Minggu, 31 Januari 2016

Logika Mengenai Kaum Kafir Dan Analogi Tentang JIL

  • Aneh, orang ingkar pada Al-Qur’an tapi gak mau disebut sebagai orang ingkar (kafir) pada Al-Qur’an.
Masih ada aja kalimat model ginian.
  • Mereka gak merasa bahwa melarang Muslim meyakini Al-Qur’an yang mengkafirkan kekafiran adalah bentuk intoleransi beragama.
  • Stop melarang kebebasan meyakini Al-Qur’am yang mengkafirkan kekafiran. Kebebasan beragama dijamin konstitusi.
  • Stop lebay dan baper dengan kata “kafir”.
  • Stop memaksa Muslim untuk membuang ayat Al-Qur’an yang mengkafirkan kekafiran. Indonesia menjamin kebebasan berkeyakinan.
  • Berikanlah kebebasan kepada Muslim untuk meyakini Al-Qur’an yang mengkafirkan kekafiran. Jangan mengancam kebebasan berkeyakinan dong. Itu intoleran namanya.
  • Hargailah keyakinan Muslim yang mengkafirkan kekafiran. Contohlah kami yang menghargai keyakinan mereka yang mendomba sesatkan domba. :D
  • Saya gak percaya (ingkar/kafir) terhadap kata2 Jokowi bahwa "problem asap beres 2 minggu", maka wajar jika lu nyebut gue sebagai orang yang ingkar (kafir) terhadap kata2 Jokowi bahwa "problem asap beres 2 minggu".
  • Lu kan gak percaya (ingkar/kafir) bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, maka Islam nyebut lu sebagai orang yang gak percaya (ingkar/kafir).
  • Orang yang gak percaya (ingkar/kafir) pada Al-Qur’an kok gak mau disebut sebagai orang yang gak percaya (ingkar/kafir) pada Al-Qur’an. Aneh.
  • Saya gak percaya (ingkar/kafir) pada trinitas. Logis kalau saya disebut sebagai orang yang gak percaya (ingkar/kafir) pada trinitas. Dan gue gak akan baper.
  • Bolak-balik dijelasin soal ini kok masih gak paham aja. Darurat logika nih Indonesia.
  • Ada orang yang mengaku gak percaya Muhammad utusan Allah, tapi gak mau disebut sebagai orang yang gak percaya Muhammad utusan Allah. Ini gimana sih logikanya ?
  • Gue gak percaya Yesus itu Tuhan, gue terima kalau ada yang nyebut gue sebagai orang yang gak percaya Yesus itu Tuhan. Karena kenyataannya begitu kok.
  • Gue udah bilang gak percaya (ingkar/kafir) bahwa Yesus itu Tuhan, aneh malah jika menyebut gue sebagai orang yang percaya (tidak kafir) bahwa Yesus itu Tuhan.
  • Lu ketemu kucing, masa kagak lu sebut kucing ? Masa lu sebut kucing itu kambing ?
  • Logika sederhana gini kok susah paham, sedih kita dengan pendidikan Indonesia.
  • Jangan lebay dan baper dengan kata2 "gak percaya, ingkar, atau kafir". Jangan sumbu pendek, dikit2 emosi main pentung gara2 denger kata “kafir”.
  • Banyak orang terlalu baper dan lebay, kebawa bayang2 Giordano Bruno. Dulu Giordano Bruno dibakar otoritas Gereja karena ia dianggap kafir oleh otoritas Gereja.
  • Biar Indonesia damai, jangan lebay dan baper lah denger orang nyebut kucing adalah kucing. Jangan dikit2 senggol bacok.
  • Lu percaya gak Muhammad utusan Allah ? | Gak | Maka gue nyebut lu sebagai orang yang gak percaya atau ingkar, dan bahasa Al-Qur’annya adalah kafir. Masalah ?
  • Lu percaya sama Al-Qur’an ? | Gak | Boleh gak gue nyebut lu sebagai orang yang gak percaya ? | Gak | Lhoh, piye sih ? :D
  • Jika gak mau disebut "orang yang gak percaya" maka jadilah "orang yang percaya". Jika gak mau disebut "orang yang percaya" maka jadilah "orang yang gak percaya".
  • Saya gak mau disebut sebagai orang yang percaya trinitas, maka saya menjadi orang yang gak percaya trinitas. So, oke dong ?
  • Logika begini aja kok susah paham. Sedemikian parah kah pendidikan kita ?
  • Lu ketemu kucing, ya lu yakini lah itu sebagai kucing. Masa lu yakini sebagai kuda nil ? Logika sederhana bro.
  • Kalau kucing2 pada lebay dan baper ketika disebut kucing dan malah minta disebut kuda nil, maka jadi rusuh lah dunia perkucingan.
  • Kalau lu menerobos lampu merah, terus lu gak mau dianggap melanggar. Apa argumennya ?
  • "Pak Polisi, lampu ini disebut warna merah atau hijau itu relatif , tergantung tafsirnya siapa, Bapak gak bisa menilang saya".
  • "Pak Polisi, ini adalah kebebasan berekspresi saya, Bapak gak berhak menilang saya hanya karena saya menerobos lampu merah".
  • "Pak Polisi, coba check ada gak yang ketabrak gara2 saya menerobos lampu merah, selama gak ada yang dirugikan kenapa saya harus ditilang ?"
  • "Pak Polisi, kata siapa menerobos lampu merah itu salah ? Bapak jangan terlalu literal baca UU, dasar primitif".
  • "Pak Polisi, apa bedanya lampu merah dan hijau ? Bapak gak boleh diskriminasi, semua warna sama benarnya".
  • "Pak Polisi, lu ngapain ngurusin cara gue berlalu lintas, ini urusan privat tauk".
  • "Pak polisi, Bapak gak boleh merasa benar sehingga menyalahkan saya yang menerobos lampu merah, emangnya Bapak itu Tuhan ?"
  • "Pak Polisi, Bapak juga jangan merasa benar sendiri sehingga menyalahkan saya yang menerobos lampu merah. Bapak gak tahu kebenaran itu relatif ?"
  • "Pak Polisi, hanya Tuhan yang tahu kita benar atau tidak, kok berani2nya Bapak menyatakan saya salah karena menerobos lampu merah, emang situ Tuhan ?"
  • "Pak Polisi, tafsir nerobos lampu merah itu salah adalah tafsir yang kuno banget, dari dulu begitu. Bapak gak modern, jumud, kaku, tekstual".
  • "Pak Polisi, apa sih tujuan aturan ? Yang penting gak celaka kan ? Gue nerobos lampu merah aman2 aja kan ? Terus ape salah gue ? Sakit lu".
  • Pak Polisi, noh lihat barusan Polisi Patwal aja nerobos lampu merah, jangan diskriminasi dong. Lalu Lintas Tanpa Diskriminasi".
  • "Pak Polisi, lu berasa Tuhan ? Apa lu assistant Tuhan ? Lu merasa paling benar sehingga nyalahin gue nerobos lampu merah ? Hellooo ? Please deh boo".
  • "Pak Polisi, aturan itu ada masanya, tergantung situasi , kekinian, orang jalan kosong kok, apa salahnya gue nerobos lampu merah ?"
  • "Pak Polisi, lampu merah itu aturan yang situasional, gitu aja kok gak paham".
  • "Pak Polisi, di zaman modern masih ada aja orang kayak lu, merasa lebih benar dari yang lainnya, sehingga lu berhak nyalah2in gue yang nerobos lampu ? Please deh".
  • "Pak Polisi, noh lihat orang2 jumud yang pade berhenti waktu lampu merah, mereka gak modern, wahabi, teroris, tangkepin noh yang begetu".
  • "Pak Polisi, Bapak yakin saya salah ? Gus Mus aja gak yakin dia salah atau benar, Bapak lebih hebat dari Gus Mus ?"
  • "Pak Polisi, emang Bapak ada waktu UU lalu lintas dibuat, UU ini berlaku untuk orang2 di zaman ketika UU ini dibuat, kite udah beda zaman Pak".
  • "Pak Polisi, saya heran ada manusia2 kayak Bapak ini, picik, gak modern, wahabi. Nerobos lampu merah itu kebebasan ekspresi".
  • "Gimana Pak Polisi, Bapak kalah debat kan ? Saya gak jadi ditilang kan ? Masa Bapak mau jadi wahabi ?" | Silahkan Mas, Anda benar, karena kebenaran itu relatif.
  • "Makasih Pak Polisi, saya gak jadi ditilang, itu baru Polisi yang pikirannya modern, kekinian, kontekstual, dan progresif".
  • Begitulah JIL terhadap Al-Qur’an.
  • Paham ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar