Cerdas dan Kematian
- Kematian datang kepada siapa saja, tidak menggunakan urutan lahir.
- Bertubi2 datang nasehat kematian. Apa yang sudah kita siapkan ?
- Rasulullah menjadikan “mengingat mati” dan “mempersiapkan kematian” sebagai standar kecerdasan.
- Kenapa “mengingat mati” jadi standar kecerdasan ? Dan kenapa semakin tidak mengingat mati dan tidak mempersiapkan kematian maka makin pula tidak cerdas ?
- Karena yang terus ingat mati dan mempersiapkan kematian adalah mereka yang mengerti makna kesementaraan dan kesejatian.
- Sangat dalam sekali makna dibalik standar kecerdasan yang disampaikan oleh Rasulullah.
- Ternyata standar cerdas itu adalah yang paling mengingat dan mempersiapkan kematian.
- Cerdas itu jika logika, berpikir, debat, da’wah, ibadah dst semua dikerjakan dalam rangka mempersiapkan kematian.
- Cerdas bukan yang banyak karyanya, tapi yang karyanya berkorelasi positif terhadap nasib pasca kematian.
- Mengingat kematian jadi standar cerdas juga karena terjadi komparasi antara semunya dunia dan sejatinya akhirat.
- Mempersiapkan
kematian dijadikan Rasulullah sabagai standar cerdas, juga berarti
orang yang tahu positioningnya. Apa itu dunia dan apa itu akhirat.
- Oleh karena itu aktivitas kebaikan dimanapun termasuk di #IndonesiaTanpaJIL sejatinya bukanlah untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri.
- Semangat dalam kebaikan, untungnya untuk diri sendiri. Jika berhenti juga ruginya untuk diri sendiri.
- Sehingga kita tidak perlu merasa bahwa kebaikan membutuhkan kita, tapi kitalah yang butuh dan wajib untuk mengerjakan kebaikan.
- Bukan
da’wah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan da’wah,
karena salah satunya sebagai bukti kecerdasan bahwa kita mempersiapkan
kematian.
- Jika kita dicaci maki, maka apakah kita akan
berhenti berda'wah ? Caci maki di dunia terlalu kecil dan remeh jika
dibanding azab Allah di akhirat.
- Apakah lelahnya melakukan kebaikan akan menghentikan kita ? Lelah di dunia tak sebandingan dgn balasan kebaikan tsb di akhirat.
- Apakah
musibah di dunia akan membuat kita putus asa ? Musibah di dunia tak
sebanding dengan musibah di akhirat. Na'udzubillah mindzalik.
- Semoga Allah menjadikan kita orang2 yang cerdas, mampu berpikir komparatif tentang dunia dan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar