Senin, 01 Februari 2016

Mari Dewasa Menyikapi Perbedaan

  • Harusnya biasakan saja mendiskusikan perbedaan, karena ia seharusnya bukan titik tengkar. Cuma titik beda aja.
  • Jika orang punya kedewasaan berpikir maka titik beda antara Islam & Kristen yang saya ungkapkan, tidak akan dianggap sebagai titik tengkar.
  • Kita harus terbiasa dengan perbedaan, yang berbeda tetaplah dianggap berbeda. Jangan dipaksa sama.
  • Kita harus belajar lapang dada membiakan sesuatu yang berbeda dianggap berbeda.
  • Jangan tabu mendiskusikan yang berbeda, mari kita dewasa.
  • Mendiskusikan hal yang berbeda tidak perlu berujung caci maki kok, mari biasakan hidup dalam perbedaan.
  • Perbedaan Islam & Kristen itu hal biasa untuk didiskusikan, tak perlu berujung caci maki atau pertengkaran. Syaratnya dewasa dalam berpikir.
  • Mendiskusikan sesuatu yang berbeda jangan dianggap sebagai ancaman persatuan, sebab ancaman justru karena gak sanggup menyikapi perbedaan.
  • "Dah urus agama masing2 aja mas Yong" | Ini ciri orang2 yang gak sanggup hidup damai dalam perbedaan.
  • Saya miris dgn orang2 yang merespon dgn caci maki, miris bukan karena saya dicaci maki, tapi miris karena banyak orang gak siap hidup damai dalam perbedaan.
  • Sikapi saja perbedaan dgn tenang, santun dan kepala dingin. Damai lah dunia.
  • Saya membahas agama lain tanpa caci maki, lagipula untuk apa caci maki ? Apa mendiskusikan perbedaan harus pakai caci maki ?
  • Andaikan semua orang lapang dada dengan perbedaan, dan tidak memaksakan untuk sama, maka dunia ini damai.
  • Yang berbeda, tetaplah anggap berbeda. Biarkan berbeda. Jangan disama-samakan, jangan dipaksa sama.
  • Berbeda tak harus berakhir dengan tengkar dan caci maki. Beda itu soal biasa.
  • Titik beda jangan dijadikan titik tengkar. Diskusikan saja dgn akal terbuka dan hati yang lapang.
  • Perbedaan itu asyik kok untuk didiskusikan. Tidak perlu jadi ajang pertengkaran dan caci maki. Mari belajar dewasa.
  • Membicarakan agama lain dalam konteks ilmiah itu hal biasa. Jangan dijadikan ruang tengkar.
  • Jangan takut dgn perbedaan. Jangan semua dipaksa sama. Bhinneka Tunggal Ika.
  • Jangan tabukan perbedaan. Hal biasa ini. Terlalu banyak hal berbeda di dunia. Laki perempuan, hitam putih, muslim kafir dst.
  • Mendiskusi perbedaan agama2 itu hal biasa. Tak perlu disikapi dgn emosi dan caci maki. Mari lapang dada dgn perbedaan.
  • Perbedaan itu asyik kok. Belajar lah untuk hidup dalam perbedaan.
  • Yang bilang semua agama sama adalah orang2 yang gak siap dengan perbedaan. Yang berbeda dianggap sama.
  • Yang bilang semua agama sama gak cukup dewasa untuk menerima realita perbedaan.
  • Bilang semua agama sama adalah tindakan memanipulasi diri karena tak sanggup menerima kenyataan perbedaan.
  • Ada tinggi ada rendah, ada benar ada salah. Yang tinggi tak perlu dipaksa mengakui dia rendah, yang salah tak perlu dipaksa jadi benar.
  • Ada kosong ada berisi, ada baik ada buruk. Kita tidak perlu memanipulasi pikiran kita sehingga menganggap kosong itu berisi, dan menganggap buruk itu baik.
  • Kosong tetaplah dianggap kosong, isi tetaplah dianggap isi. Jangan paksa kosong = berisi, terimalah perbedaan dgn lapang.
  • Baik tetaplah dianggap baik, buruk tetaplah dianggap buruk, jangan paksakan bahwa baik = buruk. Perbedaan itu wajar.
  • Jangan paksa sesuatu selalu sama. Ada panjang ada pendek, ada asli ada palsu. Yang panjang tetaplah divonis panjang, yang palsu tetaplah divonis palsu.
  • Mengatakan Islam benar dan agama lain salah itu hal biasa. Perbedaan itu wajar. Jangan dianggap titik tengkar.
  • Jangan paksa berimajinasi bahwa semua benar. Jangan takut dgn perbedaan.
  • Memaksa diri menganggap semua sama adalah bentuk manipulasi karena tak sanggup menerima perbedaan.
  • Beda adalah beda. Jangan dipaksa sama.
  • "Jangan menilai orang dgn persepsi Anda sendiri mas Yongky" | Lhoh, jangan menilai saya dgn persepsi Anda sendiri dong. :D
  • Cara paling mudah membantah argumen orang lain adalah menemukan kontradiksi logika antara pendapatnya yang satu dgn pendapat yang lain.
  • Akal itu punya sifat harus menerima sebab akibat dan menolak kontradiksi. Untuk membantah argumen lawan, pakailah prinsip ini.
  • Gimana cara meruntuhkan argumen lawan debat ? Identifikasi argumen yang melawan fitrah akal. "Ketiadaan sebab akibat" atau "kontradiksi".
  • Kita gunakan pisau akal untuk mruntuhkan argumen lawan debat. Akal punya fitrahnya. Sehingga ketika melawan fitrah, saat itulah argumen lawan jatuh.
  • Menemukan kontradiksi dalam argumen lawan adalah cara paling ampuh meruntuhkan argumennya. Akal gak bisa berkelit.
  • Tips satu lagi tentang debat: lugas dan tahan saja, jangan mbulet. Taktis. Semakin mbulet, maka semakin terlihat gak paham.
  • "Jangan ngomongin keyakinan orang lain nanti menyakiti hati orang". | Pekerjaan nabi tiap hari mengkoreksi keyakinan orang lain dan mengajak pada Islam.
  • Menunjukkan 1+1+1=1 itu salah akan sangat menyakitkan bagi yang memegang tradisi bahwa itu benar. Tapi jangan lelah untuk ngasih tahu.
  • Al-Qur'an itu mengkoreksi keyakinan2 yang salah, dan Rasulullah penyampainya. Kebenaran itu menyakitkan bagi yang salah.
  • Benar itu tidak menyakiti hati orang lain. Ini sih namanya #AsalBapakSenang
  • Jika pikiran terbuka maka mudah seseorang menerima koreksi 1+1+1=1 itu salah, tapi kalau fanatik nenek moyang maka akan sakit hati.
  • Lantas karena yang yakin 1+1+1=1 itu sakit hati ketika saya koreksi, maka saya salah ? Maka saya dianggap benci pada yang salah ?
  • Justru karena amat sangat cinta pada orang2 yang yakin 1+1+1=1 inilah saya terus tanpa lelah mengingatkan nahwa itu salah. Semoga suatu hari paham.
  • Jadi jangan menganggap saya yangg meyakini 1+1+1=3 ini benci dan ingin menyakiti yang meyakini 1+1+1=1, saya sayang, akrena itu saya ingatkan.
  • Kasihan jika ada orang tua memberi tahu kesalahan anak, lalu dianggap sebagai tindakan menebar kebencian.
  • Betul, anak mungkin akan marah & benci sama orang tua ketika si anak ditegur saat melakukan kesalahan. Tapi apakah orang tuanya harus berhenti mengingatkan ? Harus lelah menasehati anaknya ?
  • Jadi, jauh sekali bedanya menebar kebencian dan mengkoreksi yang salah. Mengkoreksi yang salah, jauh dari caci maki.
  • Yang namanya kebenaran, bagaimanapun dan oleh siapapun disampaikan tetap akan menyakitkan bagi yang menolaknya.
  • Perkataan sederhana, "Mas, Tuhan itu Esa, yaitu Allah SWT. Beriman yuk". Ini aja sudah sangat menyakitkan bagi yang menolak.
  • "Mas, dalam Alkitab, Yesus bilang dia utusan Tuhan, percaya yuk dgn kata2nya". | Bagi yang terbuka akan menerima, tapi bagi yang menolak akan menyakitkan.
  • Tapi kenapa harus merasa tersakiti ? Lha wong saya gak maksa kok, percaya dgn ajakan saya hayuk, gak mau ya udah.
  • Orang yang mengkoreksi orang yang sedang melakukan koreksi orang dgn dalih menyakitkan yang dikoreksi maka logikanya harus dikoreksi.
  • Karena itulah da'wah menjadi berat. Seketika Anda mengajak orang lain beriman, maka seketika itu banyak yang memusuhi.
  • Dan pekerjaan da'wah yang utama adalah mengajak orang kafir untuk beriman. Bukan mengajak orang Islam untuk ber-Islam.
  • Karena itulah, para sahabat Nabi menyebar ke seluruh pelosok bumi. Termasuk disini, akhirnya cahaya Islam ini tiba di Nusantara.
  • Jika Rasulullah dan para sahabatnya berpikir "udah yang salah diamkan saja", niscaya Islam gak akan sampai ke kita.
  • Bahkan dulu Rasul sampai berdarah2 mengajak orang kafir untuk beriman. Diintimidasi, dilempari kotoran unta, bahkan diancam akan dibunuh.
  • Caci maki itu masih terlalu remeh dibandingkan apa yang dulu diterima oleh Rasul.
  • Jadi, nikmati saja beban sebagai pencerah. Sabar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar