Minggu, 31 Januari 2016

Mendeteksi kontradiksi dalam sebuah pemikiran sesungguhnya tidak terlalu rumit. Jika seseorang meyakini sesuatu, maka ia akan bertindak sejalan dengan keyakinannya. Metode check konsistensi ini sangat ampuh jika digunakan untuk mendeteksi kontradiktifnya logika kaum sepilis.

  • Saya gunakan sebuah soal matematika sebagai contoh: Apakah x^2 / x = x ? (x^2 artinya x pangkat 2)
  • Banyak orang menjawab: "Ya, x^2 / x = x !"
  • Tapi bagi orang yang sudah lulus matkul kalkulus, harusnya paham bahwa persamaan ini inkonsisten di x = 0.
  • Jika x = 0, maka x^2 / x TIDAK SAMA dengan x. Sebab nol dibagi nol tidak sama dengan nol.
  • Inilah cara mendeteksi inkonsistensi. Matematika bukan cuma soal rumus, tapi soal logika berpikir.
  • Untuk mengecheck konsistensi sebuah persamaan, Anda tidak mesti memasukkan ribuan angka sebagai nilai x.
  • Masukkan x = 1, lalu check nilai x^2 / x. Lalu x = 2, x = 3, x = 1000, x = -1, x = -2, dst. Kelamaan !
  • Tapi dgn nalar, kita cukup mengecheck konsistensi persamaan di x = 0. Sehingga ketemu deh inkonsistensinya.
  • Kalau ketemu satu titik saja inkonsistensi, maka persamaan tsb sudah salah. Tidak perlu dicheck seribu titik.
  • Makanya, dalam kalkulus, ada persamaan yang ditulis: f(x) = x^2 / x; x tidak sama dgn 0. Kalau begini, persamaannya benar.
  • Lha kok jadi ngomongin kalkulus ? Sabar, logika memang harus diresapi. :)
  • Menghadapi kaum sepilis kadang memang njelimet. Rujukannya (seolah) banyak. Makanya ada juga yang jatuh mental duluan.
  • Padahal, untuk mengecheck inkonsistensi mereka, mudah saja kok. Tidak mesti mengecheck semua rujukan juga.
  • Sebagai contoh, jika ada yang bicara soal "hormati perbedaan" tapi omongannya begini, jelas kelihatan kontradiksinya.


  • Mereka bilang mereka menghargai perbedaan ? Lihat bahasa mereka. Yang berbeda dgn mereka, maka dicaci maki.

  • Sepilis yang perempuan juga gak kalah kasarnya dgn sepilis yang laki-laki.

  • Yang berbeda dgn mereka, yang dianggap salah oleh mereka, maka akan dilontari dgn kalimat seperti ini.















  • Begitulah mereka, omong kosong jika mereka gembar-gembor menghormati perbedaan. Sebab yang berbeda dgn mereka, seketika akan dicaci maki oleh mereka.
  • Demikian juga kalau ada yang mengaku rasional tapi logikanya begini, jelas banget kontradiksinya.

  • Kita tidak perlu ikuti argumennya yang berpanjang lebar. Kita cukup ambil contoh, maka itu cukup untuk bukti inkonsistensinya mereka.
  • Logika kaum sepilis memang selalu kontradiktif. Mereka ahlinya irasionalitas. Atau lebih tepatnya: tidak berlogika sama sekali.
  • Tidak logis, misalnya, ada mahasiswa baru belajar fiqih sebentar saja sudah bisa memaki Imam Syafi’i.
  • Tidak logis pula kiranya jika ada yang kuliah perbandingan agama 4 semester lalu bilang semua agama benar.
  • Apa mungkin belajar semua agama itu cukup 4 semester ? Kapan risetnya kok bisa menyimpulkan semuanya benar ?
  • Nah, tapi ada juga yang bilang agama Islam pun tak logis. Padahal dia mengaku Muslim. Lhoh, jadi yang gak logis siapa ?
  • Ulil misalnya, mengatakan bahwa azab Allah kepada kaum Nabi Nuh AS sangat berlebihan. Lalu kenapa dia menyembah Allah ?
  • Atau Qur’an-nya yang salah ? Lalu mengapa kadang2 masih merujuk pada Qur’an ?
  • Makin ngotot Ulil berkilah, yang kelihatan inkonsisten justru dia sendiri. Mungkin karena gak belajar Kalkulus.
  • Ada juga yang bilang: "Jangan gunakan perspektif agama sendiri untuk menilai agama lain". | Lalu pakai perspektif apa ?
  • Apa logika seperti itu masuk akal ? Apa kita harus pakai perspektif orang untuk menilai orang lain ? Supaya semuanya benar ?
  • Seorang mahasiswa pernah curhat ke saya bahwa dosennya juga bilang begitu. "Kalau menilai Kristen, gunakan perspektif Kristen".
  • Saya suruh mahasiswa itu untuk bilang ke dosennya: "Kalau Bapak menilai jawaban UTS saya, pakai perspektif saya dong".
  • Maka dengan demikian, semua mahasiswa dapat nilai 100 karena semua jawaban benar menurut perspektif masing2.
  • TETOT !! Logika Pak Dosen inkonsisten. Kelihatan deh kontradiksinya. Gampang kan ? :)
  • Orientalis dulu memang hobi menyerang Qur’an, misalnya, dengan berpegang pada Alkitab.
  • Dalam Qur’an ada cerita soal Nabi Ibrahim AS. Kata orientalis, ceritanya gak akurat.
  • Sebab, menurut mereka, yang akurat itu versi Alkitab. Ya boleh2 aja sih mereka pakai Alkitab sebagai acuan.
  • Masalahnya, di kemudian hari, mereka sendiri yang menyadari bahwa Alkitabnya banyak kontradiksi. TETOT !!
  • Sementara umat Muslim masih lapang2 dada saja dgn Qur’an, sebab Qur’an itu "laa rayba fiihi".
  • "Laa rayba fiihi" ini buat yang beriman loh ya, buat yang mempertanyakan azab Allah kayak Ulil mah gak tau deh. :p
  • Sudah sejak dulu para cendekiawan Muslim mempelajari agama lain dengan perspektif Islam.
  • Contohnya ada Kitab Al-Milal wa al-Nihal karya asy-Syahrastani. Membahas berbagai aliran dan sekte agama.
  • Tapi dalam pembahasan itu, asy-Syahrastani gak pernah bilang "semua agama benar".
  • Beliau meyakini Islam yang haq, yang lainnya bathil. Keimanan beliau konsisten dgn isi bukunya.
  • Beda dong dgn orang2 yang ngotot disebut Muslim tapi kerjaannya nyalahin Islam melulu, mengkritisi Qur’an dll.
  • Beriman tapi sekaligus meragukan ? Atau beriman tapi gonta-ganti perspektif ? Itu kontradiksi namanya coy.
  • Justru aneh jika perspektifnya gonta-ganti. Hanya manusia tak berprinsip yang melakukan hal demikian.
  • Penggunaan perspektif secara konsisten itu biasa dalam dunia akademis.
  • Dan saling mengkritisi perspektif itu biasa. Itulah yang sebenarnya tengah terjadi, tapi kaum sepilis gagal paham.
  • Orang Kristen boleh mengkritisi Islam dgn perspektifnya sendiri. Saya juga boleh dong melakukan sebaliknya ?
  • Menurut saya, kesimpulan soal "perspektif" ini masalah kemalasan berpikir saja.
  • Tidak semua masalah bisa diselesaikan dgn kalimat "itu tergantung perspektif".
  • Perspektif itu sendiri harus dinilai benar-salahnya. Tidak semua bisa diterima sebagai kebenaran.
  • Jadi, ketika orientalis menilai kisah2 dalam Qur’an adalah palsu dgn berpegang pada Alkitab, maka Alkitabnya harus siap dikritisi.
  • Kesimpulannya, kalau hanya untuk membongkar kontradiksi, tidak perlu merunut sampai ke pangkal pemikiran.
  • Semoga kita terhindar dari logika njelimet dan semrawut yang ujung2nya cuma menghasilkan kontradiksi. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar