Islam ya Islam. Tidak Punya Embel-Embel Apapun.
- Islam progresif, Islam liberal, Islam moderat, Islam Nusantara.
What's next ? Tak habis2nya istilah2 baru untuk Islam dimunculkan oleh
suatu kaum. Jika sudah terasa basi, cari lagi istilah lain.
-
Perhatikankah kaum yang gemar dgn istilah2 tsb, pernahkah mereka
nyinyir dgn kemaksiatan & aliran2 sesat ? Justru mereka berapologi
cari pembenaran.
- Mereka hembuskan racun2 pemikiran
nyeleneh dalam Islam, sambil nyatut & menunggangi nama2 besar Kyai
terhormat, institusi2 Islam yang mulia, maupun Pesantren.
- Mereka
"gertak" orang2 yang sedang bangkit ghirah Islamnya sbg orang bodoh.
Hanya karena orang2 tsb tidak belajar di Pesantren dan tidak baca kitab
Arab gundul / kitab kuning.
- Mereka menuduh sejumlah
pihak merebut Masjid, sementara mereka sendiri jauh dari Masjid. Tak
kelihatan batang hidungnya dalam shalat2 berjama'ah.
- Padahal
kalau andalannya cuma karena jago baca kitab Arab gundul, pastinya Abu
Jahal lebih jago dari dia. Jika kalian dapati ada kaum seperti ini
"fahzaruuhum", hendaklah kalian berhati2 terhadap mereka.
- Kita
nyinyirin mereka, eh mereka bilangnya kita nyinyirin NU &
Pesantren. Kasihan NU & Pesantren dijadikan tameng melulu.
- Saya
pun NU. Bahkan Pesantren & baca kitab Arab gundul juga pernah
menjadi dunia saya dulu. Jangan mau lah Pesantren terus2an diklaim oleh
kaum sepilis.
- Geram & muak dgn mereka yang "sok jagoan", padahal isi mah kosong. Sepilis itu orang2 yang gak pinter tapi songong.
- Surga
Allah berikan "bima kuntum ta'malun" berdasarkan amal kalian (Qur'an
surah Az-Zukhruf 72). Bukan "bima kuntum ta'lamuun" (berdasarkan ilmu
kalian).
- Bahkan dalam Islam, barulah dikatakan ilmu
kalau diamalkan. Sebanyak apapun ilmu yang dimiliki kalau tidak ada
pengamalan, sejatinya dia bodoh.
- Teruslah menuntut ilmu dan teruslah beramal dgn benar, beriringan, saling mengisi dan menguatkan. Begitulah Islam, tanpa embel2.
- Islamku
bukan Islam Arab, juga bukan Islam Nusantara. Islamku adalah Islam
ajaran Rasulullah yang secara berantai disampaikan ulama.
- Perkara
ada budaya lokal yang mempengaruhi cara keberagamaan kaum muslimin,
itu sangat wajar. Apalagi pada hal2 yang tidak ada ketentuan nashnya.
- Yang
tidak benar adalah jika budaya lokal diagungkan melebihi
pengagungannya terhadap Islam. Ngaku anti sektarian, tapi padahal
sebenarnya sangat sektarian.
- Hindari stigma atau
ungkapan menyudutkan selagi masih dalam ruang lingkup ahlussunnah wal
jamaah. Dua kosa kata yang sering mengganggu adalah "Wahabi" dan "ahli
bid'ah".
- Orang yang gemar mengangkat istilah "Islam
Nusantara" dan "Islam Arab" merekalah salah satu aktor perusak kerukunan
antar umat Islam.
- Islam Indonesia, Islam Jawa, Islam
Nusantara, Islam Arab, Islam Afrika dst istilah2 seperti ini cocok
untuk agama selain Islam. Karena agama lain dalilnya dilepaskan pada
sejarah.
- Contoh: Hindu Bali berbeda dengan Hindu yang
ada di India. Atau Kristen di Gereja yang satu berbeda dgn Kristen di
Gereja lainnya.
- Karena agama lain, contohnya Kristen,
kitabnya mereka (Alkitab) itu bukan sumber utama hukum. Sehingga
variasi keyakinan diserahkan pada sejarah.
- Kristen bisa makan babi dan bisa tidak makan babi. Sebab dalilnya tidak bersandar pada Alkitab.
- "Kami
Islam yang tetap memelihara animisme". | Gak bisa. Islam ya satu,
menolak menyembah selain Allah. Meski Nusantara dulu percaya animisme.
- "Kami
Islam Nusantara, tetap memelihara budaya sabung ayam". | Gak bisa, gak
ada Islam mengajarkan sabung ayam, meski sabung ayam dulu jadi budaya
Nusantara.
- Gak bisa kita bilang "Ini Islam Nusantara,
Islam yang membenarkan animisme - dinamisme". Sebab Islam bukan produk
budaya sebagaimana agama lain.
- Gak bisa juga kita bilang "ini Islam Jawa, Islam yang masih kehindu-hinduan". | Lhoh, itu sih bukan Islam.
- Istilah
Islam lokal gak cocok untuk Islam. Sebab Islam berbeda dengan agama
lain yang prinsipnya bisa tunduk pada cita rasa lokal.
- Ritual
yang dilakukan di Gereja bisa berbeda dengan kemauan otoritas
Gerejanya. Sedangkan Islam tidak seperti itu, terkait shalat ya begini
dimanapun. Gak bisa diubah2.
- Perbedaan2 kecil saat shalat itu karena perbedaan dalil. Bukan karena perbedaan tempat antara Jawa dan Sumatera.
- Islam ya Islam, matang sejak lahir. Ia bukan produk budaya yang tunduk pada sejarah, sejarah yang tunduk pada dalil Islam.
- Contoh, sebelum Islam datang, bangsa Arab punya adat bahwa istri bisa diwariskan. Kemudian Islam datang menghapuskan adat tsb.
- Arab
punya keyakinan bahwa anak angkat adalah anak. Islam datang menghapus
tradisi tsb. Anak angkat beda status dgn anak kandung.
- Arab punya adat mabuk2an dan mengubur perempuan hidup2. Islam datang menghapuskan itu semua. Menaikkan level manusia.
- Konstantinopel juga dulunya punya adat menyembah manusia. Kemudian Islam hadir, mengajak manusia hanya menyembah Allah.
- Adat bukan segala2nya, adat yang buruk dan terbelakang ya harus dihapuskan. Masa kebodohan dipelihara dan diwariskan ?
- Misal,
sebuah kampus punya adat ospek yang keras dan asusila, sudah lama
sejak kampus tsb berdiri. Adat seperti ini harus dihapuskan. Masa
dipertahankan ?
- Timbangan terhadap adat, bukan karena
adat ini sudah lama dijalankan & turun temurun. Tapi apakah adat
tsb bisa dibenarkan oleh Islam atau tidak.
- Ketika
sebuah adat, misalnya judi, meski sudah berjalan sejak zaman nenek
moyang, karena judi bertentangan dgn Islam, ya adat tsb harus
dihapuskan. Masa judi mau dipertahankan dan diwariskan ?
- Adat
dan apapun harus tunduk pada Islam, karena adat adalah aturan dari
manusia. Sedangkan Islam adalah aturan dari pencipta manusia.
- Kalau
terminologinya "Hindu Nusantara" atau "Kristen Jawa", ini baru tepat.
Anda bisa mengkreasikannya sesuai cita rasa lokal. Sedangkan Islam
tidak bisa seperti itu.
- Kita bisa bilang "Hindu Bali" atau "Hindu India" untuk mendefinisikan variasi. Ya gpp silahkan saja. Karena memang berbeda.
- Untuk
Islam lebih tepat istilahnya bukan Islam Nusantara, tapi muslim
Nusantara. Yaitu muslim yang berasal dari Nusantara. Bukan Islamnya.
- Muhammad SAW adalah nabi terakhir, sehingga tidak ada lagi ruang untuk mereka yang masih menyimpan cita2 jadi nabi.
- Demikian pula sudah tak ada lagi ruang untuk orang2 yang ingin jadi nabi untuk Islamnya Nusantara.
- Perbedaan
dalam Islam adalah perbedaan dalil, atau perbedaan dalam memahami
dalil. Bukan karena perbedaan adat istiadat. Islam beda dari yang lain.
- Misal
ada muslim yang masih nyembah batu, nyembah kuburan, atau nyembah
matahari. Gak bisa ini disebut sebagai bagian perbedaan internal dari
Islam.
- "Kok masih judi & zina mas ?" | Ini Islam
judi & zina mas, karena judi & zina adalah adat istiadat nenek
moyang kami" | *kayang*
- "Kalau mas ini Islam apa ?" | Saya Islam mabok mas, karena di daerah saya mabok adalah adat dari nenek moyang" | *kayang*
- Kalimat
"saya Islam Indonesia" atau "saya Islam Nusantara" ini gak tepat. Lebih
tepatnya adalah "saya muslim Indonesia" atau "saya muslim Nusantara",
muslim yang hidupnya di Indonesia, Islamnya sih sama.
- Jadi,
perbedaan dalam Islam itu karena perbedaan dalil atau perbedaan
memahami dalil. Sedangkan perbedaan dalam agama lain itu karena
kelangkaan dalil.
- "Di suku kami, adatnya adalah memberi makan orang miskin mas". | Silahkan dilanjutkan, karena Islam juga menganjurkan hal itu.
- "Di suku kami, adatnya kepala suku boleh nikah dengan 10 perempuan. Apa ini boleh ?" | Tidak boleh.
- Islam
beda dgn agama lain yang variasi kitabnya buaaaanyak banget &
kontradiksi satu sama lain. Sedangkan Al-Qur'annya umat Islam itu hanya
satu.
- Jadi istilah Islam Jawa, Islam Nusantara, Islam
Indonesia, Islam Arab, Islam Afrika atau Islam2 yang lainnya adalah
usaha mengadu domba umat Islam. Seolah2 kita berbeda. Padahal Islam ya
Islam, cuma satu.
- Sebagai muslim, sudah tidak zaman
lagi berpikir "pokoknya nenek moyang" atau "pokoknya adat istiadat".
Karena ketika kita ber-Islam, ketundukan total untuk Allah.
- Kata
"Islam" gak pas jika disematkan dgn kata lain semisal Nusantara,
Indonesia, Jawa, liberal dll. Ini seperti memandang Islam dgn bayangan
agama lain.
- Banyak orang yang memandang Islam dgn bayang2 cara pandang orang Barat terhadap agama lain.
- Kristen
lahir karena protes terhadap Katolik, dan Katolik pun hasil
sinkrentisme dgn Pagan Romawi. Agama2 yang tunduk pada sejarah.
- Lepaskan cara pandang trauma Barat terhadap agamanya dalam memandang Islam. Islam beda dengan yang lain.
- Istilah
"Hindu Bali", ini tepat. Tapi istilah "Islam Nusantara", tidak tepat.
Karena konsep Islam dan Hindu dalam memandang budaya itu berbeda.
- Islam
sudah dewasa sejak lahir. Islam tidak tunduk pada perkembangan sejarah
manusia, tapi perkembangan manusia yang tunduk pada Islam.
- Karena sejarah adalah kumpulan perbuatan manusia melewati satuan waktu. Maka perbuatan manusia ini yang harus tunduk pada Islam.
- Sehingga ketika ada istilah pembaharuan, maka pembaharuan Kristen berarti merevisi membuat konsepsi ajaran Kristen lebih baik.
- Sedangkan
istilah pembaharuan Islam berarti memperbaiki hal2 yang melenceng
dalam pemahaman dan pelaksanaan Islam oleh umatnya agar sesuai dgn
contoh awal. Yaitu contoh yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Hadits.
- Revisi
Alkitab, berarti membuat versi Alkitab yang lebih baik. Islam gak
punya istilah revisi Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an sudah final.
- Islam dan agama lain beda konsep. Karena agama selain Islam adalah produk budaya.
- Perbedaan dalam Islam karena beda memahami dalil. Sedangkan perbedaan dalam agama lain karena tak pakai dalil.
- Berapa
perbedaan dalam Islam ? Ya sejumlah dalil yang ada. | Berapa perbedaan
dalam agama lain ? Tak terbatas, karena tidak ada dalilnya, jadi ya
bebas.
- Berapa perbedaan di agama lain ? Ya seliar
produk pikiran manusia. Karena tidak ada dalil yang membatasi. Agamanya
diserahkan pada sejarah.
- Jadi kesimpulannya, jangan memandang Islam seperti memandang agama lain. Karena sangat berbeda konsepnya.
- Itulah
kenapa kata "Islam" gak cocok dan gak pas jika disematkan dengan kata
Jawa, Nusantara, Indonesia, Arab, Afrika, liberal, moderat, progresif
dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar