Minggu, 31 Januari 2016

Kemalasan Berpikir Bangsa Kita Yang Menjadikan Kehilangan Logika & Nalar

  • Berat jika fanatik dan ideologi kebencian dijadikan landasan diri. Sulit menerima ajakan kebaikan, kedamaian, dan berdiri untuk kebenaran.
  • Berpikir, berpikir, berpikir. Membaca, membaca, membaca. Ini yang langka.
  • Berpikir adalah akvitas yang paling banyak menyita energi dalam tubuh, sekitar 20% total kalori, tapi ya tetap harus dilakukan.
  • Ada orang menolak Islam karena pikirnya negara pemerkosaan terbanyak adalah negara Arab.
  • Ketika tahu faktanya 4 dari 5 negara pemerkosaan tebanyak di dunia adalah negara mayoritas Kristen, apa jadi pindah agama ? Nggak.
  • Ada yang menolak Islam karena Al-Qur'an membolehkan poligami.
  • Eh pas tahu ternyata menikahi 1000 perempuan sekaligus tanpa ada yang dicerai tidak melanggar satu pun ayat Alkitab, dan apa jadi menolak Kristen ? Nggak.
  • Sehingga jelas, kasus pemerkosaan bukan jadi standar milih agama. Tidak ada alasan lain: mengikuti nenek moyang saja. Fanatik.
  • Sehingga jelas poligami bukan parameter memilih agama karena toh Alkitab membolehkan. Jadi sebab memilih agamanya pasti sekedar mengikuti nenek moyang.
  • Menolak Islam karena kasus terorisme. Pas tahu ternyata kasus teror terbanyak pelakunya justru orang Barat, tapi tetap saja menolak Islam.
  • Sehingga terorisme juga sebenarnya bukan parameternya memilih agama. 
  • Saya gak habis pikir bagaimana ada banyak orang bisa kemana2 membawa kepala yang penuh dengan kerumitan logika.
  • Padahal, manusia sudah diberi akal oleh Allah. Dimana akal ini didesain untuk menolak kontradiksi.
  • Kalau bukan kasus pemerkosaan, kalau bukan poligami, lantas apa parameter menolak Islam ? Karena fanatik ikut agama nenek moyang. #Okesiph
  • Berpikir itu berat, aktivitas yang paling banyak menyita energi.
  • Karena itulah tidak diperlukan lahir dari keluarga muslim untuk seseorang bisa ber-Islam, karena setiap manusia diberi akal.
  • Akal yang sudah didesain Allah untuk bisa mengenali jejak2 kekuasaan-Nya.
  • Bagaimana seseorang bisa nyaman membawa kepala yang penuh kerumitan logika dan kontradiksi ? Kalau saya sih gak nyaman banget.
  • Itulah kenapa Allah memerintahkan “iqra” (membaca). Itulah kenapa Allah memerintahkan manusia berpikir.
  • Beres dah kalau orang mau berpikir. Karena semua bermula dari berpikir.
  • Berpikir menciptakan pengetahuan, pengetahuan menciptakan reaksi dalam hati, tergeraknya hati membuahkan amal.
  • Pekerjaan terberat adalah pekerjaan mengajak Indonesia berpikir.
  • Pekerjaan terberat untuk membangkitkan Indonesia bukan memajukan sains, bukan memajukan ekonomi, tapi menjadikan berpikir menjadikan kebiasaan kolektif.
  • Karena jika orang bersedia berpikir, maka pilihan agama jadi benar, pilihan politik jadi benar, pilihan istri jadi benar, pilihan ekonomi jadi benar dst.
  • Akal punya 2 pisau: prinsip sebab akibat dan anti kontradiksi.
  • Dengan akal ini, amanah menjadi pemakmur bumi diberikan kepada manusia.
  • Dampak penjajahan begitu berat pada negeri ini. Kerusakan pola pikir, kerusakan jiwa membuat kebangkitan terasa jauh.
  • Kalau mau berpikir maka pilihan politik kita benar, pilihan kita soal presiden jadi benar, kehidupan negara jadi baik.
  • Bukan pergi ke bulan tugas terberat membenahi negeri ini, tapi pekerjaan mengajak berpikir, itulah yang terberat. Dan itulah da’wah itu sendiri.
  • Partai terkorup dipilih, partai terbersih dibully. Sakit bener kan jiwa dan pikirannya.
  • Bagaimana bisa kepala membawa kontradiksi kemana2 ? Apa gak pusing dan berat itu kepalamu ?
  • Masyarakat menarik posisi artis dalam strata sosial di Indonesia. Segalanya menjadi milik publik termasuk pernikahannya, prosesi melahirkanya, bahkan kematiannya.
  • Artis menjadi kelompok manusia dengan strata sosial paling tinggi di negeri ini. Perlombaan menjadi artis menjadi ajang yang tak pernah sepi.
  • Entah apa motifnya, jalan singkat menuju sukses ? Tapi apa itu sukses ? Terkenal ? Uang banyak ? Disorot kamera ?
  • Ada artis yang pernikahannya seolah2 setiap orang di negeri ini sedang menikah. Ada artis yang melahirkan, sehingga seolah2 seluruh negeri sedang melahirkan.
  • Bahkan untuk menjadi pemimpin, perlu jadi artis dulu, jago akting, terkenal, sehingga mudah terpilih.
  • Pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Rakyat menganggap bahwa aktor adalah manusia dengan strata tertinggi di negeri ini, maka jangan heran jika pemimpin yang dihasilkan pun kini juga seorang aktor.
  • Jangan mikir ke bulan dulu, terlalu jauh. Pondasinya rapuh, mulai dulu dari berpikir sebagai habit bangsa ini. Baru ngomongin pergi ke bulan.
  • Begitu pula dengan memandang kekafiran, Al-Qur'an menjelaskan amalan orang kafir itu sia2. Salahnya kekafiran jauh lebih besar dari kebaikan apapun.
  • Dalam Al-Qur'an disebutkan semua manusia itu rugi, kecuali beriman, beramal shalih dst. Dan cara tercepat untuk rugi sebagai manusia adalah dgn menjadi kafir.
  • Kita wajib memanfaatkan waktu sebaik2nya. Dan cara paling cepat membuat seluruh waktu jadi sia2 adalah dgn menjadi kafir.
  • Dengan posisi seperti itu, dengan sia2nya seluruh amal, maka saya berpikir cuma ada 2 alasan untuk memilih tetap melanjutkan hidup.
  1. Masih adanya peluang untuk mati dalam keadaan Islam.
  2. Atau jika tidak, dunia sebagai tempat satu2nya menikmati kesenangan, hiduplah selama mungkin di dunia ini. Jangan mati.
Jika sudah memastikan menutup peluang alasan 1 dan 2, menurut logikamu, apa opsi ketiganya ?
  • Sesederhana itu logikanya. Jadi jangan pernah menduga2 tentang Tuhan.
  • Hari2 ini banyak orang merasa jadi Tuhan, sehingga kafir dianggap muslim. Kenapa harus merasa jadi Tuhan ?
  • Janganlah memaksakan kehendak, jangan melarang muslim meyakini Al-Qur'an yang mengkafirkan kekafiran. Toleranlah sebab ini domain aqidah. :))
  • Toleranlah pada muslim yang meyakini Al-Qur'an bahwa yang menuhankn selain Allah adalah kafir. Jangan brutal, jangan suruh kami membuang & menolak Al-Qur'an. :))
  • Yang penting muslim berbuat baik, akhlaq baik, tidak memaksakan orang kafir untuk jadi muslim. Inilah toleransi.
  • Kan sepilis bilang kebenaran relatif, jadi mari benarkan muslim yang meyakini Al-Qur'an yang mengkafirkan kekafiran. Konsisten lah pada logika.
  • Tidak mengkafirkan kekafiran adalah bentuk kekafiran. Tidak mengkafirkan kekafiran alias membenarkan agama yang menuhankan selain Allah, maka itu adalah kekafiran.
  • Oleh karena itu hargailah keyakinan muslim, ia tidak punya pilihan lain selain mengkafirkan kekafiran. Muslim dilarang menganggap kekafiran sebagai bagian dari Islam.
  • Disiplin lah dalam berlogika, ini soal sederhana. Tak serumit kalkulus 2 atau kuliah "medan".
  • Mengkafirkan kekafiran bukan saja boleh, tapi keharusan. Bagaimana bisa orang mengatakan dirinya muslim tapi membenarkan kekafiran ?
  • Bagaimana bisa orang meyakini "tiada Tuhan selain Allah", tapi juga membenarkan agama lain yang menuhankan selain Allah. Ini gagal logika.
  • Sehingga mengkafirkan kekafiran adalah keharusan logika. Marilah logis. Mari disiplin dalam berlogika.
  • Islam mengkafirkan si kafir, tapi Islam juga memerintahkan berbuat baik kepada si kafir ini. Toleransi dalam ketegasan prinsip.
  • Islam bukanlah agama bingung. Jadi untuk bersikap toleran bukan dengan cara menganggap yang salah itu benar.
  • Yang memperkosa Al-Qur'an dgn bilang "semua agama benar " & "Allah menciptakan semua agama" justru dianggap toleran. Zaman bingung. Logika jungkir balik.
  • Semoga kita istiqomah mengkafirkan kekafiran. Karena jika tidak, maka kerugian yang tak terhingga justru menghampiri kita sendiri.
  • Dalam konteks "mengkafirkan non Muslim", yang kita maksud adalah meyakini non Muslim sebagai kafir. Tapi kita tetap harus berbuat baik pada pemeluknya. Kita gak boleh zhalim. Kita harus sayang.
  • Coba check deh status2 saya keseluruhan. Tak satu pun memanggil kafir dalam bentuk "orang kedua tunggal atau jamak".
  • Penjelasan kekafiran yang kita lakukan bukan dalam konteks sapaan. Tapi dalam konteks keyakinan bahwa apa yang diyakini non Muslim itu adalah penyebab kekafiran.
  • Setahu saya cuma surah Al Kafiruun yang menggunakan kata "kafir" sebagai sebutan orang kedua (sapaan langsung). | "Hai orang2 kafir,....."
  • Al-Qur'an sendiri sangat jarang menggunakan kata kafir sebagai sebutan orang kedua tunggal atau jamak. | Yang banyak adalah sebagai orang ketiga.
  • Kebosanan terhadap Islam yang saya alami dulu, saya pikir adalah karena kegagalan pengikatan makna dalam pengajaran.
  • Problem pengikatan makna ini bisa terjadi ketika berada di bangku sekolah. Sehingga sesuatu tsb hanya rumus2 yang dihafal.
  • "Mengikat makna" adalah hal yang hilang dalam pembelajaran. Ini yang saya alami dulu ketika berada di bangku sekolah.
  • Tidak diberi tahu tujuan belajar adalah salah satu hal yang membuat membuat proses belajar jadi membosankan.
  • Kenapa belajar IPA ? Kenapa belajar fisika ? Kenapa belajar biologi ? Dari mana awalnya ?
  • Kenapa belajar pengelompokkan makhluk hidup ? Kenapa ada taksonomi ? Kenapa pengelompokkan sekarang tidak hanya hewan dan tumbuhan ?
  • "Besaran dan satuan", "satuan baku", "satuan tidak baku", kebanyakan guru mengajarkan hafalan ketimbang esensinya. Padahal esensinya itu luar biasa. Tanpa besaran dan satuan, susah kita hidup.
  • Harusnya diajarin, coba kamu nanya ke temen: "berapa tinggimu ?" "Berapa lama waktu ke sekolah ?" dst. Itu semua soal besaran dan satuan.
  • Tinggi itu termasuk besaran panjang, dan jawabannya harus pakai satuan. Satuan bisa baku dan tidak baku.
  • Kalau temenmu menjawab, "tinggiku setinggi lemari, setinggi papan tulis, tinggiku 50 jengkal". Ini disebut satuan tidak baku.
  • Kalau kamu isi form, ditanya tinggimu, kamu jawab: "setinggi lemari" atau "setinggi papan tulis". Gak semua orang akan mengerti.
  • Sehingga perlu dibuat satuan yang dipahami oleh semua orang sedunia ini. Ada yang disebut meter, sentimeter, kaki, mil. Ini semua satuan baku.
  • Itulah pentingnya satuan yang gak dimengerti semua orang. Buku pelajaran menyebutnya "satuan baku". Kan enak kalau belajar begini.
  • Dan realitanya saat ini anak2 gak bisa belajar mengikat makna. Anak2 gak dapet esensinya. Pembelajaran "mengikat makna" itu sangat penting.
  • Saya sih gak mau kelak mengajari anak saya dengan sistem yang seperti itu. Dia harus dapet esensinya.
  • Materi pendidikan di negeri ini kacau dan turun temurun diajarkan ke anak didik. Misal: "tumbuhan putri malu" sebagai contoh "peka terhadap rangsang". Anak pun gak bisa mengikat makna apa yang dimaksud "peka terhadap rangsang".
  • Padahal tinggal kasih contoh, tiang listrik dipukul diam saja, temen kamu dicubit kesakitan dan marah. Ini bedanya makhluk hidup dan tidak.
  • Kegagalan mengajarkan esensi, perbedaan mendasar jika sesuatu itu tidak ada. Itulah yang membuat pendidikan tidak bermakna & membosankan.
  • Esensi2 pelajaran tidak saya dapat di bangku sekolah. Tapi saya masih tersisa tujuan: semua ini agar bisa mengerjakan soal2 Ujian Tulis masuk UGM.
  • Setelah itu, saya gak ngerasa ada tujuan, bagi saya waktu itu Islam gak menarik. Dalam pikiran saya Islam membosankan.
  • Enaknya belajar di PKS itu, model belajarnya pakai "peta konsep". Dimulai dari yang besar diturunkan secara detail. Jadi dapat pemaknaannya.
  • Ajari anak2 Anda dengan pertanyaan2 "mengapa", suruh anak2 Anda mengajukan pertanyaan tsb. Nanti anak2 pasti akan semangat ketika belajar.
  • Kalau udah bisa ngerjain soal Ujian Tulis UGM, lantas untuk apa ilmu ini ? Jadilah malas untuk tahu lebih lanjut. Itulah kegagalan ilmu menyampaikan makna.
  • Pembelajaran yang "asal hafal" menghasilkan generasi "pokoknya". Jadilah Indonesia seperti sekarang. Generasi malas berpikir.
  • Karena "pokoknya", maka akan gagal untuk mensintesa sesuatu. Sehingga pasti gagal untuk "make a product". Jadilah negeri ini pengimpor. Gampang dicekok'i.
  • Lebih jauh lagi, pendidikan tersekulerkan sehingga orang belajar (termasuk belajar agama) tidak membuat makin beriman. Ini produk sekularisme.
  • Sesuatu tinggal kita tanya sampai ujungnya, maka ketemu Allah sebagai jawabannya. Tuhan adalah kausa prima.
  • Sesuatu tinggal kita tanya "kalau sesuatu ini gak ada, apa akibatnya ?". Maka kita akan ketemu jawaban "kenapa" atas sesuatu tsb.
  • Misal, saat belajar tentang jaringan: "jaringan otot, jaringan ikat dll". Paling enak ngejelasin itu "jika tidak ada jaringan ikat, lalu apa yang terjadi ?"
  • Jawab dulu "kenapa", baru kita belajar detailnya. | Belajar Islam pun demikian. Ini yang tidak saya temukan di bangku sekolah.
  • Contoh belajar "jaringan ikat", kalau ditanya sampai ujung maka kita akan ketemu jejak penciptaan dan kebesaran Allah SWT.
  • Kita ngomongin tentang gerak, maka kita akan menghafal soal GLB dan GLBB. Tapi gak dapet esensinya.
  • Kita ngomongin gravitasi, hanya sebagai sebuah konstanta yang tak membuat kita menangkap esensinya dan tak membuat makin beriman.
  • Jadi sistem pendidikan kita tak sekedar tidak mengikat makna. Tapi juga tidak membuat makin dekat dengan Allah.
  • Harusnya saat kita belajar fisika, biologi, atau kimia, bercucuran lah air mata kita sambil menyebut nama-Nya: Allah, Allah, Allah.
  • Sedih banget kalau ada dokter atau ilmuan tapi dia ingkar (kafir). Padahal kerjaannya setiap hari meneliti keajaiban.
  • Allah adalah kausa prima, kenapa banyak yang memilih ingkar ? Ampun Ya Allah, tunduk & menyerah karena tidak mampunya aku menandingi ilmu-Mu. Maha Cerdas Engkau. :'((
  • Cita2 saya ingin mendirikan sekolah yang kurikulumnya adalah menanyakan sesuatu sampai ujungnya. Sampai mentok di kausa prima.
  • Setiap pelajarannya akan mengikat makna dan makin membuat anak didik beriman pada pencipta-Nya. Sehingga tidak menjadi produk sekuler.
  • Gini loh maksud saya, kalau mau ngajarin anak didik, anak dijelaskan esensinya. Jadi belajar itu menyenangkan dan gak cuma "pokoknya begini" dan "pokoknya begitu".
  • Menjawab pertanyaan "mengapa" itu sulit, karena perlu berpikir. Indonesia sedang mengalami ini. Mayoritas malas berpikir.
  • Misal, apa sebab kita bisa berjalan di bumi ? Ada gravitasi. Apa sebab ada gravitasi ? Penciptaan. | Ini kausa prima.
  • PR pendidikan kita adalah BERPIKIR, bukan menghafal.

  • Hari2 ini orang dibuat bingung oleh gerombolan sepilis, apakah ini benar atau salah. Karena yang ngomong adalah profesor berjilbab atau doktor berjubah santri.
  • Di era pembusukan ini perlu banyak berdoa, berlindung kepada Allah agar hidayah tetap di hati. Jarang ada orang yang bersedia berpikir.
  • Zaman dimana yang buruk dipandang baik, dan yang baik dipandang buruk.

  • Eranya jungkir balik. Eranya pembusukan. Zaman dimana yang salah & yang buruk dipuja2.
  • Yang baik dipandang buruk, yang buruk dipandang baik dan dielu2kan. Banyak orang dibuat bingung mana yang benar dan mana yang salah.

  • Sejatinya kita belum merdeka, cuma fisik tentara penjajah aja yang gak ada. Tapi penjajahan politik, ekonomi, pemikiran terus berlangsung.
  • Palestina lebih merdeka dari kita. Pemerintahan mereka bukan pemerintahan boneka lagi. Mereka bisa mnegatur sendiri negaranya.
  • Bahkan Palestina lebih merdeka dari seluruh negara di dunia. Mana ada negara di dunia yang berani nantangin Israel, selain Palestina.
  • Bukan keseluruhan Palestina, tapi Gaza. Seluruh dunia Islam masih terjajah, tapi Gaza adalah wilayah paling merdeka dari seluruh dunia Islam.
  • Cuma Gaza yang pemerintahannya berani menentang dikangkangi oleh kepentingan Israel. Indonesia saja tunduk kok sama Israel.
  • Indonesia dititipi isu ISIS, langsung manut. Dititipi urusan freeport, langsung manut. Kita belum merdeka. Sama sekali belum.
  • Penjajahnya emang udah pergi, tapi penjajahannya tidak turut pergi. Lebih parah malah. Dikeruk sekeruk-keruknya. Hingga kita mati di lumbung padi.
  • Kita tetap terjajah, politik terjajah, ekonomi terjajah, pendidikan terjajah, bahkan media terjajah, hingga pikiran pun terjajah. Jadi kita ini sama sekali belum merdeka.
  • Gaza itu jiwanya merdeka, mereka berani lantang menolak dijajah. Sedangkan kita tak menyadari kalau masih dijajah.
  • Dulu penjajah perlu Snouck Hurgronje, sekarang gak perlu . Udah banyak kaum sepilis yang siap jadi serdadu dgn upah beasiswa.
  • Dulu sepilis jumlahnya sedikit, sekarang banyak dan tak menyadari kalau dia sepilis. Karena korban media.
  • Hari ini mayoritas tertidur & memilih tunduk. Mereka memilih terjajah. Hanya segelintir yang sadar bahwa kita masih terjajah.
  • Fase perjuangan memerdekakan NKRI sebenar2nya merdeka dari penjajahan. Dan ini jauh lebih berat dari Gaza.
  • Mungkin kita negara paling terjajah. Terjajah dan tanpa perlawanan. Kita adalah tuan rumah konferensi negeri2 terjajah.
  • Insya Allah, Gaza akan mengoyak2 Israel di perang selanjutnya. Kalau Indonesia ? Masih berkutat virus penjajahan sejenis prostitusi online.
  • Di Gaza, ribuan orang hafizh Al-Qur'an tercipta setiap tahunnya. Di sini rumah tahfizh justru digerebek dgn dalih teroris. Kita sama sekali belum merdeka.
  • Bangsa ini masih terlalu takut untuk menolak penjajahan. Yang baru kita raih cuma sebatas bisa membacakan teks kemerdekaan, tapi kemerdekaan yang sejati masih jauh, karena kita masih terjajah.
  • Dimulai dari merdeka dalam pikiran. Jangan mau dijajah oleh media2 yang sudah terjajah oleh asing juga.
  • Dulu fisik dijajah, tapi pikiran para pejuang terbangun, dan tahu bahwa dijajah. Hari ini fisiknya seolah merdeka, tapi pikiran dijajah, dan tidak sadar kalau dijajah.
  • Terjajah pikiran jauh lebih berbahaya daripada dijajah fisik. Karena keterjajahan pikiran berarti kebodohan.
  • Betul kata Soekarno, perjuangan kita lebih berat, karena melawan bangsa sendiri yang tak sadar jadi serdadu asing.

  • Dulu kerajaan Protestan Belanda membutuhkan sosok Snouck Hurgronje untuk jadi serdadunya. Sekarang gak perlu, karena udah ada gerombolan sepilis.

  • Gaza punya seluruh rakyat yang jiwanya 100% adalah pahlawan. Sedangkan Indonesia sulit sekali mencari pahlawan.
  • Mengendalikan dunia Islam bisa dgn senjata seperti Israel ke Gaza. Tapi paling efektif menggunakan boneka2 seperti di Indonesia.
  • Ndak perlu drone untuk membunuh jiwa rakyat Indonesia. Cukup disebarkan hedonisme "benar adalah semua yang saya inginkan" maka "terbunuh" lah jiwa.
  • Apa yang tidak didapat asing tehadap Indonesia ? Tidak ada. Seluruh ketaatan mereka dapatkan.
  • Memulihkan jiwa yang tertidur jauh lebih sulit. Gaza wilayah yang tak sekedar bangun secara kolektif, tapi sudah bergerak melawan.
  • Apakah media bisa mengendalikan rakyat Gaza untuk mengikuti apa yang diinginkan Israel dan Barat ? Tidak. Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Ini sedang terjadi.
  • Gaza berada di garis paling depan dalam perlawanan. Indonesia masih jauh di belakang. Kita masih serba tunduk.
  • Kita terus berhutang, uang siapa yang kita pakai saat kita berhutang ? Uang kita sendiri yang dirampok mereka.
  • Ini bahayanya penjajahan pikiran. Tak ada energi untuk melawan. Bahkan parahnya kalian menganggap situasi ini adalah kemerdekaan.
  • Tugas kita pertama adalah membangunkan jiwa2 yang tertidur, sehingga sadar akan situasi keterjajahan ini. Makanya saya ajak kalian ayo tiap hari bangunkan jiwa2 yang masih tertidur.
  • Karena menjajah orang yang "tertidur" itu mudah. Daripada menjajah yang terbangun kemudian melawan meski sekedar dgn lemparan kerikil2.
  • Hari ini kita tak bisa mengatur negeri kita sendiri tanpa tekanan. Sedangkan pemerintah Gaza bisa. Itulah makna kemerdekaan yang sebenarnya.
  • Jika kita secara kolektif sudah terbangun, maka kita bisa melawan penjajahan ini. Tapi jika tertidur ? Tidak sadar dijajah dan malah menikmati ? Berat.
  • Di Gaza, bangunan Masjidnya yang di bom agar tidak ada yang ibadah ke Masjid.
  • Di Indonesia jamaah Masjid yang dibom pikirannya supaya tidak ke Masjid. Ini jauh lebih berbahaya. Penjajahan pikiran.
  • Israel kirim bom dan rudal ke Gaza. Ke Indonesia cukup kirim "candu". Jadilah lumpuh total pikiran mayoritas orang di negeri ini.
  • Lalu apa solusinya ? Solusinya adalah da'wah, agar kesadaran menjadi kolektif. Ayolah bangun, berdirilah untuk kebenaran dan keadilan sahabat2ku.
  • Kalau urusan berpikir beres, maka urusan membangkitkan Indonesia itu sepele. Rasulullah membangun peradaban cuma 23 tahun, karena dimulai dari berpikir.
  • Pekerjaan 23 tahun, tapi efeknya mengubah wajah dunia, termasuk wajah Eropa. Karena dimulai dgn pendobrakan berpikir.
  • Berpikir membuat setiap pilihan kita jadi benar.
  • Itulah pentingnya berpikir. Semua yang tidak diawali dengan berpikir maka akan fatal dampaknya. Kepilihnya Jokowi juga dampak karena banyak yang tidak berpikir.
  • "Bro, publik sekarang gak bodoh". | Ya Allah, kalau publik udah pintar, maka Indonesia udah maju. Gak babak belur kayak begini.
  • Indonesia maju itu sederhana. Jika berpikir, komparasi, logika menyala menjadi kebiasaan kolektif mayoritas anak bangsa.
  • Jika fanatik bisa kita lenyapkan, maka Indonesia akan maju. Berpikir harus jadi sikap kolektif bangsa, sehingga pilihan2 hidup bisa diputuskan dgn jernih.
  • Tapi ini PR berat, kebanyakan masih "pokoknya", "mbebek", "ikut orang banyak". Langit Indonesia akan tersenyum jika berpikir udah jadi karakter bangsa.
  • Kebanyakan orang salah info, putih dibilang hitam, hitam dibilang putih, yang logis dibilang fanatik, yang fanatik dan taqlid buta dibilang logis. Berat PR kita berada di era jungkir balik seperti ini.
  • Kalau fanatik, asal iya atau asal tidak itu gampang. Tapi berpikir, berdiri dalam posisi yang jernih itu sulit, digebukin kanan kiri.
  • Akibat fanatik, dibutakan oleh pencitraan, yang rugi Indonesia. Ayolah, jangan membebek, nyalakan logika, komparasi, buang fanatik.
  • Membuat Indonesia maju dengan menjadikan berpikir sebagai habit nasional adalah pekerjaan yang berat. Tapi harus tetap dilakukan, demi Indonesia.
  • Pilih agama, pilih partai politik, pilih presiden, pilih calon istri, pilih tempat kuliah, apapun itu, mulailah dengan berpikir dan komparasi. Berpikir itu membuat jiwa dan pikiran merdeka, bebas dari keterjajahan.
  • Buang prinsip "asal iya" dan "asal tidak". Jangan ikut2an mbebek. Insya Allah, pasti selamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar