
Tertancapnya keimanan seseorang, akan mengendalikan sifat emosinya. Dengan tauhid akan mampu menstabilkan tekanan pada amygdale ( system saraf emosi), sehingga emosi selalu terkendali. Emosi yang tenang terkendali akan menghasilkan optimalisasi pada fungsi kerja God Spot pada lobus temporal serta mengeluarkan suara hati ilahiah dari dalam bilik peristirahatannya.

Perlu kita melihat orientasi Spiritualisme Tauhid, yaitu:
1. Ketika terjadi masalah pada dimensi fisik,
2. Maka akan terjadi rangsangan pada dimensi emosi (EQ). Namun karena aspek mental telah dilindungi oleh prinsip tauhid, maka emosi akan tetap tenang terkendali.
3. Akibatnya, suara hati ilahiah pada dimensi spiritual (SQ) bekerja dengan normal.
Keimanan merupakan solusi untuk menentramkan jiwa. Sehingga dapat membentengi jiwa dari segala pengaruh negatif. Berbicara tentang keimanan tidak terlepas dari ajaran agama Islam. Menurut Hasan al-Banna sebagaimana dikutip oleh Yahya Jaya, bahwa agama Islam merupakan semulia-mulia jalan bagi perbaikan dan pembinaan jiwa manusia, karena ajaran agama memenuhi kebutuhan jiwa dan mengendalikan manusia dalam pemenuhan kebutuhan jiwanya.
Untuk lebih jelasnya Psikologi Agama sudah memberikan solusi dalam masalah gangguan jiwa ini yaitu metode Tazkiyatul Nafs.
a. Tazkiyatul al-Nafs sebagai Metode Bimbingan dan konseling dalam Agama Islam.
Tazkiyah memiliki dasar yang kuat dan mantap dalam agama Islam. Dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa tazkiyah adalah misi utama risalah para rasul Allah, pokok pangkal ketaatan manusia, tujuan tertinggi kehidupan jiwa orang yang beriman dan bertaqwa serta padanya banyak bergantung kebahagian dan kesesengsaraan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Seperti yang dijelaskan al-Qur’an:






Artinya: Sesungguhnya Allah SWT telah member karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah megutus kepada mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa mereka (tazkiyah) serta mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Sesungguhnya sebelum kedatangan rasul, mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. ( Ali Imran ayat 164) .

Dalam penyucian jiwa tersebut tidak terlepas dari peranan al-Qur’an sebagai panduan hidup umat Islam. Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam berfungsi sebagai petunjuk, obat, rahmat, dan mau’izat (pengajaran) bagi kehidupan jiwa manusia dalam menuju kebahagiaan dan peningkatan kualitasnya sebagaimana yang ditegaskan oleh ayat berikut:






Artinya: sesunguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus dan memberikan khabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar. (QS. Al-Isra’ 9)


Berdasarkan ayat tersebut dipahami bahwa untuk pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan bahagia mesti dekat dengan agama. Dengan dalamnya jiwa keagamaan seseorang maka dia akan memiliki jiwa yang sehat. Kebahagian dan ketenangan hidup akan diraih dengan diamalkannya tuntunan Ilahi.
b. Psikoterapi dalam penanganan gangguan kejiwaan (kesurupan)

Psikoterapi berarti penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari. Metode dan teknik psikoterapi biasanya dilakukan dengan wawancara. Dalam wawancara, penderita dibimbing ke sasaran yang antara lain mengubah pola kelakuan penderita dengan jalan menunjang perkembangan positif pada kepribadiannya dengan menghilangkan hambatan dalam kepribadiannya.

Teknik utama yang digunakan oleh para psikoterapis mencakup interview kedalaman, pengkodisian, sugesti dan penafsiran. Pengusahaan komunikasi yang akrab,baik monologis maupun dialogis, antara terapis dengan pasiennya. Dalam kondisi demikian pasien didorong serta diberanikan untuk mendiskusikan segala kecemasan dan pengalamannya yang paling intim (rahasia) tanpa ada pertimbangan moral atau kritsme di pihak terapis. Sebaliknya, terapis memperlihatkan sikap yang hangat dan memahami keadaan pasien atau kliennya untuk mengekspresikan diri serta meminimalisir rasa malu.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa psikoterapi merupakan upaya pengobatan dan pemulihan kesehatan (fisik, psikis, iman dan kalbu) orang yang terganggu atau sakit melalui bantuan kejiwaan. Sehingga terciptalah pribadi yang kokoh secara emosi dan kematangan jiwanya.

F. Kesimpulan
Kesurupan merupakan reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi disosiasi atau reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya, yang disebabkan oleh tekanan fisik maupun mental (berlebihan). Tetapi kalau kesurupannya massal, itu melibatkan sugesti. Reaksi disosiasi dapat terjadi secara perorangan atau bersama-sama, saling memengaruhi, dan tidak jarang menimbulkan histeria massal.
Kesurupan hannya terjadi pada diri orang yang memiliki jiwa yang lemah, sehingga ketika mendapat tekanan tidak mampu untuk mengatasinya. Orang yang lemah dari segi jiwa atau mental melepaskan ketidak berdayaanya dengan tanpa disadarinya masuk ke dalam bawah sadarnya. Ketika berada dalam wilayah bawah sadarnya tersebut terjadilah letupan-letupan emosinya yang tertahan selama ini. ketika hal itu terjadi, diiringi dengan daya kekuatan yang lahir dari dorongan kejiwaannya. Dia meronta dan melabrak orang disekelilinginya. Saat ini yang terjadi adalah dia berada dalam alam bawah sadar.
Dengan demikian dipahami bahwa kesurupan merupakan sebab dari lemahnya jiwa seseorang dalam menghadapi realitas social. Menurut penulis kesurupan yang marak terjadi bukanlah akibat diri seseorang dirasuki oleh jin. Namun justru karena adanya letupan emosi bawah sadarnya.
Kesurupan jangan dipelihara. Bagaimanapun ini merupakan masalah kejiwaan. Oleh karenanya solusi bagi masalah ini adalah bagaimana kita menciptakan jiwa yang sehat. Dengan kondisi yang sehat dan tenang akan membuat diri seseorang memiliki ketahanan di dalam menghadapi kerasnya hidup ini. Jiwa yang tenang hanya akan didapat dari ajaran-ajaran agama. Pengamalan ajaran agama akan menjauhkan seseorang dari keputus asaan.




DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006)
AN. Ubaedy dan Abdul Kohar-Majalah Edukasiah, ttp://www.voa-islam.com/news/se-asia/2009/07/22/420/.
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power, (Jakarta: Arga, 2004)
Departemen Agama, Al-Qur’an dan terjemahnya, (Jakart: PT Syaamil Cipta Media, 2004)
Detik.com (25/3/2006).
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002)
Htt/ id.shvoong.com/social/sciences
Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004)
Siswanto, Kesehatan Mental; konsep, Cakupan dan Perkembangannya, (Yogyakarta: Andi Offset, 2007)
http://andrew-setiawan.blogspot.com/2009/02
Setiyo Purwanto, Kesurupan dalam tinjauan psikologi Islam, Google. Com, 19 Desember 2008
Winarno Surakhmad, Murray Thomas, Perkembangan Pribadi dan Keseimbangan Mental, (Bandung: Jemmars, 1980)
www.religion-cult.com
Wallace, Alfred Russel. On Miracles and Modern Spiritualism: Rise of Victorian Spiritualism. United Kingdom: Routledge, 2001
Walker, Sheila S. Ceremonial spirit possession in Africa and Afro-America: Forms, meanings, and functional significance for individuals and social groups. Brill Archive, 1973
Yahya Jaya, Bimbingan Konseling Agama Islam, ( Padang: Angkasa Raya, 2004)
Yahya Jaya, Spritualisasi; dalam menumbuhkembangkan Kepribadian dan Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Ruhama, 1994)
Zakiah Darajat, Perawatan Jiwa, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977)
Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Haji Masaagung, 1969)





MAKALAH


Psychological Shock and “ Kesurupan” : First Aid and Emergency Care in Psychology Of Islam

Dipresentasikan pada Perkuliahan Psikologi Agama Islam





Disusun oleh:

EFRIZAL
NIM: 088091168

Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Yahya Jaya, MA


PROGRAM PASCASARJANA KOSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG 1431 H/ 2010 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar