Minggu, 31 Januari 2016

Anehnya, Semakin Bingung, Semakin Tidak Tahu Jati Diri, Maka Semakin Toleran

  • "Mas, agamamu benar atau salah ?" | Aku nggak tahu apakah agamaku benar atau salah | "Wah, berarti kamu toleran terhadap agama lain". :p
  • "Pak Polisi, orang yang gak pakai helm benar atau salah ?" | Ah, aku nggak berani menghakimi seseorang benar atau salah. | "Pak Polisi emang toleran". :p
  • Toleran kok didefinisikan sebagai kebingungan. Semakin bingung, semakin gak tahu jati diri, maka semakin disebut toleran. Dunia yang aneh.
  • Bingung menentukan benar dan salah bukanlah paramater toleran atau tidak.
  • "Mas, agamaku benar nggak ?" | Ndak tahu, aku gak mau menghakimi, aku sendiri gak tahu agamaku benar atau salah. | "Mas, toleran banget sih". :p
  • Sekarang orang yang semakin bingung maka semakin toleran. :p
  • Padahal meyakini “hanya Islam yang benar dan yang lainnya salah” bukanlah tindakan intoleransi, tapi ini adalah keteguhan prinsip.
  • Justru dengan melarang Muslim meyakini hanya agamanya yang benar adalah tindakan intoleransi, anti perbedaan, dan berpikiran sempit.
  • Kemanusiaan yang tidak adil dan tidak beradab (biadab). | Sesuatu tidak diletakkan pada tempatnya, dibuat bingung.
  • “Pak Guru, jawabanku 2 + 2 = 5 benar atau salah ?” | Maaf Nak, Bapak gak berhak menghakimi, Bapak juga ndak tahu benar atau salah. | “Bapak toleran banget” :p
  • “Jawabanku 2 + 2 = 5 benar aatau salah ?” | Nak, Bapak gak berhak menghakimimu benar atau salah. Karena kata survey, yang suka menghakimi itu orang religius. :p
  • 2 + 2 = 5 | Two & Two - [MUST SEE] Nominated as Best Short Film - https://m.youtube.com/watch?v=EHAuGA7gqFU … | Hari ini, meyakini yang benar sebagai benar, dan meyakini yang salah sebagai salah adalah intoleran. #Aneh
  • "Sayang, aku udah cantik belum ?" | Dek, aku gak berhak menghakimimu cantik atau tidak. Karena kata survey, yang hobi menghakimi itu orang religius. :p
  • "Sayang, jenggotku bagus ndak ? Aku ndak goblok kan ? | Mas, aku gak berani menghakimimu, karena yang bertugas menghakimi jenggot itu Pak JIN/JIL itu :p
  • Banyak orang mengalami “bingung logika”. | "Woyy jangan klaim kebenaran, dasar wahabi lu" | Lhoh, situ kok merasa lebih benar dari yang situ sebut wahabi ? :p
  • "Pa, Mama udah kurus ya ?" | Cuma Tuhan yang berhak menghakimi mama kurus atau gak, Papa gak berhak. | "Papa toleran banget sih" :p
  • "Mengkafirkan sahabat Nabi itu sesat ndak ?" | Ah, aku pun tak tahu diriku sesat atau tidak. | "Toleran dan bijak sekali mas ini". :p
  • "Makan babi benar atau salah ?" | Ah, saya sendiri gak tahu saya benar atau salah. | "Toleran dan rendah hati sekali mas ini". :p
  • Slogannya "semakin bingung, semakin bijak" | Ucapkan dengan nada seperti Pak JIN/JIL mengucapkan "semakin panjang, semakin goblok" :p
  • Jangan mau diseret untuk tidak tahu mana benar dan mana salah, jangan mau ikut definisi bingung = toleran.
  • Di era pembungkaman, di masa kebebasan direnggut penguasa, kehadiran pahlawan makin relevan.
  • Hidup itu pilihan, mau jadi pahlawan atau mau jadi kaum sepilis ?
  • Dan menjadi pahlawan dimulai dari bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
  • Zaman dulu para pahlawan dituduh sebagai pemberontak oleh para penjajah.
  • Di zamannya, para pahlawan dituduh sebagai pemberontak. Andai dulu Metro, Kompas, Tempo, Detik dkk sudah ada, mungkin kamu bingung seperti sekarang.
  • “Pak Guru, VOC benar atau salah waktu datang ke Indonesia ?” | Nak, Bapak ndak bisa menghakimi mereka benar atau salah.
  • Yang masih galau jati dirinya, yang masih bingung tentang benar dan salah, jelas tak bisa memilih di posisi mana dia berdiri.
  • Apa yang bisa diperjuangkan seseorang jika ia sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah ?
  • Jika masih galau, lalu apa yang mau diperjuangkan ?
  • Di zamannya, Nabi dipropagandakan sebagai sosok yang gila dan penebar hoax. Andai media2 Indonesia sudah ada saat itu, mungkin kamu mengaminkan kalau Nabi itu gila.
  • Di zamannya, Yesus juga dituduh macem2 sehingga pengikutnya sedikit sekali, bahkan sampai "dibunuh".
  • Di zamannya, para pejuang kemerdekaan dipropagandakan sebagai pemberontak. Seperti para pejuang Hamas yang sekarang diprogandakan sebagai teroris.
  • Pengikut pejuang akan tetap menganggap pejuang adalah pejuang, sedangkan penerus sepilis akan menganggap pejuang adalah teroris.
  • Jika kamu masih menganggap penjajah dan pejuang itu sama benar, maka sebaiknya jangan bicara soal pahlawan, karena virus sepilis sudah menjangkitimu.
  • Kalau masih keracunan virus bingung ala kaum JIL, sebaiknya menahan diri untuk bicara soal pahlawan.
  • Jadi, menjadi pejuang itu dimulai dari membereskan logika, bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah sehingga bisa tahu apa yang diperjuangkan.
  • Saat Nabi Muhammad berhijrah, pengikutnya masih sedikit. Kebanyakan terkena propaganda "Muhammad gila". | Mirip dengan propaganda media2 di Indonesia sekarang.
  • Yang masih galau "aku sendiri gak tahu aku sesat atau tidak", kamu masih berat untuk diajak berjuang.
  • "Aku gak berhak menghakimi 2 + 2 = 5 itu salah atau benar" | Yang model galau2 begini terlalu jauh untuk diajak menjadi pejuang.
  • Pahlawan bukanlah soal gelar, tapi soal cara hidup. Yaitu orang2 yang sudah bersedia hidup untuk orang lain.
  • Ada yang bersedia hidup untuk memenuhi kebutuhan makannya orang lain, ada yang bersedia hidup untuk meluruskan logikanya orang lain. | Pahlawan ini “tentang orang lain”.
  • Para pejuang menyebut penjajah dengan kata “kape” atau “kafir”. | Kebayang gak kalau misal dulu media2 di Indonesia udah seperti sekarang ini ? | "Jangan suka mengkafirkan penjajah" :p
  • So, mari hidup sebagai pejuang, hidup untuk orang lain.
  • Digelari dan menggelari status pahlawan itu tidak penting, karena pahlawan tidak berpikir statusnya di hadapan manusia.
  • Andai kaum sepilis JIL hidup di zaman ketika resolusi jihad NU dikeluarkan dan sosmed udah ada, pasti mereka bikin #ResolusiTeroris #ResolusiHateSpeech
  • Dan pasti Bung Tomo udah digerebek sama Densus 88 saat teriak2 takbir.
  • Untung Densus 88 belum ada saat resolusi jihad NU atau saat Bung Tomo takbir, bisa2 kita dijajah sama Inggris, karena Bung Tomo digerebek.
  • Untung kaum sepilis JIL pengais dollar dan beasiswa belum hidup saat Bung Tomo melantangkan takbir. Bisa2 ada hashtag #BungTomoSapiWahabi
  • Keberadaan kaum sepilis ini sangat membahayakan nasionalisme.
  • Virus sepilis mematikan semangat juang untuk membangun NKRI.
  • Itulah kenapa kita menebar imunitas terhadap virus2 sepilis ini, karena sangat membahayakam NKRI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar