- Menunggangi agama untuk politik berbeda dengan menunggangi politik untuk agama.
- Menunggangi agama untuk politik yaitu agama cuma jadi tunggangan, padahal biasanya anti terhadap nilai agama. Contohnya mendadak pakai jilbab pas jadi Cagub.
- Menunggangi politik untuk agama yaitu memenangkan politik untuk melarang pornografi, untuk mensejahterakan masyarakat, untuk melarang maksiat dll.
- “Menunggangi agama untuk politik” itu memanfaatkan simbol2 agama sekedar untuk pencapaian politik. Contoh: mendadak pakai jilbab saat jadi Cagub, mendadak pakai sorban saat jadi Capres.
- Beda dengan “menunggangi politik untuk agamanya” | Politik dijadikan bagian dari ibadahnya.
- Menunggangi agama untuk politik itu biasanya mengumbar simbol2 Islam, ayat2, dsb untuk meraih politik.
- Sedangkan yang menunggangi politik untuk Islam itu gak gembar-gembor simbol, namun misi2 Islam terlaksana melalui politik.
- PKS mendukung UU anti pornografi, tapi minim ngobral ayat saat berargumen di Parlemen, ini yang namanya menunggangi politik untuk agama.
- Ada yang mati2an menolak UU pornografi tapi tiba2 pakai jilbab saat jadi Cagub. Agama tiba2 jadi simbol untuk membohogi kaum muslimin. Ini yang namanya menunggangi agama untuk politik.
- Caleg perempuan PKS pakai jilbab sudah dari dulu. Mau jadi Caleg atau enggak, jilbab sudah jadi sikap. Mereka bukan mendadak pakai jilbab biar dipilih.
- Beda dengan yang menunggangi agama, sudah kalah di Pilkada Gubernur ya dicopot jilbabnya, balik lagi anti Islam. Ini yang namanya politisasi agama, ini yang namanya jualan agama.
- Yang menunggangi atau jualan agama biasanya mengedepankan simbol, tapi tak satu pun misi Islam dibawanya, dan justru anti Islam.
- Sedangkan yang menunggangi politik untuk Islam biasanya justru minim simbol2 Islam, tapi full dengan misi Islam.
- Bedakan antara: "menunggangi agama untuk politik" dengan "menunggangi politik untuk agama" | Dan yang diserang biasanya yang terakhir.
- Cagub yang tiba2 memakai simbol jilbab untuk raih suara, Capres yang tiba2 memakai sorban untuk raih suara, aman dari tuduhan jualan agama. Padahal ini yang namanya jualan agama.
- Sedangkan yang biasanya dituduh "jualan agama" adalah yang "menunggangi politik untuk misi agama" | Karena aktivitas ini mengusik kebathilan.
- Kader PKS yang perempuan pakai jilbab, baik mereka Caleg apa bukan. | Mereka gak mendadak pakai jilbab demi meraih suara saat Pilgub.
- Jadi yang jualan agama justru partai2 sekuler, mereka anti terhadap Islam tapi mendadak jualan simbol Islam untuk dapat suara.
- Ada partai sekuler yang anti banget sama Islam, anti UU zakat, anti UU pornografi, ehh Cagubnya mendadak pakai jilbab, Capresnya mendadak pakai sorban. :D
- “Menunggangi agama untuk politik/kekuasaan” dan “menunggangi politik/kekuasaan untuk agama”, bisa dilihat dan dipahami bedanya ?
- Tuduhan munafik , jualan agama lebih pas disematkan pada partai2 sekuler yang biasanya anti agama tapi ujug2/mendadak pakai simbol agama saat kampanye.
- Tiba2 Cagub partai sekuler mendadak menyumbang untuk Masjid, padahal biasanya anti Masjid. Ini jualan agama.
- Tiba2 Capres partai sekuler mendadak bicara kemerdekaan Palestina, nyatanya Hamas mau bangun kantor cabang di Indonesia aja gak diizinin. Ini jualan agama saat kampanye dulu.
- Caleg PKS yang perempuan mah biasa pakai jilbab, ke Masjid itu sudah hal rutin. Sehingga jadi Caleg atau bukan, aktivitas wajib tsb tetap biasa dilakukan.
- Jadi yang jualan agama sebenarnya partai2 sekuler, mereka anti agama tapi sering jualan simbol agama. :D
- Si Capres partai sekuler ini mendadak sorban, mendadak imam sholat, mendadak umroh, mendadak Palestina, mendadak yasinan, mendadak tahlilan, mendadak Al-Fatihah, mendadak sorban. Sekarang Islam dikebiri. PKI, syiah, JIL dkk justru dikasih panggung. :D
- Yang membawa kebaikan agama jadi konstitusi sih bukan jualan agama namanya, tapi pejuang agama.
- Sehari2nya anti Islam, anti kebaikan Islam masuk konstitusi tapi mendadak pakai simbol Islam saat kampanye, ini yang namanya penjual agama.
- Sangat jelas dan ekstrim bedanya antara yang penjual Islam dengan pejuang Islam.
- Penjual agama itu partai yang menolak UU jaminan produk halal, tapi Cagubnya mendadak pakai jilbab untuk dapat suara.
- Sedangkan pejuang Islam itu yang gak koar2 soal simbol Islam tapi gigih merperjuangkan UU jaminan produk halal.
- Kalau orasi pakai takbir jualan agama gak ? Kami terbiasa bertakbir, ini irama yang mengiringi gerak kami di seluruh bidang, walau dalam ranah politik atau bukan.
- Sudah bisa dipahami ya bedanya penjual agama demi politik dan pejuang agama yang memanfaatkan politik ?
- Jangan plonga-plongo mendengar kata2 "PKS jualan agama", coba direnungkan, baca argumen pembanding, komparasi, pilah-pilih. #berpikir
- Kalau terminologinya "jualan agama", harusnya Cagub anti agama yang mendadak pakai jilbab lah yang Anda serang, Capres yang mendadak pakai sorban lah yang Anda serang. :D
- Politisasi Islam sangat jauh berbeda dengan Islamisasi politik.
- Mendadak pakai jilbab saat jadi Cagub padahal anti Islam, ini namanya politisasi Islam.
- Mendukung UU jaminan produk halal, ini namanya Islamisasi politik
- Islamisasi politik dan politisasi Islam itu jauh berbeda niatnya apalagi hasilnya.
- Yang politisasi Islam jelas akan menghadang setiap usaha Islamisasi politik.
- Pelaku "politisasi islam" akan berlawanan dengan pelaku "Islamisasi politik".
- Saya kasih contoh, gambar tengah adalah saat menolak UU anti pornografi dan pornoaksi. | Sedangkan gambar atas dan bawah adalah saat kampanye. Mendadak berkerudung.

- Ini aksi saat acara demo penolakan UU anti pornografi.

- Ini yang saya maksud politisasi Islam. | Agenda Parlemen berbeda dengan saat kampanye.

- Gamblang kan bedanya "politisasi Islam" dan "Islamisasi politik" ? Komparasikan saja.

Mendadak sorban

Mendadak imam sholat.

Mendadak umroh. Kain ihromnya terbalik.
- Itu yang namanya jualan agama. Agama dijadikan alat jualan kampanye untuk dapat suara.
- Contoh lagi, beda antara "politisasi Islam" dan "Islamisasi politik"

Bisa dipahami bedanya ?
- PKS vs PDIP, Pro Kontra Protokol Anti Penistaan Agama http://t.co/XpWUrxFyeW | | Islamisasi politik VS politisasi Islam.
- Jangan ketuker ya antara politisasi Islam dan Islamisasi politik.
- Mendadak shalat, mendadak jilbab, mendadak sorban, mendadak Palestina pas kampanye, terus dilupakan dan ditinggalkan setelah selesai kampanye, ini namanya politisasi Islam. Jualan agama.
- Memimpin rapat supaya ditetapkan anggaran jilbab untuk Polwan, ini namanya Islamisasi politik.
- Yang disebut kedok Islam untuk politik itu yang mendadak berjilbab pas kampanye, mendadak bersorban pas kampanye, mendadak beredar video dan foto sedang shalat pas kampanye.
- Bedakan antara "politisasi Islam" (mendadak jilbab pas kampanye) dan Islamisasi politik (menetapkan anggaran jilbab untuk Polwan).
- Bedakan antara "politisasi Islam" (mendadak umroh) dan Islamisasi politik (bikin kebijakan yang mempermudah umroh dan haji).
- Mendadak jilbab pas kampanye terus copot lagi setelah kampanye. Ini praktek menjadikan syiar Islam jadi kedok politik.
- Beda antara “politisasi Islam” (menjadikan Islam kedok) dan “Islamisasi politik” (menjadikan politik sebagai cara menegakkan Islam.
- Jadi kalau paham bedanya politisasi Islam (kedok) dan Islamisasi politik (pejuang), maka pasti bisa jernih, dan tahu siapa yang harus dibela.
- Bedakan juga "politisasi rakyat" (ngomongin nasib rakyat pas kampanye terus habis kampanye rakyat dibunuh) dengan rakyatisasi politik.
- Sekuler atau pemisahan agama dan politik ini gak cocok untuk Indonesia, buktinya sudah 70 tahun dipimpin sekuler makin terpuruk aja.
- Ketika sekuler gagal yang disalahin orangnya, sedangkan kalau ada aktivis Islam tergelincir yang dituduh Islamnya.
- Clear ya, tuduhan berkuasa dengan kedok Islam lebih tepat disematkan pada yang "mendadak Islami" pas kampanye.
- Hanya demi kekuasaan rela pakai jilbab pas kampanye, rela pakai sorban pas kampanye, habis kepilih dibuang dan ditinggalkan. Ini menjadikan Islam cuma sebagai kedok kekuasaan.
- Padahal waktu debat Capres bilangnya mendukung Palestina merdeka, dan mengusir Israel.
- Semua janji2 hanya dianggap Jokowi sebagai kebutuhan kampanye untuk meraih kekuasaan.
- Semua janji2 selesai seiring selesainya masa kampanye.
- Yang kasihan adalah seluruh rakyat Indonesia.
- Tapi insya Allah kita nggak dosa ya. Saat Pilpres, kita sudah berjuang sekuat tenaga mengingatkan Indonesia.
- Kalau sudah kita ingatkan tapi tetep nggak percaya, mau gimana lagi ? Kita udah abis2an dan ngos2an ngingetin.
- Tapi kita mau nggak peduli juga nggak bisa. Karena kalau kita nggak peduli, lantas siapa yang mau peduli dengan nasib rakyat yang sudah dibohongi itu ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar