Muslim - Kafir Adalah Istilah Internal - Eksternal
- Tidak perlu emosi & pusing dgn definisi internal Islam
tentang kafir. Padahal sedikitpun saya gak masalah dgn istilah "domba
tersesat" "ghoyim" dst.
- Kristen menyebut orang luar dgn
"domba tersesat". | Yahudi menyebut orang luar dgn "ghoyim". |
Indonesia menyebut orang luar sbg "WNA". | Apa masalahnya ?
- Silahkan
saja Yahudi menyebut orang luar Yahudi dgn istilah apa saja. Asal si
Yahudi gak menzhalimi orang di luar Yahudi tsb. Gitu aja kan ? Simple.
- Apakah gpp pakai produk buatan kafir ? Sama aja pertanyaannya dengan apakah gpp pakai produk buatan WNA padahal kita WNI ?
- Disebut
"anathema", disebut "domba tersesat", gak masalah. Asal sikap si
Kristen baik & gak zhalim ke yang mereka sebut anathema atau domba
tersesat tsb.
- Status WNA dan WNI bukan soal dermawan atau tidak dermawan. Ini soal status: internal - eksternal.
- Sejahat2nya WNI tidak otomatis membuatnya jadi WNA. Sebaik2nya WNA tidak otomatis membuatnya jadi WNI.
- Jadi,
non-Muslim tidak perlu tersinggung diyakini kafir oleh Muslim, yang
terpenting Anda kan tidak dizhalimi oleh si Muslim. Terus apa
masalahnya ?
- Muslim meyakini kafir masuk neraka, apa masalahnya ? Kan Anda gak percaya dengan apa yang diyakini Muslim. Betul kan ?
- Anda meyakini jalan selamat itu dgn menuhankan Yesus. Apa masalahnya ? Silahkan saja. Itu kan keyakinan Anda.
- Muslim meyakini yang menuhankan selain Allah itu kafir. Ini keyakinan Muslim. | Anda gak percaya ya gpp. Apa masalahnya ?
- Kristen
meyakini saya sebagai "domba tersesat" gak masalah. | Yang masalah itu
kalau Anda paksa saya mengimani apa yang Anda imani.
- Kalau
Anda meyakini orang di luar Kristen itu tidak selamat, yakinilah itu.
Jangan mencla-mencle dgn mengatakan "semua selamat".
- Saya sebagai Muslim, tidak peduli dgn ajaran agama lain yang punya istilahnya sendiri untuk menyebut orang di luar agamanya.
- Saya
gak merasa mereka menghina saya jika mereka meyakini bahwa jalan
keselamatan itu hanya dgn menuhankan Yesus, sehingga saya dianggap tidak
selamat.
- Bebas2 aja kok saya dianggap apa oleh agama
lain; kafir, ghoyim, domba tersesat. Buat saya sih enteng2 aja. Tapi
kenapa orang lain pusing dgn definisi Al-Qur'an ?
- Karena
saya tidak menuhankan Yesus, maka saya diyakini mereka sbg orang yang
tidak selamat. Gak masalah sama sekali. Kenapa saya harus marah coba ?
- Tapi kenapa orang non-muslim tersinggung ketika didefinisikan sbg kafir oleh Al-Qur'an ? Trauma adalah jawabannya.
- Karena
saya Muslim, saya gak mungkin membuang ayat2 Al-Qur'an yang
mengkafirkan keyakinan penuhanan selain Allah, hanya demi membuat orang
lain senang.
- Tetap berpikir jernih aja. Yang non-muslim jelas kafir. Non-muslim gak perlu tersinggung, masing2 agama kan punya keyakinan.
- Hari2
ini masih banyak umat Islam yang merasa bersalah ketika mengkafirkan
kekafiran, tapi justru tidak merasa bersalah ketika tidak mengkafirkan
kekafiran. Logika jungkir balik.
- Kenapa harus takut menyebut Kristen itu Kafir ? Meyakini Al-Qur'an kok takut.
- Salah satu problem umat Islam saat ini: Tidak berani mengkafirkan kekafiran. Kekafiran dianggap tidak ada. Ini bahaya.
- Kalau
bagi Non-Muslim, terminologi "kafir" ini menanggung beban trauma
sejarah bersama Gereja. Kata "kafir" terlihat seram bagi mereka.
- Kata "kafir" diartikan bahwa akan menerima perlakuan seperti 1 juta Muslim + Yahudi yang dibersihkan dari Spanyol oleh Gereja.
- Kata
"kafir" terlihat seram karena trauma Eropa terhadap perlakuan yang
dianggap "kafir" oleh Gereja. Kafir berarti boleh disiksa, begitu kata
Gereja dulu.
- Kata "kafir" jadi terlalu seram, karena ini memikul trauma sejarah penyiksaan panjang oleh Gereja.
- Padahal
dalam Islam, kata "kafir" bukan berarti Anda sah untuk disiksa seperti
yang dialami oleh masyarakat Eropa dulu. Tapi Anda terlanjur trauma,
dan trauma ini sudah disebarkan.
- Padahal dalam Islam, Anda tidak perlu trauma. Kata "kafir" dalam Islam itu tidak seram di dunia. Tapi seramnya di akhirat.
- Wajar
memang Barat trauma dgn kata "kafir", kemudian Barat banyak yang
memutuskan untuk jadi Atheis, anti agama, jadi sekuler & liberal.
Karena mereka trauma.
- Trauma terhadap agama yang
dialami orang Barat begitu berat. Ratusan tahun merekan mengalami itu.
Wajar mereka jadi anti agama, eh orang sini malah ikut2an.
- Trauma
sejarah ini yang bikin teman2 non-muslim/kafir ini berat dgn kata
"kafir". Kita harus mereduksi beban sejarah yang dipikul oleh kata
"kafir".
- Yup, anggapan kata "kafir" itu negatif akibat
beban sejarah Eropa yang dianggap kafir oleh Gereja. Berujung
penyiksaan. "Anda kafir maka sah disiksa" itu ketika era Dark Age.
- Sedangkan
Islam tidak seperti itu. Meskipun Muslim meyakini yang di luar itu
kafir, tapi Muslim diwajibkan berbuat baik kepada si kafir.
- Takfir atau mengkafirkan kepada sesama Muslim itu dilarang keras. Kalau mengkafirkan yang jelas kafir ya wajib.
- Kalau saya meyakini orang yang menuhankan selain Allah adalah tidak kafir. Maka seketika itu justru saya jadi ikutan kafir.
- Jadi, buat Non-Muslim kalem aja kalau disebut kafir oleh Muslim. Kalau Anda baik2 saja terus dipukul Muslim, baru jangan kalem.
- Kalau
ada teman Kristen, nanya ke kita: "Saya kafir nggak ?" Jangan ragu
kita untuk menjawab "iya, kamu kafir, tapi tenang gue tetep baik kok".
- Kalian
jangan malah bingung, ngerasa gak enak, dan malah ngejawab "Selama
kamu baik hati, dermawan dan tidak sombong sih gak kafir". | Jangan
begitu. Kasihan dia makin jauh dari kebenaran.
- Apakah
Yahudi, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Atheis, Agnostik dll itu kafir
? Ya iyalah, lha wong bukan Muslim. Syaratnya Muslim itu lantang
mengakui Tiada Tuhan selain Allah & mengakui Muhammad adalah utusan
Allah.
- Sebagai muslim harus PD, jangan bingung ketika
meyakini non-Muslim adalah kafir. Jangan merasa intoleran ketika kalian
meyakini hal itu.
- Istilah Muslim atau Kafir ini adalah wilayah keyakinan (aqidah), tidak ada hubungannya dgn sikap toleran atau tidak toleran.
- Saya
meyakini Non-Muslim itu kafir seperti kata Al-Qur'an, tapi saya
dilarang mencaci-maki si kafir, dilarang mencaci-maki sesembahan si
kafir, dilarang berbuat tidak adil / zhalim pada si kafir.
- Justu jika kalian menganggap dan membenarkan ada Tuhan lain selain Allah, maka seketika kalian akan ikut jatuh dalam kekafiran.
- Ini
soal keyakinan yang gak bisa ditawar oleh siapapun. Non-Muslim itu
kafir. Terkait sikap kita ke orang kafir, itu bab lain lagi.
- Intinya
kalau gak mau kafir lagi ya tinggal ucapkan kalimat sederhana yang
artinya mengakui "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah".
- Saya pernah lihat di kantor PLN ada tulisan
"selain karyawan dilarang masuk". | Biasa aja pembedaan karyawan &
non karyawan, istilah internal-eksternal.
- Mahasiswa
UGM & Non-Mahasiswa UGM. | Biasa aja ini. Jadi apakah Mahasiswa ITB
marah & tersinggung disebut sebagai Non-Mahasiswa UGM ? Tidak kan ?
Biasa ini mah. Internal - eksternal.
- Di Bank ada
istilah nasabah prioritas dan bukan prioritas. Didahului registrasi
(syahadat). Internal prioritas dan eksternal prioritas. Sesederhana
ini.
- Pernah baca kartu keluarga ? Kenapa gak semua
orang dimasukkan ? Karena ada internal dan eksternal keluarga. Mana
saja yang keluarga dan mana saja yang bukan keluarga.
- Dewasalah dgn istilah kafir ini: 1.) Ini istilah ekslusif Islam 2.) Ini cuma soal internal-eksternal.
- Suku2 di Indonesia juga mengenal internal-eksternal; Suku Jawa, Sunda, Badui, Batak, Dayak dll. Biasa aja ini mah.
- Apakah istilah karyawan & non karyawan di PLN akan merusak Bhinneka Tunggal Ika ? Kok aneh sih.
- Apakah istilah Mahasiswa UGM & Non-Mahasiswa UGM akan merusak Bhinneka Tunggal Ika ? Ya enggaklah.
- Jadi
jangan mempermasalahkan internal-eksternal. Jangan kekanak-kanakan,
biasa aja. Tentu saja bermasalah jika kamu berpikir ini masih zaman
gelapnya Gereja Eropa.
- Dulu di era Gereja Eropa, benar bahwa kafir sah disiksa & dibunuh. Di Islam gak ada istilah seperti itu. Kalem aja.
- Lupakanlah
persepsi "kafir maka sah disiksa & dibunuh". Itu persepsi Gereja
di era Dark Age (Eropa). Trauma persepsi Eropa diekspor kemana2.
- Bukalah pikiran, pancarkanlah kedamaian, jangan cupet dgn istilah internal-eksternal.
- Damaikanlah
pikiran Anda, jangan lebay menanggapi adanya istilah ini. Masa cuma
gara2 Islam punya istilah ini lantas Anda mau perangi ?
- Gak usah emosi dgn istilah "kafir", damaikan pikiran Anda, jangan merusak Bhinneka Tunggal Ika. Ini istilah sederhana aja.
- "Kafir" itu kosa kata Al-Qur'an milik internal Islam untuk mengklasifikasikan orang di luar Islam. Sesederhana itu.
- Yup,
seperti orang Indonesia punya istilah WNI dan WNA untuk mengklasifikan
orang internal atau eksternal. Dalam Islam istilahnya: muslim dan
kafir.
- Warga internal Indonesia disebut WNI , warga internal Islam disebut muslim.
- Warga eksternal Indonesia disebut WNA, warga eksternal Islam disebut kafir. Sesederhana itu.
- Sebagaimana ada perbedaan hak dan kewajiban antara WNI dan WNA, maka ada perbedaan hak dan kewajiban antara muslim dan kafir.
- WNA ada larangan jadi PNS. | Laki-laki kafir ada larangan untuk menikahi wanita muslim.
- Karena
WNA tidak boleh jadi PNS maka apa si WNA boleh kita zhalimi ? Gak
boleh. | Karena si kafir gak boleh menikahi muslimah, maka apa si kafir
boleh dizhalimi ? Gak boleh.
- Meski ada istilah WNI dan
WNA, namun WNI tetap harus berlaku baik terhadap WNA. | Meski ada
istilah muslim dan kafir, namun muslim wajib berbuat baik pada si kafir.
- Kalau
WNAnya menzhalimi atau memerangi WNI ? Baru boleh diperangi. | Kalau
kafirnya memerangi muslim ? Baru boleh diperangi. Sesederhana itu, gak
perlu pusing.
- Kenapa harus sewot dgn istilah "kafir" ? Apa orang asing sewot dgn istilah "WNA" ?
- Kalau si WNA nya ini baik, dermawan, jujur apa masih tetap disebut WNA ? Iya lah.
- Kalau si kafirnya ini melakukan kebaikan seperti dermawan, jujur, santun harus tetap dianggap kafir ? Iya lah.
- Karena
istilah WNI dan WNA bukan soal dermawan dan baik hati, tapi soal
internal - eksternal Indonesia. Begitu juga soal muslim - kafir.
- Sebaik2nya
WNA tidak mengubah statusnya menjadi WNI. Karena ini cuma tentang
internal - eksternal. | Sebaik2nya kafir tidak mengubah statusnya
menjadi muslim.
- Gimana cara WNA bisa jadi WNI ? Bukan
dengan menjadi jujur, baik hati, dan tidak sombong, tapi harus mengurus
administrasi yang disyaratkan jadi WNI.
- Sebagaimana WNA
mau disebut WNI ada prosdurnya, maka jika orang kafir mau disebut
muslim juga ada prosedurnya. | Apakah syaratnya dengan menjadi jujur dan
baik hati ? Bukan itu.
- Terus gimana supaya seorang kafir disebut muslim ? Prosedurnya ya syahadat.
- Kalau
ada WNA bilang "kan saya jujur dan baik hati, kenapa saya masih
dibilang WNA ?" | Maka jelas ini WNA yang bodoh, gak ngerti cara jadi
WNI.
- Begitupun kalau ada yang bilang "si A ini kan
dermawan, kenapa gak bisa disebut muslim ?" | Yang bicara ini adalah
kaum yang tidak mengerti.
- WNA yang ikut campur tentang
aturan internal Indonesia tentang WNI dan WNA adalah WNA yang bodoh.
Termasuk jika ada kafir yang ikut campur tentang definisi kafir yang
dibuat oleh Al-Qur'an.
- Sedermawan-dermawannya orang kafir bahkan jika dia hibahkan harta sepenuh bumi, itu tidak akan mengubah status kekafirannya.
- Sebaik-baiknya amal seorang kafir, itu tidak akan mengubah status kekafirannya selama dia tidak bersyahadat.
- Sedermawan-dermawannya seorang WNA, tidak mengubah statusnya sebagai WNA. | Karena WNI - WNA bukan soal dermawan atau tidak.
- "Lha
itu kan si WNA udah berjasa untuk banyak manusia Indonesia ? Kok gak
bisa disebut WNI ?" | Karena WNI dan WNA bukan soal berjasa atau tidak.
- WNI dan WNA soal status kewarganegaraan, sama halnya dgn muslim dan kafir, ini soal status "kewarganegaraan".
- Sejahat2nya
WNI tidak mengubah statusnya jadi WNA. Dan sejahat2nya tindakan muslim
tidak mengubah statusnya jadi kafir, kecuali mengerjakan amal
kekafiran.
- Di dunia, status muslim - kafir mirip dgn WNI - WNA. Di akhirat yang gak mirip, berbeda sekali.
- Apakah WNI boleh memaksa WNA jadi WNI ? Gak boleh. | Sama, muslim pun gak boleh maksa kafir jadi muslim.
- WNI wajib berbuat baik kepada WNA, muslim juga wajib berbuat baik kepada si kafir.
- Boleh
gak WNI bergaul dan bekerjasama dgn WNA dalam urusan kebaikan ? Bisnis
misalnya ? Tentu boleh. | Sama, muslim pun juga diperbolehkan
bekerjasama dgn kafir dalam urusan kebaikan.
- Dalam soal
keadilan hukum apakah WNI dan WNA punya hak yang sama ? Iya. |
Begitupun dgn muslim dan kafir, soal keadilan muslim dan kafir punya
keadilan yang sama.
- WNI memandang WNA sebagai manusia. |
Muslim juga memandang kafir sebagai manusia. | Beda dgn Yahudi yang
memandang orang2 di luar Yahudi sebagai binatang.
- Sama juga ketika dulu orang2 kulit putih memandang kulit hitam sebagai binatang atau manusia yang belum selesai evolusinya. #DarwinismeSosial
- Terhadap perlakuan di dunia, kafir gak usah khawatir dgn status kafirnya. WNA juga gak perlu khawatir dgn status WNAnya.
- Yang
harus dikhawatirkan dari kekafiran adalah kehidupan setelah kematian,
juga dampak kehidupan dunia jika tidak hidup dgn aturan Islam.
- Terkait perlakuan muslim akibat status kekafiran sih gak usah dikhawatirkan, ini seperti WNI dan WNA aja kok.
- Yang
seharusnya dikhawatirkan oleh si kafir itu bukan soal perlakuan muslim
terhadap kafir, tapi kenapa kok kamu bisa sampai kafir + dampak
kehidupanmu akibat tidak diatur oleh Islam. Itu yang harus dikhawatirkan
dan dipusingkan.
- Apakah WNI akan otomatis jadi WNA ketika memaksa WNA jadi WNI ? Gak lah, WNI dan WNA bukan tentang maksa-memaksa.
- Jadi
gak usah pusing dgn istilah muslim - kafir karena sebab diskriminasi,
yang harus dipusingkan adalah hidup tanpa aturan Islam dan hidup
setelah mati.
- Gak usah memusingkan dampak perlakuan
muslim, karena dalam pergaulan pun sikap muslim ke kafir nyaris gak ada
beda dgn sikap muslim ke muslim.
- Yang harus dipusingkan dari kekafiran adalah kenapa kok bisa meyakini kekafiran, bukankah hal tsb bikin konflik di akal ?
- Kenapa
Tuhan ada 3 ? Kenapa manusia yang lemah dan tidak tahu kok sekaligus
jadi Tuhan Yang Maha Kuat dan Maha Mengetahui ? Ini kontradiktif.
- Jadi yang harus dipusingkan adalah "kok bisa2nya akal menerima gagasan kekafiran yang isinya berserakan kontradiksi dimana2 ?"
- Tidak
usah emosi dgn klasifikan internal Islam: muslim dan kafir. Tinggal
dirasakan aja Muslim menzhalimimu atau tidak. Kalau zhalim ya hukum
saja.
- "WNI - WNA" "Yahudi - ghoyim" "Kristen - domba
tersesat" "Muslim - kafir". | Selama WNI gak zhalim ke WNA, apa
masalahnya ? Sesederhana ini kok pusing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar