Minggu, 31 Januari 2016

Jadikan Allah Sebagai Self Control Kita | Kita #Cinta, Kita #Butuh

  • Islam itu membangun sistem self control, dibangun rasa bahwa kita mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan karena Allah.
  • Self control menjadi pertahanan diri utama, dalam Islam disebut ihsan, yakin Allah selalu menyertai kita.
  • Itulah kenapa shalat mencegah seseorang melakukan “fahsyaa” dan “munkar”.
  • Bahkan misalnya ketaatan kita pada orang tua, bukan karena orang tua itu sendiri, tapi karena Allah yang menyuruh.
  • Bahkan ketika kita mencari nafkah, itu bukan karena istri atau anak, tapi sebagai wujud taat karena Allah yang memerintahkan.
  • Bahkan ketika kita taat pada lampu merah, bukan karena taat lampu merah itu sendiri, tapi karena Allah melarang kita melakukan kezhaliman pada orang lain.
  • Saya tidak makan babi bukan karena babi ada cacing pitanya, saya tidak berzina bukan karena takut si perempuan hamil. Semua karena Allah yang melarang saya.
  • Saya tidak minum Miras bukan karena takut mabuk, saya tidak merokok bukan karena takut terserang impotensi, kanker, jantung dst. Semua karena Allah yang melarang saya.
  • Saya disunat bukan karena ingin terhindar dari penyakit. Semua karena Allah yang menyuruh. Inilah Islam, Allah sebagai self control.
  • Kenapa berpuasa ? Karena diperintahkan Allah. Dan kemudian hikmah puasa membuat kita sehat, sehingga akan menambah pemaknaan dari sebuah ketaatan.
  • Kenapa taat pada orang tua ? Bukan karena balas budi. Tapi karena diperintahkan Allah. Dan kemudian alasan balas budi, berbakti dst akan menambah pemaknaan dari sebuah ketaatan.
  • Kenapa gak makan babi ? Bukan karena takut terserang penyakit. Tapi karena Allah yang melarang. Dan kemudian bahwa ada hikmah terkait kesehatan itu menambah rasa taat. Allah Maha Tahu.
  • Apakah Allah memerlukan da'wah kita ? Tidak, manfaat dari da'wah yang kita lakukan, kita sendiri yang merasakan.
  • Saya memilih ikut perintah Allah yang mewajibkan saya da'wah, karena da'wah itu hakikatnya tentang diri kita sendiri, soal orang lain nerima atau gak nerima itu bukan urusan.
  • Apakah Allah butuh puasa kita ? Tidak, karena kita sendiri yang butuh taat dengan menjalankan puasa.
  • Apakah Allah butuh shalat kita ? Tidak, Allah tidak butuh shalat kita, tapi kita yang butuh.
  • Alasan cinta yang membuat kita tidak diam atau malah latah ikut2an teriak: "Allah gak perlu dibela" "Rasulullah gak perlu dibela".
  • Alasan cinta yang membuat kita tidak mau ikut cekikik'an bareng mereka yang hobinya mengolok2 Allah dan Rasulullah. Awoh, astajim dll.
  • Alasan cinta juga yang menyatukan #IndonesiaTanpaJIL, geram dgn sampah masyarakat bernama JIL.
  • Kita geram, terusik, saat mereka mengolok2 Islam.
  • Selain cinta, ada alasan lain mengapa kita perlu membela saat mereka mengolok2 Islam. Alasannya karena kita yang justru butuh membela.
  • Kita butuh membela Allah, Rasulullah, dan Islam, karena justru manfaat pembelaan itu dirasakan oleh kita sendiri.
  • Saat JIL mempropagandakan homoseksualitas, lalu kita diam dan tidak melawannya, tidak membela aturan Allah. Siapa yang rugi ? Kita semua.
  • Saat JIL bilang kenabian Rasulullah rekayasa, sehingga apa yang dibawa oleh Rasul diremehkan. Sehingga kita hidup dalam masyarakat yang meremehkan aturan Allah, maka kita yang rugi.
  • Siapa yang merasakan dampak kerugian, hidup dalam lingkungan yang membenci Allah dan Rasulullah ? Kita sendiri.
  • Jika kita mendiamkan JIL yang mempropagandakan perzinaan dgn dalih suka sama suka, siapa yang rugi ? Ya kita semua, anak2 kita tumbuh di lingkungan pezina.
  • Saat mereka mendatangkan idola2 semacam Lady Gaga dan justru menistakan manusia yang justru seharusnya jadi idola kita (Rasulullah), siapa yang rugi ?
  • Siapa yang akan merasakan kerugiannya akibat kita diam dan tak melakukan pembelaan saat Islam dijauhkan, difitnah, dan diolok2 ?
  • Pembelaan kita terhadap Allah, tidak ada sedikitpun manfaatnya untuk Allah. Tidak bertambah dan tidak berkurang kemuliannya.
  • Allah meminta kita untuk membela-Nya adalah untuk kepentingan kita sendiri. Ini karena Allah sayang sama kita.
  • Ketika kita diam dan tidak melakukan pembelaan, dan bahkan jika seluruh bumi ini kafir, tidak sedikitpun berkurang kemuliaan Allah.
  • Kita sendiri yang akan merasakan manfaat dari pembelaan tersebut. Kenapa kita melakukan melakukan pembelaan ? Karena kita butuh.
  • Apakah orang tua hari ini tidak khawatir dgn anak2 mereka yang tumbuh di lingkungan dgn budaya zina ?
  • Apakah sebagai orang tua tdiak khawatir pemurtadan ala JIL ini menjangkau sekolah2 ? Siapa yang butuh melakukan pembelaan ?
  • Saat penistaan JIL terhadap Rasulullah membuat masyarakat jauh dari model manusia terbaiknya, siapa yang akan rugi ?
  • Generasi muslim jadu jauh dari model manusia terbaik, justru membencinya, dan menikmati ketika manusia terbaik ini dicaci maki. Siapa yang rugi ?
  • Siapa yang akan mengalami kerugian besar, saat Indonesia ini justru kehilangan model manusia terbaiknya, manusia terbaik sampai kiamat. Siapa yang rugi ?
  • Generasi muslim justru hobi mengolok2 dan meragukan model manusia yang seharusnya jadi sebab keunggulannya. Siapa yang rugi ?
  • Muslim kemudian tumbuh di masyarakat yang justru alergi terhadap Islamnya, karena menjadi korban propaganda JIL. Siapa yang rugi ?
  • Ketika Islam tidak menjadi nafas dari negeri ini seperti yang saat ini kita rasakan, justru jadi kerugian besar bagi kita.
  • Kenapa kita harus geram dan membela saat Allah dan Rasulnya diolok2 oleh JIL dan bebek2nya ? Karena kita butuh membela. Kita butuh Indonesia yang nyaman.
  • Bayangkan jika homoseksualitas yang dipropagandakan oleh JIL itu menjadi karakter kolektif di negeri ini ? Maka negeri ini akan jadi tempat maksiat berjama'ah.
  • Kita pasti tidak mau jika anak2 kita tumbuh seperti JIL, orang2 inferior yang nunduk2 di hadapan Barat sambil menggadaikan Islamnya.
  • Keberadaan JIL bukan contoh yang baik bg anak2 kita. JIL adalah manusia2 inferior di hadapan gegap gempita peradaban materialisme Barat.
  • Jadi, kenapa kita harus melakukan pembelaan terhadap Allah dan Rasulullah saat JIL dan bebek2nya menistakannya ? Karena kita #cinta dan butuh
  • Islam memberikan rasa bebas sebebas2nya dari yang bukan Tuhan. Islam juga menolak menuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan.
  • Penuhanan Yesus adalah bentuk kegalauan. Menuhankan manusia.
  • Menuhankan pohon, batu, berhala dst juga bentuk kegalauan. Menuhankan benda2 mati. Sana saja.
  • Islam mengajarkan bahwa makhluk tidak layak jadi alasan. Tiada Tuhan selain Allah.
  • Islam memberikan rasa merdeka dalam hati. Merdeka dari yang bukan Tuhan.
  • Itulah logisnya Islam. Allah adalah self control. Sehingga Islam membebaskan jiwa manusia dari ketundukan kepada yang bukan Tuhan.
  • Kita harus membangkitkan self control tsb di negeri ini.
  • Sebab sistem self control hari2 ini dimusuhi, dibuang, dicibir, ditertawakan sambil terus terjun bebas.
  • Membayangkan seseorang yang sedang terjun bebas tapi ia tidak tahu & tidak sadar bahwa sedang terjun bebas, tapi sambil tertawa terus.
  • Indonesia sedang sakit, namun semua orang dicekok'i untuk makin phobia pada obatnya.
  • Sedang sakit tapi tidak merasa sakit, bahkan obatnya dimusuhi dan dihancurkan.
  • Partai terkorup dipuja, partai terbersih dicaci. Yang barbar dibela, yang santun dibully. #Sakit
  • Yang politisasi agama dipilih, yang Islamisasi politik dihajar. #Sakit
  • Topeng-topeng diberi panggung. Negeri yang tak makin sembuh.
  • Yang telanjang diperbolehkan, yang berjilbab dicibir. #Sakit
  • PR kita membangkitkan negeri ini makin berat, ini pekerjaan sepanjang zaman.
  • Ada apa dengan nalar bangsa yang makin sakit ini ?
  • Anak SMP ngeseks di kelas, partai terkorup dipuja, LGBT & prostitusi diprovokasi, anak SD perkosa anak TK. #NegeriSakit
  • Dalam keburukan kalian makin meniru Barat. Tapi dalam sisi kebaikan, kalian tidak meniru Barat.
  • Semua keburukan Barat diimpor, tapi semua kebaikannya ditinggalkan. Maka jadilah pohon berduri tanpa bunganya.
  • Inilah bedanya Islam dan agama lain, Islam bukan hanya soal ibadah di Masjid.
  • Muslim wajib shalat, muslim juga wajib berpolitik Islam & berekonomi Islam.
  • Meninggalkan shalat ya dosa, politisasi agama ya dosa, berekonomi riba juga dosa. Inilah bedanya Islam dan yang lain.
  • Dampak sekularisme ini luar biasa, dimulai dari pornografi lalu berujung pada praktek seks menyimpang.
  • Agama ditinggalkan, dicibir, dan ditertawakan.
  • Makin hari makin “berkualitas” nilai kehancuran; kualitas mutilasi, kualitas pemerkosaan, kualitas prostitusi dll.
  • Dari Barat yang diimpor zinanya, maboknya, LGBTnya.
  • Yang bagus2 dari Barat justru ditinggalkan. Etos kerjanya, logikanya, kedisiplinannya dst. Jadi deh Indonesia pohon berduri tanpa bunga.
  • Yang telanjang dibela, yang berjilbab dicibir & dicaci maki, di sisi lain sains di negeri ini terus tertinggal. Babak belur semua.
  • Terhadap agama sudah terlanjur anti, sains masih jauh untuk diraih. Malang bener nasib bangsa ini.
  • Agama dijauhi, sains yang masih jauh banget gak dideket2in. Coba bayangkan apa yang terjadi dgn Indonesia ?
  • Yang parah adalah ketika virus sekularisme ikut2an ditebar di Indonesia, maka jadi anti terhadap agama. Padahal sains juga gak diurusin. Ckckck
  • Sejarah Islam adalah argumen yang kuat bahwa agama dan kemajuan sains gak perlu dipertentangkan.
  • Tentang halal-haram, tentang ibadah, tentang sains, tentang jihad, semua adalah turunan dari Tauhid.
  • Anak TK pun sudah merasa dirinya sekedar objek seksual. Agama makin jauh, sains makin gak terkejar. Efek sekularisme.
  • Coba bayangkan apa yang terjadi dgn Indonesia ? Ngomongin agama jadi anti dan alergi, ngurusin sains juga nggak.
  • Sekularisme membuat bangsa ini babak belur. Moral rusak, jiwa terkapar, dan disisi lain sains di negeri ini terus tertinggal. Hancur semua.
  • Agama jauh, Pancasila gak ngerti, sains apalagi. Berat euy PR kita membangkitkan negeri ini.
  • Dan menariknya Islam. Allah jadi alasan semua hal: self control.
  • Karena jika self control dibangkitkan, yaitu membangkitkan rasa bahwa kita mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan karena Allah, maka insya Allah pasti negeri ini akan tersenyum.
  • Dengan ciri Islam yang tidak memisahkan materi dan non materi, fisik dan jiwa, sains dan akhlaq, maka ketinggian itu paripurna.
  • Kenapa negeri ini belum sempat menggarap sains ? Karena masih disibukkan dgn problem2, baik yang ditimbulkan eksternal maupun internal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar