- Setelah LGBT, tidak menutup kemungkinan nanti kaum pedofili juga menuntut dianggap normal.
- Setelah LGBT, maka akan jadi LGBTP (+ pedofili).
- Ketika standar kebenaran diserahkan pada manusia dan sejarahnya, maka apa yang dulu dianggap salah bisa dianggap benar kemudian.
- Argumennya: "hewan juga ada yang LGBT kok" "hewan juga ada yang pedofili". | Standar hidup jadi berubah: "kelakuan hewan jadi panduan hidup manusia".
- Sehingga bukan Al-Qur’an dan Sunnah yang menjadi standar kebenaran, melainkan kehidupan hewan.
- Kalau tuker2 pasangan nanti argumennya "babi juga nyodorin istrinya untuk dizinai babi lain kok" | Standar kebenaran jadi berubah: kehidupan hewan.
- Terus kalau ngesex di publik dan diprotes, nanti argumennya: "kucing dan kambing yang makhluq Allah juga begitu kok".
- Teladan manusia bukan Nabi Muhammad lagi, sang manusia terbaik. Tapi standarnya hewan2. :p
- Menyerahkan kebenaran pada manusia ya begitu akhirnya, hewan pun dijadikan teladan. Bingung tiada akhir.
- Ketika telanjang di depan publik, argumennya "itu lumba2 di Ancol telanjang dan ditonton orang banyak, padahal lumba2 ciptaan Allah". :p
- Di Ancol itu hewan2 seperti lumba2, singa laut, dan berang2 diberi tepuk tangan karena bisa mencontoh perilaku yang biasa dilakukan oleh manusia.
- Harusnya gantian, hewan2 mengundang manusia2 yang bisa mencontoh perilaku seperti yang hewan lakukan. Kemudian hewan2 bersorak-sorai.
- Membayangkan babi2 bikin pentas macam gelanggang samudera, terus mengundang manusia yang bisa meniru perilaku yang babi lakukan, kemudian babi2 tepuk tangan. :D
- Enaknya menjadi Muslim itu gak usah bingung, karena kebenaran sudah jelas, gak galau lagi. Kebenaran gak diserahkan pada sejarah.
- Kita tidak menyerahkan kebenaran pada sejarah, sehingga jadi relatif. Justru perjalanan sejarah harus dipandu oleh kebenaran Islam.
- Homoseks salah nggak ? Tergantung sejarah, kapan ? | Ini bedanya dengan Islam, standar kebenaran bukanlah perjalanan sejarah manusia.
- Islam satu2nya agama yang menjadikan kitabnya sebagai referensi, sedangkan agama2 lain melepaskannya pada sejarah.
- Setelah LGBT terus nanti pedofili dan fili2 yang lain. Dulu dicaci kemudian nanti dianggap normal. Tidak ada standar nilai, bingung tiada akhir.
- Hewan makin manusiawi dan manusia makin hewani. :v

Hewan makin manusiawi.
- Ketika manusia makin hewani, maka ketika itu pula kemanusiaan manusia terjun bebas.
- Terus kemudian argumennya "jangan suka ngejudge orang dong" | Lho, Anda juga jangan ngejudge saya yang sedang ngejudge orang dong, emangnya Anda udah baik ? :p
- Dunia semakin membutuhkan Islam untuk menaikkan kembali derajat kemanusiaan manusia yang sedang terjun bebas.
- Menjudge seseorang yang sedang menjudge itu boleh, lalu apa standar judgement yang dibolehkan ? Kalau Muslim sih Al-Qur’an, penilaian benar dan salah dari sini.
- Tanpa Islam, manusia akan bingung, gak punya pegangan. Berjalan dalam gelap, hanya mengikuti apa yang ditemui dalam gelap.
- Hidup dalam dugaan2, bingung tiada akhir.
- Menjadi Muslim yang mengimani Al-Qur’an itu enak, kalau ibarat manusia, ini seperti yang pegang manual booknya manusia. Karena ada Muslim yang bilang manual book ini dongeng.
- Agama lain sudah terkapar tak berdaya oleh terjangan LGBT, karena agama mereka pun dilepaskan pada sejarah.
- Jika Muslim yang anti Islam merajalela, maka akan sama juga, LGBT jadi dianggap benar.
- Yang bukan Tuhan diresmikan jadi Tuhan, kemudian diresmikan lagi yang lainnya jadi Tuhan, sehingga jumlah Tuhan dilepaskan pada sejarah. In contoh kebingungan.
- Metamorfosis jumlah Tuhan ini mirip dengan persepsi terhadap LGBT. Berkembang dilepaskan pada sejarah manusia, sehingga suka2 manusia.
- Gak selesai2 bingungnya.
- Begitulah ketika kebenaran diserahkan pada manusia dan sejarahnya, maka kebenaran jadi relatif, manusia jadi berlagak seperti Tuhan, seolah2 dirinya adalah mizan kebenaran.
- Judgement benar dan salah ditimbang dengan rasa manusia. Tidak salah adalah sebuah judgement juga.
- Termasuk ketika kita memandang LGBT atau perilaku seks menyimpang lainnya seperti seks dengan hewan, dengan mayat, dengan pohon dll.
- Benar dan salah akan tergantung oleh worldview yang dipakai oleh orang tersebut.
- Liberal konsepnya bingung tiada akhir, benar dan salah mengalir, tergantung sejarah yang memutuskan.
- Dulu LGBT dianggap menyimpang, sekarang dianggap tidak. Pedofili sekarang dianggap menyimpang, di kemudian hari bisa dianggap tidak. Ini yang namanya kebenaran ikut mekanisme pasar.
- Seks dengan mayat, hewan, dan pohon misalnya dianggap perilaku menyimpang, jika konsisten liberal, seharusnya juga dianggap tidak menyimpang. Kan sejarah yang memutuskan.
- Beda dengan Islam, standar kebenarannya gak lari2, tidak dilepaskan pada sejarah. Mizan kebenarannya sudah jelas: Al-Qur’an dan Sunnah.
- Kebenaran dalam konsep liberal ini seperti harga BBM sekarang, sangat relatif, tergantung pasar. Beda dengan konsep Islam.
- Al-Qur’an sudah final, ini mizan kebenaran sampai manusia terakhir. Kebenaran tidak dilepaskan pada sejarah. Sejarah justru yang harus dipandu oleh Al-Qur’an.
- Dulu LGBT dicibir, sekarang diterima di Irlandia, di seluruh AS, di Indonesia (sedang menuju). Dan kaum pedofili sedang menempuh jalan yang sama dengan yang sudah ditempuh oleh kaum LGBT.
- Jika standar kebenarannya adalah "yang penting tidak mengganggu orang lain" "yang penting suka sama suka", maka akan banyak sekali kesalahan yang akan menjadi benar.
- Alhasil seks dengan binatang tidak boleh dianggap menyimpang. Seks dengan binatang baru dianggap menyimpang jika binatangnya punya orang lain. #liberal
- Jika kaum LGBT menganggap kelainannya adalah normal, maka kaum pedofili pun juga merasa begitu. Mereka merasa orientasi seksnya adalah given.
- Yang orientasi seksnya dengan binatang, dengan mayat, dengan pohon atau tiang listrik juga akan merasa ini sesuatu yang given. Toh gak ada yang dirugikan. #liberal
- Kaum pedofili akan berargumen, “jika anak kecilnya mau diajak ngesex, apa masalahnya ? Kan suka sama suka”
- Orientasi seks dengan mayat, binatang, pohon atau tiang listrik gak akan pernah final jika standarnya liberal. Sehingga salah hari ini belum tentu salah esok hari.
- Bahkan dalam Islam, jangankan seks dengan sesama jenis, seks dengan lawan jenis jika tidak diawali dengan pernikahan, itu sudah divonis salah.
- Bisa gak kita yang normal terbiasa santun, terus sakarang juga berubah jadi suka menebar caci maki dan kata2 kotor ? Bisa pake banget.
- Bisa gak kita yang sekarang normal mendadak menyimpang, seks dengan yang bukan istri kita ? Bisa pake banget.
- Bisa gak kita yang normal sekarang jadi menyimpang, seks dengan binatang, mayat, pohon atau tiang listrik ? Bisa pake banget.
- Ini soal memperturutkan syahwat/hawa nafsu saja, bisa gak yang normal sekarang juga jadi gay atau pedofili ? Bisa pake banget.
- Begitupun sebaliknya. Semua ini tentang syahwat. Tinggal mau apa nggak memperturutkan syahwat.
- Ini salah satu contohnya, ketika kebenaran relatif. Seks dengan mayat diperbolehkan.

- Di AS pada tahun 1900-an dulu pernikahan anak2 itu dianggap biasa. Dan belum lama, negara bagian di AS menetapkan batas usia pernikahan adalah 7 tahun.
- Kemudian sekarang dinaikkan jadi 17 atau 18 tahun. Pernikahan dibawah usia tersebut kini dianggap salah.
- Kalau dalam Islam standarnya ajeg, bukan soal usia tapi sudah baligh atau belum.
- Dulu kata "homo" dijadikan sebagi kosa kata untuk sebuah ejekan. Dan dulu di Barat jika kata tersebut digunakan untuk mengejek maka bisa langsung kena kasus loh.
- Sekarang kata "pedofili" konotasinya negatif, di kemudian hari mungkin akan sama dengan kata "homo". Ini yang namanya kebenaran ikut mekanisme pasar.
- Itulah pentingnya menjadikan Islam sebagai standar nilai, supaya manusia gak lelah mengejar2 kebenaran yang seolah2 berlarian terus.
- Ini soal fikrah atau worldview.
- Contoh yang bagus, Syekh Puji misalnya. Andaikan beliau hidup di AS pada tahun 1900-an, maka apa yang dilakukannya dianggap benar, biasa aja.
- Contoh lagi, poligami di zaman Yesus biasa aja, bahkan Yesus diduga kuat juga menjadi pelaku poligami. Dan sekarang justru sebagian orang Kristen meyakini poligami itu salah. Ini yang namanya kebenaran ikut mekanisme pasar.
- Jadi hanya Islam lah agama atau panduan hidup yang standar kebenarannya gak ikut mekanisme pasar. Karena justru Islam harus jadi rujukan pasar.
- Penderita HIV/AIDS di Jakarta Timur didominasi pria homoseksual merdeka.com m.merdeka.com/jakarta/pender…
- Homoseksual Paling Banyak Terkena AIDS pikiran-rakyat.com/luar-negeri/20…
- LGBT dibela karena alasan HAM, harusnya mereka yang bela LGBT jadi pejuang poligami juga, dengan alasan yang sama. HAM dan suka sama suka.
- Jilbab dan poligami dilarang2, terus alasan HAM-nya disembunyikan. Sedangkan LGBT dan pedofili dibela dengan alasan HAM.
- HAM cuma kedok untuk memuluskan kehancuran.
- Jika Anda pelaku LGBT, ketahuilah bahwa para pendukungmu itu palsu. Mereka tak peduli keadaanmu. Mereka tak peduli kesulitanmu.
- Anda rawan terkena AIDS, masa depan Anda berantakan. Sedangkan aktivis2 pendukung LGBT itu bergelimang dollar dan beasiswa.
Oleh : Yongky Oscarra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar