Minggu, 31 Januari 2016

Muslim - Kafir Adalah Istilah Internal - Eksternal

  • Tidak perlu emosi & pusing dgn definisi internal Islam tentang kafir. Padahal sedikitpun saya gak masalah dgn istilah "domba tersesat" "ghoyim" dst.
  • Kristen menyebut orang luar dgn "domba tersesat". | Yahudi menyebut orang luar dgn "ghoyim". | Indonesia menyebut orang luar sbg "WNA". | Apa masalahnya ?
  • Silahkan saja Yahudi menyebut orang luar Yahudi dgn istilah apa saja. Asal si Yahudi gak menzhalimi orang di luar Yahudi tsb. Gitu aja kan ? Simple.
  • Apakah gpp pakai produk buatan kafir ? Sama aja pertanyaannya dengan apakah gpp pakai produk buatan WNA padahal kita WNI ?
  • Disebut "anathema", disebut "domba tersesat", gak masalah. Asal sikap si Kristen baik & gak zhalim ke yang mereka sebut anathema atau domba tersesat tsb.
  • Status WNA dan WNI bukan soal dermawan atau tidak dermawan. Ini soal status: internal - eksternal.
  • Sejahat2nya WNI tidak otomatis membuatnya jadi WNA. Sebaik2nya WNA tidak otomatis membuatnya jadi WNI.
  • Jadi, non-Muslim tidak perlu tersinggung diyakini kafir oleh Muslim, yang terpenting Anda kan tidak dizhalimi oleh si Muslim. Terus apa masalahnya ?
  • Muslim meyakini kafir masuk neraka, apa masalahnya ? Kan Anda gak percaya dengan apa yang diyakini Muslim. Betul kan ?
  • Anda meyakini jalan selamat itu dgn menuhankan Yesus. Apa masalahnya ? Silahkan saja. Itu kan keyakinan Anda.
  • Muslim meyakini yang menuhankan selain Allah itu kafir. Ini keyakinan Muslim. | Anda gak percaya ya gpp. Apa masalahnya ?
  • Kristen meyakini saya sebagai "domba tersesat" gak masalah. | Yang masalah itu kalau Anda paksa saya mengimani apa yang Anda imani.
  • Kalau Anda meyakini orang di luar Kristen itu tidak selamat, yakinilah itu. Jangan mencla-mencle dgn mengatakan "semua selamat".
  • Saya sebagai Muslim, tidak peduli dgn ajaran agama lain yang punya istilahnya sendiri untuk menyebut orang di luar agamanya.
  • Saya gak merasa mereka menghina saya jika mereka meyakini bahwa jalan keselamatan itu hanya dgn menuhankan Yesus, sehingga saya dianggap tidak selamat.
  • Bebas2 aja kok saya dianggap apa oleh agama lain; kafir, ghoyim, domba tersesat. Buat saya sih enteng2 aja. Tapi kenapa orang lain pusing dgn definisi Al-Qur'an ?
  • Karena saya tidak menuhankan Yesus, maka saya diyakini mereka sbg orang yang tidak selamat. Gak masalah sama sekali. Kenapa saya harus marah coba ?
  • Tapi kenapa orang non-muslim tersinggung ketika didefinisikan sbg kafir oleh Al-Qur'an ? Trauma adalah jawabannya.
  • Karena saya Muslim, saya gak mungkin membuang ayat2 Al-Qur'an yang mengkafirkan keyakinan penuhanan selain Allah, hanya demi membuat orang lain senang.
  • Tetap berpikir jernih aja. Yang non-muslim jelas kafir. Non-muslim gak perlu tersinggung, masing2 agama kan punya keyakinan.
  • Hari2 ini masih banyak umat Islam yang merasa bersalah ketika mengkafirkan kekafiran, tapi justru tidak merasa bersalah ketika tidak mengkafirkan kekafiran. Logika jungkir balik.
  • Kenapa harus takut menyebut Kristen itu Kafir ? Meyakini Al-Qur'an kok takut.
  • Salah satu problem umat Islam saat ini: Tidak berani mengkafirkan kekafiran. Kekafiran dianggap tidak ada. Ini bahaya.
  • Kalau bagi Non-Muslim, terminologi "kafir" ini menanggung beban trauma sejarah bersama Gereja. Kata "kafir" terlihat seram bagi mereka.
  • Kata "kafir" diartikan bahwa akan menerima perlakuan seperti 1 juta Muslim + Yahudi yang dibersihkan dari Spanyol oleh Gereja.
  • Kata "kafir" terlihat seram karena trauma Eropa terhadap perlakuan yang dianggap "kafir" oleh Gereja. Kafir berarti boleh disiksa, begitu kata Gereja dulu.
  • Kata "kafir" jadi terlalu seram, karena ini memikul trauma sejarah penyiksaan panjang oleh Gereja.
  • Padahal dalam Islam, kata "kafir" bukan berarti Anda sah untuk disiksa seperti yang dialami oleh masyarakat Eropa dulu. Tapi Anda terlanjur trauma, dan trauma ini sudah disebarkan.
  • Padahal dalam Islam, Anda tidak perlu trauma. Kata "kafir" dalam Islam itu tidak seram di dunia. Tapi seramnya di akhirat.
  • Wajar memang Barat trauma dgn kata "kafir", kemudian Barat banyak yang memutuskan untuk jadi Atheis, anti agama, jadi sekuler & liberal. Karena mereka trauma.
  • Trauma terhadap agama yang dialami orang Barat begitu berat. Ratusan tahun merekan mengalami itu. Wajar mereka jadi anti agama, eh orang sini malah ikut2an.
  • Trauma sejarah ini yang bikin teman2 non-muslim/kafir ini berat dgn kata "kafir". Kita harus mereduksi beban sejarah yang dipikul oleh kata "kafir".
  • Yup, anggapan kata "kafir" itu negatif akibat beban sejarah Eropa yang dianggap kafir oleh Gereja. Berujung penyiksaan. "Anda kafir maka sah disiksa" itu ketika era Dark Age.
  • Sedangkan Islam tidak seperti itu. Meskipun Muslim meyakini yang di luar itu kafir, tapi Muslim diwajibkan berbuat baik kepada si kafir.
  • Takfir atau mengkafirkan kepada sesama Muslim itu dilarang keras. Kalau mengkafirkan yang jelas kafir ya wajib.
  • Kalau saya meyakini orang yang menuhankan selain Allah adalah tidak kafir. Maka seketika itu justru saya jadi ikutan kafir.
  • Jadi, buat Non-Muslim kalem aja kalau disebut kafir oleh Muslim. Kalau Anda baik2 saja terus dipukul Muslim, baru jangan kalem.
  • Kalau ada teman Kristen, nanya ke kita: "Saya kafir nggak ?" Jangan ragu kita untuk menjawab "iya, kamu kafir, tapi tenang gue tetep baik kok".
  • Kalian jangan malah bingung, ngerasa gak enak, dan malah ngejawab "Selama kamu baik hati, dermawan dan tidak sombong sih gak kafir". | Jangan begitu. Kasihan dia makin jauh dari kebenaran.
  • Apakah Yahudi, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Atheis, Agnostik dll itu kafir ? Ya iyalah, lha wong bukan Muslim. Syaratnya Muslim itu lantang mengakui Tiada Tuhan selain Allah & mengakui Muhammad adalah utusan Allah.
  • Sebagai muslim harus PD, jangan bingung ketika meyakini non-Muslim adalah kafir. Jangan merasa intoleran ketika kalian meyakini hal itu.
  • Istilah Muslim atau Kafir ini adalah wilayah keyakinan (aqidah), tidak ada hubungannya dgn sikap toleran atau tidak toleran.
  • Saya meyakini Non-Muslim itu kafir seperti kata Al-Qur'an, tapi saya dilarang mencaci-maki si kafir, dilarang mencaci-maki sesembahan si kafir, dilarang berbuat tidak adil / zhalim pada si kafir.
  • Justu jika kalian menganggap dan membenarkan ada Tuhan lain selain Allah, maka seketika kalian akan ikut jatuh dalam kekafiran.
  • Ini soal keyakinan yang gak bisa ditawar oleh siapapun. Non-Muslim itu kafir. Terkait sikap kita ke orang kafir, itu bab lain lagi.
  • Intinya kalau gak mau kafir lagi ya tinggal ucapkan kalimat sederhana yang artinya mengakui "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".
  • Saya pernah lihat di kantor PLN ada tulisan "selain karyawan dilarang masuk". | Biasa aja pembedaan karyawan & non karyawan, istilah internal-eksternal.
  • Mahasiswa UGM & Non-Mahasiswa UGM. | Biasa aja ini. Jadi apakah Mahasiswa ITB marah & tersinggung disebut sebagai Non-Mahasiswa UGM ? Tidak kan ? Biasa ini mah. Internal - eksternal.
  • Di Bank ada istilah nasabah prioritas dan bukan prioritas. Didahului registrasi (syahadat). Internal prioritas dan eksternal prioritas. Sesederhana ini.
  • Pernah baca kartu keluarga ? Kenapa gak semua orang dimasukkan ? Karena ada internal dan eksternal keluarga. Mana saja yang keluarga dan mana saja yang bukan keluarga.
  • Dewasalah dgn istilah kafir ini: 1.) Ini istilah ekslusif Islam 2.) Ini cuma soal internal-eksternal.
  • Suku2 di Indonesia juga mengenal internal-eksternal; Suku Jawa, Sunda, Badui, Batak, Dayak dll. Biasa aja ini mah.
  • Apakah istilah karyawan & non karyawan di PLN akan merusak Bhinneka Tunggal Ika ? Kok aneh sih.
  • Apakah istilah Mahasiswa UGM & Non-Mahasiswa UGM akan merusak Bhinneka Tunggal Ika ? Ya enggaklah.
  • Jadi jangan mempermasalahkan internal-eksternal. Jangan kekanak-kanakan, biasa aja. Tentu saja bermasalah jika kamu berpikir ini masih zaman gelapnya Gereja Eropa.
  • Dulu di era Gereja Eropa, benar bahwa kafir sah disiksa & dibunuh. Di Islam gak ada istilah seperti itu. Kalem aja.
  • Lupakanlah persepsi "kafir maka sah disiksa & dibunuh". Itu persepsi Gereja di era Dark Age (Eropa). Trauma persepsi Eropa diekspor kemana2.
  • Bukalah pikiran, pancarkanlah kedamaian, jangan cupet dgn istilah internal-eksternal.
  • Damaikanlah pikiran Anda, jangan lebay menanggapi adanya istilah ini. Masa cuma gara2 Islam punya istilah ini lantas Anda mau perangi ?
  • Gak usah emosi dgn istilah "kafir", damaikan pikiran Anda, jangan merusak Bhinneka Tunggal Ika. Ini istilah sederhana aja.
  • "Kafir" itu kosa kata Al-Qur'an milik internal Islam untuk mengklasifikasikan orang di luar Islam. Sesederhana itu.
  • Yup, seperti orang Indonesia punya istilah WNI dan WNA untuk mengklasifikan orang internal atau eksternal. Dalam Islam istilahnya: muslim dan kafir.
  • Warga internal Indonesia disebut WNI , warga internal Islam disebut muslim.
  • Warga eksternal Indonesia disebut WNA, warga eksternal Islam disebut kafir. Sesederhana itu.
  • Sebagaimana ada perbedaan hak dan kewajiban antara WNI dan WNA, maka ada perbedaan hak dan kewajiban antara muslim dan kafir.
  • WNA ada larangan jadi PNS. | Laki-laki kafir ada larangan untuk menikahi wanita muslim.
  • Karena WNA tidak boleh jadi PNS maka apa si WNA boleh kita zhalimi ? Gak boleh. | Karena si kafir gak boleh menikahi muslimah, maka apa si kafir boleh dizhalimi ? Gak boleh.
  • Meski ada istilah WNI dan WNA, namun WNI tetap harus berlaku baik terhadap WNA. | Meski ada istilah muslim dan kafir, namun muslim wajib berbuat baik pada si kafir.
  • Kalau WNAnya menzhalimi atau memerangi WNI ? Baru boleh diperangi. | Kalau kafirnya memerangi muslim ? Baru boleh diperangi. Sesederhana itu, gak perlu pusing.
  • Kenapa harus sewot dgn istilah "kafir" ? Apa orang asing sewot dgn istilah "WNA" ?
  • Kalau si WNA nya ini baik, dermawan, jujur apa masih tetap disebut WNA ? Iya lah.
  • Kalau si kafirnya ini melakukan kebaikan seperti dermawan, jujur, santun harus tetap dianggap kafir ? Iya lah.
  • Karena istilah WNI dan WNA bukan soal dermawan dan baik hati, tapi soal internal - eksternal Indonesia. Begitu juga soal muslim - kafir.
  • Sebaik2nya WNA tidak mengubah statusnya menjadi WNI. Karena ini cuma tentang internal - eksternal. | Sebaik2nya kafir tidak mengubah statusnya menjadi muslim.
  • Gimana cara WNA bisa jadi WNI ? Bukan dengan menjadi jujur, baik hati, dan tidak sombong, tapi harus mengurus administrasi yang disyaratkan jadi WNI.
  • Sebagaimana WNA mau disebut WNI ada prosdurnya, maka jika orang kafir mau disebut muslim juga ada prosedurnya. | Apakah syaratnya dengan menjadi jujur dan baik hati ? Bukan itu.
  • Terus gimana supaya seorang kafir disebut muslim ? Prosedurnya ya syahadat.
  • Kalau ada WNA bilang "kan saya jujur dan baik hati, kenapa saya masih dibilang WNA ?" | Maka jelas ini WNA yang bodoh, gak ngerti cara jadi WNI.
  • Begitupun kalau ada yang bilang "si A ini kan dermawan, kenapa gak bisa disebut muslim ?" | Yang bicara ini adalah kaum yang tidak mengerti.
  • WNA yang ikut campur tentang aturan internal Indonesia tentang WNI dan WNA adalah WNA yang bodoh. Termasuk jika ada kafir yang ikut campur tentang definisi kafir yang dibuat oleh Al-Qur'an.
  • Sedermawan-dermawannya orang kafir bahkan jika dia hibahkan harta sepenuh bumi, itu tidak akan mengubah status kekafirannya.
  • Sebaik-baiknya amal seorang kafir, itu tidak akan mengubah status kekafirannya selama dia tidak bersyahadat.
  • Sedermawan-dermawannya seorang WNA, tidak mengubah statusnya sebagai WNA. | Karena WNI - WNA bukan soal dermawan atau tidak.
  • "Lha itu kan si WNA udah berjasa untuk banyak manusia Indonesia ? Kok gak bisa disebut WNI ?" | Karena WNI dan WNA bukan soal berjasa atau tidak.
  • WNI dan WNA soal status kewarganegaraan, sama halnya dgn muslim dan kafir, ini soal status "kewarganegaraan".
  • Sejahat2nya WNI tidak mengubah statusnya jadi WNA. Dan sejahat2nya tindakan muslim tidak mengubah statusnya jadi kafir, kecuali mengerjakan amal kekafiran.
  • Di dunia, status muslim - kafir mirip dgn WNI - WNA. Di akhirat yang gak mirip, berbeda sekali.
  • Apakah WNI boleh memaksa WNA jadi WNI ? Gak boleh. | Sama, muslim pun gak boleh maksa kafir jadi muslim.
  • WNI wajib berbuat baik kepada WNA, muslim juga wajib berbuat baik kepada si kafir.
  • Boleh gak WNI bergaul dan bekerjasama dgn WNA dalam urusan kebaikan ? Bisnis misalnya ? Tentu boleh. | Sama, muslim pun juga diperbolehkan bekerjasama dgn kafir dalam urusan kebaikan.
  • Dalam soal keadilan hukum apakah WNI dan WNA punya hak yang sama ? Iya. | Begitupun dgn muslim dan kafir, soal keadilan muslim dan kafir punya keadilan yang sama.
  • WNI memandang WNA sebagai manusia. | Muslim juga memandang kafir sebagai manusia. | Beda dgn Yahudi yang memandang orang2 di luar Yahudi sebagai binatang.
  • Sama juga ketika dulu orang2 kulit putih memandang kulit hitam sebagai binatang atau manusia yang belum selesai evolusinya. #DarwinismeSosial
  • Terhadap perlakuan di dunia, kafir gak usah khawatir dgn status kafirnya. WNA juga gak perlu khawatir dgn status WNAnya.
  • Yang harus dikhawatirkan dari kekafiran adalah kehidupan setelah kematian, juga dampak kehidupan dunia jika tidak hidup dgn aturan Islam.
  • Terkait perlakuan muslim akibat status kekafiran sih gak usah dikhawatirkan, ini seperti WNI dan WNA aja kok.
  • Yang seharusnya dikhawatirkan oleh si kafir itu bukan soal perlakuan muslim terhadap kafir, tapi kenapa kok kamu bisa sampai kafir + dampak kehidupanmu akibat tidak diatur oleh Islam. Itu yang harus dikhawatirkan dan dipusingkan.
  • Apakah WNI akan otomatis jadi WNA ketika memaksa WNA jadi WNI  ? Gak lah, WNI dan WNA bukan tentang maksa-memaksa.
  • Jadi gak usah pusing dgn istilah muslim - kafir karena sebab diskriminasi, yang harus dipusingkan adalah hidup tanpa aturan Islam dan hidup setelah mati.
  • Gak usah memusingkan dampak perlakuan muslim, karena dalam pergaulan pun sikap muslim ke kafir nyaris gak ada beda dgn sikap muslim ke muslim.
  • Yang harus dipusingkan dari kekafiran adalah kenapa kok bisa meyakini kekafiran, bukankah hal tsb bikin konflik di akal ?
  • Kenapa Tuhan ada 3 ? Kenapa manusia yang lemah dan tidak tahu kok sekaligus jadi Tuhan Yang Maha Kuat dan Maha Mengetahui ? Ini kontradiktif.
  • Jadi yang harus dipusingkan adalah "kok bisa2nya akal menerima gagasan kekafiran yang isinya berserakan kontradiksi dimana2 ?"
  • Tidak usah emosi dgn klasifikan internal Islam: muslim dan kafir.  Tinggal dirasakan aja Muslim menzhalimimu atau tidak. Kalau zhalim ya hukum saja.
  • "WNI - WNA" "Yahudi - ghoyim" "Kristen - domba tersesat" "Muslim - kafir". | Selama WNI gak zhalim ke WNA, apa masalahnya ? Sesederhana ini kok pusing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar