- "Mas, agamamu benar atau salah ?" | Aku nggak tahu apakah agamaku benar atau salah | "Wah, berarti kamu toleran terhadap agama lain". :p
- "Pak Polisi, orang yang gak pakai helm benar atau salah ?" | Ah, aku nggak berani menghakimi seseorang benar atau salah. | "Pak Polisi emang toleran". :p
- Toleran kok didefinisikan sebagai kebingungan. Semakin bingung, semakin gak tahu jati diri, maka semakin disebut toleran. Dunia yang aneh.
- Bingung menentukan benar dan salah bukanlah paramater toleran atau tidak.
- "Mas, agamaku benar nggak ?" | Ndak tahu, aku gak mau menghakimi, aku sendiri gak tahu agamaku benar atau salah. | "Mas, toleran banget sih". :p
- Sekarang orang yang semakin bingung maka semakin toleran. :p
- Padahal meyakini “hanya Islam yang benar dan yang lainnya salah” bukanlah tindakan intoleransi, tapi ini adalah keteguhan prinsip.
- Justru dengan melarang Muslim meyakini hanya agamanya yang benar adalah tindakan intoleransi, anti perbedaan, dan berpikiran sempit.
- Kemanusiaan yang tidak adil dan tidak beradab (biadab). | Sesuatu tidak diletakkan pada tempatnya, dibuat bingung.
- “Pak Guru, jawabanku 2 + 2 = 5 benar atau salah ?” | Maaf Nak, Bapak gak berhak menghakimi, Bapak juga ndak tahu benar atau salah. | “Bapak toleran banget” :p
- “Jawabanku 2 + 2 = 5 benar aatau salah ?” | Nak, Bapak gak berhak menghakimimu benar atau salah. Karena kata survey, yang suka menghakimi itu orang religius. :p
- 2 + 2 = 5 | Two & Two - [MUST SEE] Nominated as Best Short Film - https://m.youtube.com/watch?v=EHAuGA7gqFU … | Hari ini, meyakini yang benar sebagai benar, dan meyakini yang salah sebagai salah adalah intoleran. #Aneh
- "Sayang, aku udah cantik belum ?" | Dek, aku gak berhak menghakimimu cantik atau tidak. Karena kata survey, yang hobi menghakimi itu orang religius. :p
- "Sayang, jenggotku bagus ndak ? Aku ndak goblok kan ? | Mas, aku gak berani menghakimimu, karena yang bertugas menghakimi jenggot itu Pak JIN/JIL itu :p
- Banyak orang mengalami “bingung logika”. | "Woyy jangan klaim kebenaran, dasar wahabi lu" | Lhoh, situ kok merasa lebih benar dari yang situ sebut wahabi ? :p
- "Pa, Mama udah kurus ya ?" | Cuma Tuhan yang berhak menghakimi mama kurus atau gak, Papa gak berhak. | "Papa toleran banget sih" :p
- "Mengkafirkan sahabat Nabi itu sesat ndak ?" | Ah, aku pun tak tahu diriku sesat atau tidak. | "Toleran dan bijak sekali mas ini". :p
- "Makan babi benar atau salah ?" | Ah, saya sendiri gak tahu saya benar atau salah. | "Toleran dan rendah hati sekali mas ini". :p
- Slogannya "semakin bingung, semakin bijak" | Ucapkan dengan nada seperti Pak JIN/JIL mengucapkan "semakin panjang, semakin goblok" :p
- Jangan mau diseret untuk tidak tahu mana benar dan mana salah, jangan mau ikut definisi bingung = toleran.
- Di era pembungkaman, di masa kebebasan direnggut penguasa, kehadiran pahlawan makin relevan.
- Hidup itu pilihan, mau jadi pahlawan atau mau jadi kaum sepilis ?
- Dan menjadi pahlawan dimulai dari bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
- Zaman dulu para pahlawan dituduh sebagai pemberontak oleh para penjajah.
- Di zamannya, para pahlawan dituduh sebagai pemberontak. Andai dulu Metro, Kompas, Tempo, Detik dkk sudah ada, mungkin kamu bingung seperti sekarang.
- “Pak Guru, VOC benar atau salah waktu datang ke Indonesia ?” | Nak, Bapak ndak bisa menghakimi mereka benar atau salah.
- Yang masih galau jati dirinya, yang masih bingung tentang benar dan salah, jelas tak bisa memilih di posisi mana dia berdiri.
- Apa yang bisa diperjuangkan seseorang jika ia sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah ?
- Jika masih galau, lalu apa yang mau diperjuangkan ?
- Di zamannya, Nabi dipropagandakan sebagai sosok yang gila dan penebar hoax. Andai media2 Indonesia sudah ada saat itu, mungkin kamu mengaminkan kalau Nabi itu gila.
- Di zamannya, Yesus juga dituduh macem2 sehingga pengikutnya sedikit sekali, bahkan sampai "dibunuh".
- Di zamannya, para pejuang kemerdekaan dipropagandakan sebagai pemberontak. Seperti para pejuang Hamas yang sekarang diprogandakan sebagai teroris.
- Pengikut pejuang akan tetap menganggap pejuang adalah pejuang, sedangkan penerus sepilis akan menganggap pejuang adalah teroris.
- Jika kamu masih menganggap penjajah dan pejuang itu sama benar, maka sebaiknya jangan bicara soal pahlawan, karena virus sepilis sudah menjangkitimu.
- Kalau masih keracunan virus bingung ala kaum JIL, sebaiknya menahan diri untuk bicara soal pahlawan.
- Jadi, menjadi pejuang itu dimulai dari membereskan logika, bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah sehingga bisa tahu apa yang diperjuangkan.
- Saat Nabi Muhammad berhijrah, pengikutnya masih sedikit. Kebanyakan terkena propaganda "Muhammad gila". | Mirip dengan propaganda media2 di Indonesia sekarang.
- Yang masih galau "aku sendiri gak tahu aku sesat atau tidak", kamu masih berat untuk diajak berjuang.
- "Aku gak berhak menghakimi 2 + 2 = 5 itu salah atau benar" | Yang model galau2 begini terlalu jauh untuk diajak menjadi pejuang.
- Pahlawan bukanlah soal gelar, tapi soal cara hidup. Yaitu orang2 yang sudah bersedia hidup untuk orang lain.
- Ada yang bersedia hidup untuk memenuhi kebutuhan makannya orang lain, ada yang bersedia hidup untuk meluruskan logikanya orang lain. | Pahlawan ini “tentang orang lain”.
- Para pejuang menyebut penjajah dengan kata “kape” atau “kafir”. | Kebayang gak kalau misal dulu media2 di Indonesia udah seperti sekarang ini ? | "Jangan suka mengkafirkan penjajah" :p
- So, mari hidup sebagai pejuang, hidup untuk orang lain.
- Digelari dan menggelari status pahlawan itu tidak penting, karena pahlawan tidak berpikir statusnya di hadapan manusia.
- Andai kaum sepilis JIL hidup di zaman ketika resolusi jihad NU dikeluarkan dan sosmed udah ada, pasti mereka bikin #ResolusiTeroris #ResolusiHateSpeech
- Dan pasti Bung Tomo udah digerebek sama Densus 88 saat teriak2 takbir.
- Untung Densus 88 belum ada saat resolusi jihad NU atau saat Bung Tomo takbir, bisa2 kita dijajah sama Inggris, karena Bung Tomo digerebek.
- Untung kaum sepilis JIL pengais dollar dan beasiswa belum hidup saat Bung Tomo melantangkan takbir. Bisa2 ada hashtag #BungTomoSapiWahabi
- Keberadaan kaum sepilis ini sangat membahayakan nasionalisme.
- Virus sepilis mematikan semangat juang untuk membangun NKRI.
- Itulah kenapa kita menebar imunitas terhadap virus2 sepilis ini, karena sangat membahayakam NKRI.
Apa tujuan hidup kita di dunia ini? Mengapa kita ada di dunia ini? Lalu kemana kita akan pergi?
Minggu, 31 Januari 2016
Anehnya, Semakin Bingung, Semakin Tidak Tahu Jati Diri, Maka Semakin Toleran
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar