Minggu, 31 Januari 2016

Apakah untuk beriman pada Allah harus melihat Allah ? Harus mendengar Allah ? Harus merasakan Allah ?

  • Apakah Allah harus terlihat oleh mata ? Terdengar oleh telinga ? Teraba oleh kulit ? Sehingga kemudian baru beriman pada-Nya ?
  • Bukankah indera kita terbatas ? Tidak perlu terlalu jauh tentang Allah, ada banyak sesuatu yang tidak bisa kita inderai, tapi sesuatu itu ada.
  • Atau sebaliknya, sesuatu tersebut bisa kita inderai tapi sebenarnya tidak ada.
  • Kita ambil mata sebagai contoh. Bagaimana kemampuan mata manusia melihat ? Berapa jaraknya ? Berapa ukurannya ? Berapa dimensinya ?
  • Mata kita tidak mampu melihat elektron (ukuran). Mata kita pun tidak bisa melihat bintang (jarak).
  • Bintang yang kita lihat itu belum tentu masih ada bintangnya, hanya cahayanya saja yang sudah menempuh jarak yang jauh.
  • Mata kita tidak bisa melihat ultraviolet, mata kita tidak bisa melihat infrared, mata kita tidak bisa melihat semua panjang gelombang.
  • Karena mata kita terbatas maka dibantu oleh alat ukur, alat ukur ini pun memiliki keterbatasan. Ada mikroskrop elektron dan ada teleskop.
  • Terlalu banyak yang tidak bisa kita lihat, padahal ada.
  • Bahkan banyak makhluk Allah lain yang lebih tajam penglihatannya dibanding manusia.
  • Mempercayai mata sebagai satu2nya sumber untuk menentukan ada tidaknya sesuatu adalah tindakan bodoh, karena kemampuan mata manusia terbatas.
  • Sekarang kita ambil contoh telinga (pendengaran). Apakah beriman pada Allah harus didahului dengan mendengar Allah ?
  • Frekuensi bunyi yang bisa didengar manusia dalam rentang 20 Hz -> 20 kHz.
  • Di bawah 20 Hz disebut infrasonik, di atas 20 kHz disebut ultrasonik. Keduanya tidak bisa didengar oleh manusia.
  • Kelelawar menggunakan ultrasonik untuk memandu navigasi. Kita sebagai manusia tidak bisa mendengar itu.
  • Terlalu banyak sesuatu yang ada tapi tidak bisa didengar oleh manusia.
  • Sehingga harus mendengar Allah terlebih dahulu supaya mau beriman pada Allah adalah kebodohan.
  • Kita mengenal Allah dari melihat tanda2-Nya, bukan dengan melihat-Nya.

  • Cukup melihat tanda2 kekuasan Allah untuk beriman pada Allah.

  • Terlalu banyak tanda untuk menjadi alasan beriman kepada Allah.

  • Tanda itu juga ada pada diri kita sendiri.

  • Mempercayai sesuatu melalui tanda2, meskipun belum melihatnya, sebenarnya banyak terjadi di kehidupan sehari2.
  • Autopsi pada korban pembunuhan membuat kita yakin ada pembunuh meskipun belum melihatnya. Darimana ? Dari bekas aksi pembunuhannya.
  • Pada aksi pencurian, tidak perlu melihat pencurinya dulu untuk tahu bahwa telah terjadi pencurian. Tinggal melihat tanda2nya.
  • Saya percaya kreatif dan cerdasnya pembuat iPhone, dengan melihat tanda2 pada iPhonenya. Meskpin saya belum bertemu dengan si pembuat iPhone.
  • Saya percaya ada arsitek kreatif dan cerdas dibalik pembangunan Masjid di Kota Baru Parahyangan, meskipun belum melihat orangnya.
  • Hanya melihat autopsi, kita bisa yakin ada pembunuh. Hanya melihat pintarnya dokter yang melakukan autopsi, kita bisa yakin ada penciptanya.
  • Tidak harus melihat kejadian pembunuhannya untuk melihat ada pembunuh. Cukup melihat hasil karyanya melalui autopsi.
  • Terlalu banyak bukti “autopsi” pada langit bumi dan dirimu sendiri untuk tahu ada pencipta Yang Maha Segala.

  • Berserak bukti “autopsi” di bumi dan pada diri kita sendiri, untuk beriman pada Allah Sang Pencipta.

  • iPhone terlalu rumit untuk kita bilang bahwa komponen2 ini berpadu dengan sendirinya tanpa ada pencipta. Dan manusia jauh lebih rumit.
  • Nasi goreng yang terhidang di meja makan saya sekarang, mustahil ada dengan sendirinya. Pasti ada yang membuatkannya untuk saya.
  • Manusia yang mampu membuat nasi goreng jauh lebih rumit daripada nasi goreng itu sendiri.
  • Kebodohan itu percaya Tuhan harus dengan melihat Tuhan. Kebodohan itu baru percaya iPhone ada yang menciptakan harus dgn melihat penciptanya.
  • Jadi tak cukup dgn mata, tak cukup dengan telinga, tapi akal.
  • Orang yang menantang ingin melihat Tuhan baru akan beriman sudah ada sejak dulu.

  • Materialisme adalah ideologinya Fir'aun.

  • Akal diberikan sebagai "tool" kita untuk beriman. Keimanan yang tidak dogmatis, tapi kesadaran penuh ketundukan.
  • Kita bisa memilih keimanan yang bukan musuhnya akal, memilih agama yang bukan musuhnya logika, memilih yang bukan musuhnya kehidupan.
  • Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi, tepatnya pergiliran siang dan malam adalah tanda bagi yang menggunakan akal.

  • Beriman itu sederhana. Apa yang membuat mereka yang tidak beriman memaksakan diri untuk mematikan akal dan memaksakan diri untuk buta terhadap kebenaran ?
  • Sesuatu yang sederhana dicerna oleh akal, mengapa ditolak ? Mengapa maksa dogmatis ?
  • Kenapa memilih tidak beriman ? Atau kenapa memilih agama yang memusuhi akal ?
  • Kenapa lebih memilih buta daripada tunduk pada kebenaran ?

  • Tidak sama antara buta dan melihat, tidak sama antara gelap dan terang, tidak sama antara yang teduh dan yang panas.

  • Hanya yang berakal yang mampu menerima petunjuk.

  • Mereka yang memaksakan diri buta dan tuli terhadap kebenaran akan dihimpun dalam keadaan buta.

  • Na’udzubillah mindzalik.

  • Bagaimana siklus air terjadi ? Karena kebetulan ?

  • Tumbuh adalah tanda lain kebesaran-Nya. Mengapa masih bebal dan berpaling ?

  • Manusia tidak bisa menciptakan “tumbuh”. Andaikan bisa, kita cukup beli mobil kecil seukuran mainan yang kita rawat sampai ukurannya besar. Kemudian mobil tersebut kita naiki.
  • Bagaimana menciptakan fenomena “tumbuh” ? Kenapa benda2 tidak kita ciptakan dalam ukuran kecil kemudian dibiarkan tumbuh ?
  • Tumbuh itu ajaib. Apa yang perlu kita “inject” pada mobil ukuran kecil sehingga dia bisa tumbuh jadi ukuran besar ?
  • Saya cukup beli rumah model ukuran kecil di rak supermarket, kemudian saya taruh di tanah kosong dan akan tumbuh jadi rumah tipe 70. #tumbuh
  • Siapakah yang menciptakan “tumbuh” ?

  • Bahkan manusia berjuang keras menghentikan proses tumbuh pada manusia. Tapi yang muda terus tumbuh, akhirnya tua dan pasti mati juga.
  • Kenapa manusia tidak menciptakan sesuatu yang bisa tumbuh ?
  • Tinggal diramu saja jika bisa, bahan2nya ada semua kok, tanah, air, protein, lalu bagaimana caranya menciptakan metabolisme ?
  • Menyerah dgn ketidakmampuan manusia mencipta proses tumbuh, sehingga delusi bahwa alam menciptakan dirinya sendiri.
  • Kok manusia gak bisa buat ini dan itu ? | Oh, itu tercipta dgn sendirinya. Ckckck
  • Andai manusia bisa menciptakan apa yang disebut dengan “tumbuh”.
  • Bagaimana benda2 mati mempunyai kecerdasan untuk menyusun alam ini ? Dengan sendirinya kah ?
  • Kenapa manusia tidak bisa meng“inject” benda2 ciptaannya untuk memiliki sifat “tumbuh” ?
  • Contoh lagi, gravitasi juga salah satu cara saya merasakan Tuhan.
  • Bagaimana jika percepatan gravitasi tidak seperti sekarang ? Bagaimana jika (g) besarnya bukan 9,80665 m/s2 ? Dan bagaimana caranya massa menciptakan gravitasi ?
  • Apa efeknya jika percepatan gravitasi bumi tidak seperti sekarang ?
  • Bagaimana jika massa bumi lebih kecil atau lebih besar ?
  • Semua sederhana, jika mau menggunakan akal.
  • Contoh lain lagi, teknologi kedokteran juga membuktikan rumitnya mesin bernama manusia.
  • Beriman itu mudah, kenapa harus berpaling ?
  • Apa yang membuat kita bisa merasa bahwa minuman yang kita minum adalah kopi dan bukan teh ?
  • Bagaimana cara diri kita merasa bahwa itu kopi ? Ada sensor apa kok kita tahu itu kopi ?
  • Bagaimana caranya lidah punya sensor ? Kok tahu2, sel2 itu membentuk indera perasa ?
  • Bagaimana cara sensor tersebut mengirim data ke otak ? Kok tahu2 harus mengirim data ke otak ?
  • Dalam bentuk apa data dari lidah ke otak ? Digital kah ? Dan bagaimana cara otak menterjemahkan data tersebut ?
  • Bagaimana informasi tsb disimpan di otak ? Dan bagaimana cara informasi tsb dipanggil ?
  • Islam itu memuaskan akal, karena akal adalah "tool" untuk beriman.
  • Semuanya sederhana untuk beriman. Nyalakan logika.
  • Berhentilah membuat statement ngawur yang menyatakan bahwa beriman pada Allah harus dengan melihat-Nya atau mendengar-Nya terlebih dahulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar