Minggu, 31 Januari 2016

Cerdas dan Kematian

  • Kematian datang kepada siapa saja, tidak menggunakan urutan lahir.
  • Bertubi2 datang nasehat kematian. Apa yang sudah kita siapkan ?
  • Rasulullah menjadikan “mengingat mati” dan “mempersiapkan kematian” sebagai standar kecerdasan.
  • Kenapa “mengingat mati” jadi standar kecerdasan ? Dan kenapa semakin tidak mengingat mati dan tidak mempersiapkan kematian maka makin pula tidak cerdas ?
  • Karena yang terus ingat mati dan mempersiapkan kematian adalah mereka yang mengerti makna kesementaraan dan kesejatian.
  • Sangat dalam sekali makna dibalik standar kecerdasan yang disampaikan oleh Rasulullah.
  • Ternyata standar cerdas itu adalah yang paling mengingat dan mempersiapkan kematian.
  • Cerdas itu jika logika, berpikir, debat, da’wah, ibadah dst semua dikerjakan dalam rangka mempersiapkan kematian.
  • Cerdas bukan yang banyak karyanya, tapi yang karyanya berkorelasi positif terhadap nasib pasca kematian.
  • Mengingat kematian jadi standar cerdas juga karena terjadi komparasi antara semunya dunia dan sejatinya akhirat.
  • Mempersiapkan kematian dijadikan Rasulullah sabagai standar cerdas, juga berarti orang yang tahu positioningnya. Apa itu dunia dan apa itu akhirat.
  • Oleh karena itu aktivitas kebaikan dimanapun termasuk di #IndonesiaTanpaJIL sejatinya bukanlah untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri.
  • Semangat dalam kebaikan, untungnya untuk diri sendiri. Jika berhenti juga ruginya untuk diri sendiri.
  • Sehingga kita tidak perlu merasa bahwa kebaikan membutuhkan kita, tapi kitalah yang butuh dan wajib untuk mengerjakan kebaikan.
  • Bukan da’wah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan da’wah, karena salah satunya sebagai bukti kecerdasan bahwa kita mempersiapkan kematian.
  • Jika kita dicaci maki, maka apakah kita akan berhenti berda'wah ? Caci maki di dunia terlalu kecil dan remeh jika dibanding azab Allah di akhirat.
  • Apakah lelahnya melakukan kebaikan akan menghentikan kita ? Lelah di dunia tak sebandingan dgn balasan kebaikan tsb di akhirat.
  • Apakah musibah di dunia akan membuat kita putus asa ? Musibah di dunia tak sebanding dengan musibah di akhirat. Na'udzubillah mindzalik.
  • Semoga Allah menjadikan kita orang2 yang cerdas, mampu berpikir komparatif tentang dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar